Tas Tertinggal di Taxi

August 16, 2018

 

Siang itu (Senin, 4 Mei 2009) sekitar pukul 14.30, anakku yang kedua, Hanif, pulang dari sekolah dengan taxi. Ia sekolah di “Sekolah Indonesia Singapura” (SIS) kelas empat, tinggi badan 155 cm. Seperti biasanya, ia masuk rumah dengan teriakan lantang “Assalamu ‘alaikum..!” (suara itu yg selalu aku rindukan setiap siang, saat aku pulang sebentar ke rumah untuk makan siang). Lalu dijabat dan diciumnya tangan ibunya, lalu tanganku. Tidak ada yang istimewa terjadi sebenarnya. Ia pun ganti baju, minta makan lalu bermain komputer di kamar hingga kakak perempuannya datang. Setelah itu, biasanya Hanif akan main ke luar dengan teman sebaya tetangga rumah. Kadang diselingi berenang hingga menjelang maghrib. (Setiap maghrib ia punya kewajiban untuk melantunkan adzan atau iqamah di masjid dekat rumah), di kompleks rumah dinas KBRI Singapura.

 

Kejadian menarik terjadi keesokan paginya, ketika hendak berangkat ke sekolah. Hanif mencari-cari tas sekolahnya tapi tidak kunjung ditemukan. Akhirnya, secara spontan, ia tersadar bahwa tas sekolahnya tertinggal di dalam taxi yang dinaikinya kemarin saat pulang dari sekolah. Ketika saya tanya, “kenapa harus gusar? Toh untuk hari ini kan yang perlu dibawa hanya buku-buku pelajaran untuk hari ini saja”. Ia pun menjelaskan bhw semua buku pelajaran dibawa dan dimasukkan ke tasnya kemarin, yang ternyata akhirnya tertinggal di dalam taxi. Tapi, “Kenapa harus dibawa semua?” begitu pertanyaanku selanjutnya. Sebabnya, kata Hanif, “Jadwal pelajaran Hanif hilang, enggak tahu dimana, ya.. udah.. Hanif bawa aja semua buku biar nggak bingung..!” Begitu jawabnya

 

“Mengapa sampai tasmu tertinggal, Mas?” dan “Mengapa semua buku pelajaran dibawa di tas?” Tanyaku. Aku memang membiasakan diri memanggilnya dengan sebutan “Mas”, karena ia mulai protes bila dipanggil “dik”. Menurutnya, ia bukan anak kecil lagi. “Hanif malu sama temen-temen kalo dipanggil “dik”, seperti anak masih kecil”. Begitu protesnya suatu hari. Adapun kepada kakak perempuannya (Ifa, 15 tahun) kami selalu memanggilnya dengan tambahan “Mbak”. Jadi, di rumah ada dua anak yang dipanggil dengan sebutan berbeda, yaitu “Mbak Ifa” dan “Mas Hanif”

 

Dengan cara dan gaya bahasanya sendiri, Hanif menjelaskan bahwa tasnya tertinggal karena lupa, soalnya sehabis minta uang taksi ke “emak” (sebutan untuk Pembantu kami di rumah), langsung masuk rumah. Tapi “kenapa waktu keluar dari taxi, tidak dibawa sekalian tasnya, kok ditinggal?” Begitu pertanyaan Isteriku. Dijawabnya bahwa ia sekedar ingin memberi “jaminan” kepada supir taxi (posisi taxi tepat di depan rumah) bahwa ia tidak akan kabur saat keluar dari taxi. Bahwa ia memang benar-benar mau minta uang untuk bayar taksi, dan kembali lagi ke supir taksi untuk bayar dan sekalian ambil tas yg masih ditinggal.

 

Bagi saya dan isteri, logikanya bisa diterima, meskipun untuk ukuran orang dewasa, sungguh menggelikan. Kami (aku dan isteriku) bisa mengerti dan menghargai niat baiknya. Yang penting, dalam setiap persoalan, bukanlah mempermasalahan penyebabnya semata, tetapi mencari solusi dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Maka, kami pun bereaksi memberikan apresiasi bahwa tujuannya baik, tapi “lain kali jangan sampai lupa. Hanif lupa karena udah tidak fokus, mikirin mau terus main, ya?”

 

Kami pun mencoba berusaha untuk mencari tahu sekiranya tas itu bisa kembali, dengan antara lain menghubungi pihak sekolah agar bisa membantu menelusuri taxi yang ditumpangi Hanif saat itu. Sementar itu, tidak lupa kami tekankan pada Hanif, dengan nasehat yg amat sangat sederhana “Mas, kalo memang tas itu masih rejekimu, Insya Allah pasti kembali”. “Apalagi, Mas Hanif kan selama ini udah jadi anak shaleh, rajin shalat, rajin ke masjid.. nurut sama orang tua.., ya kan?” Hanif hanya mengangguk dengan tatapan mata terkesan belum mengerti. Kami tidak menerangkan lebih lanjut, karena Hanif pun kelihatan tidak gusar dan eksplosif. Hari itu pun berlalu, tidak ada berita mengenai nasib tasnya Hanif yang tertinggal di taxi, sementara Hanif ke sekolah hanya membawa satu buku kosong saja, di masukkan dalam tas lain.

 

Hari berikutnya, sekitar pukul 11.00, isteriku mendapat telpon dari sekolah yang memberitahukan bahwa tasnya Hanif telah diantar oleh supir taxi ke sekolah, dan tasnya pun sudah diambil Hanif. Alhamdulillaah...! Kemudian segera isteriku menelpon supir taksi untuk menyampaikan terima kasih. Sang Sopir taxi, mengaku bernama Mr. Au, menjawab kurang lebih bahwa “Itu merupakan kewajiban saya, Bu, dan tanggung jawab saya untuk memberikan pelayanan kepada penumpang. Saya mohon maaf agak terlambat mengembalikan (padahal baru 2 hari), karena baru menemukannya pagi tadi di jok belakang”.

 

Dalam keadaan seperti itu, tak henti-hentinya rasa syukur kami panjatkan, kami tingkatkan, kami besarkan. Mungkin peristiwanya sangat sepele, tapi hikmahnya banyak. Bahwa ketika kami katakan kepada Hanif untuk tidak gusar dan agar pasrah, bahwa “kalau masih rejeki kita, Insya Allah pasti akan kembali”, sebetulnya kami juga sedang menasehati diri kami sendiri. Kami pun lantas tercenung, bahwa ketika perasaan tidak gundah dan kecewa, ketika rasa pasrah dan lapang dada ditanamkan, ketika persoalan tidak harus menghantui keseharian, solusi pun lantas datang. Tidak sempat terbersit perasaan negatif dalam benak kami berdua, karena prinsip “bila masih menjadi rejeki kita, pasti tas itu akan kembali” ternyata menjadi obat yang manjur untuk tetap dikukuhi dalam menapaki hidup selanjutnya ke depan.

 

 

-------------

 

Comments:

 

Dara Yusilawati Amrullah wah..terharu...hal ini tidak akan mungkin terjadi di jakarta...kalau perlu tukangtaksinya akan berdoa biar tas kita ketinggalan di taksinya hehehe

 

Kiswara Panca Wardhani sepele...tapi sangat menyentuh. Coba dalam keseharian dan dlm pekerjaan kita berlaku demikian. Adem ayem pasti dunia ini.... Singapura gitu lho...

 

Anisah Aini bapak... yang baik..ibu yang baik..supir taksi yang baik...dan Tuhan yang maha baik.

 

Syarifuddin Hadi Allah Maha Adil ya kang..... di jakarta, di singapura.. dimana saja, orang baik hanya untuk orang yang baik .. dan orang jahat hanya untuk yang jahat. Semoga Kang Jat selalu baik agar selalu berada di lingkungan orang yang baik. Amin......

 

Arief Ansostique nice true story.... salam taklim dari Jawa untuk Pak Dhe Djat, Bu Yeni, Mba Ifa dan Mas Hanif. Wassalaam.

 

Abah Fuad waah...hati-2 Djat...emang pulang pergi sendiri...?
berantakan donk buku-2 ilang...?

 

Diah Wulandari Rubianto mmmhhhh...another experience..

 

Achmad Djatmiko Iya Om Adi, masihtetap begitu.. tuh.!

 

Ratna Suminar Priatna waaah.... mas hanif sdh besar ya..berani naik taksi sendiri....alhmdulillah kembali...abim jg prnh mengalami ketnggln sesuatu di restoran...ya kita blng kl msh rezeki ya psti tdk hilang.....

 

Amin Chamin hey hanif sudah besar kali.kalo hanif jalan ke cph,dk nanti kita mampir ke BR dipojok magasin cari jang baru ingatkan jalan-jaln di stoget salam semua

 

Rahardjo Nsr coba ditulis dan dikirim ke pikiran pembaca "HARIAN KOMPAS", dgn harapan semoga hal serupa ditiru oleh para sopir taxi di Indonesia......

 

Mamik Roesdiatmo Satu lagi,cerita keluarga yang indah.......mas hanif,pakde dulu juga begitu......tapi naik becak.....turun becak masuk kamar mainan,....lha becaknya nungguin,belum bayar!

 

Agung Irawadi · 2 mutual friends

pakde!..pakde!.., kalau nakde...ya dulu... blm mbecak!hahaha...
tp; tulisan yg bagus.

 

Aboejoewono Aboeprajitno · 11 mutual friends

itulah rupanya moral kerja orang Singapura, sudah dapat dikatakan menyamai orang Jepang. Acuan yang bagus !!!

 

Ratna Andrea Putri Ardito · 3 mutual friends

Alhamdulillah.....Allahuakbar....

 

NenekMamak Kiagos Mohamed Benar pak, kalo rezeki kita insyaallah akan tetap rezeki kita. Peristiwa itu cuma menjadi jalan cerita...pelajaran yang kita ambil dari peristiwa itu.. Amin

 

Dewi Erowati wah kalo itu di negeri orang sementara kalo di Indonesia setiap orang bergelut untuk kepentingannya sdr. Tapi emang msh byk orang yg mencari nafkah dgn mengharap ridho Alloh so kalo bukan milik kita kembalikan kpd pemiliknya.

 

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now