Menuju Tanah Suci

August 16, 2018

 

“Kalau ingin naik haji, berdo’alah sungguh-sungguh dari sekarang, mumpung kalian masih muda. Insya Allah, pasti dikabulkan” Pesan itu selalu terngiang-ngiang di telingaku, disampaikan dalam berbagai pengajian semasa aku kecil hingga menjadi pelajar sebuah SMA di kampungku dulu (Kebumen), Jawa Tengah. Pesan senada pun sering kudengar pada masa-masa kehidupan selanjutnya, termasuk ketika aku menempuh pendidikan di Semarang (UNDIP).

 

Karena alasan itulah, antara lain, aku pun bertekad untuk bisa naik haji kelak di kemudian hari. Setiap habis shalat, do’a yang tidak lupa aku panjatkan adalah permohonan untuk diberi kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, selain tentu saja meminta maaf untuk kedua orang tua dan mohon perlindungan Allah untuk dimudahkan atas segala urusan, Keinginan pun semakin menjadi-jadi karena seringnya mendengar beragam cerita menakjubkan dari orang-orang yang baru pulang dari Tanah Suci.

 

Akhirnya, keinginan naik haji pun terkabulkan ketika tanggal 4 Januari 2006 sore (sekitar pukul 15.00), aku dan isteriku tengah berada di antara para penumpang sebuah pesawat Boeing dari Frankfurt menuju Jeddah. Sebagian besar penumpang, dari berbagai bangsa, telah memakai pakaian ihram saat itu dengan wajah berseri-seri untuk memenuhi panggilan illahi. Kami tidak bisa lagi membendung keharuan dan kebahagiaan ketika sang pilot kemudian memberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat akan segera mendarat di Bandar Udara Jeddah. Tangis kami meledak tak kuasa menahan luapan syukur dan kebahagiaan.

 

 “Alhamdulillah.. Alhamdulillah..Ya Allah.! Bunda, akhirnya kita sampai juga di Tanah Suci. Kita sampai, Nda…. Kita sampai..!” Kataku berbisik kegirangan sambil merangkul isteri yang terisak-isak menahan tangis bahagia. Betapa tidak, kepergian haji kami seperti sebuah mimpi. Kami berangkat hanya berdua saja, tanpa dibekali dengan berbagai persiapan layaknya calon haji dari Tanah Air. Modal kami yang paling utama adalah “mempertahankan niat” yang terus tertanam di sanubari, sambil menunggu saat yang tepat bagi Allah untuk mengijinkan kami pergi. Hanya Allah yang mengijinkan, bukan harta ataupun kedudukan.

 

Kami berhaji tidak dari Tanah Air, melainkan dari Denmark. Setelah empat tahun bekerja di KBRI Copenhagen, sebulan menjelang akhir tugas untuk mutasi kembali ke Indonesia (Kemlu, Jakarta), tanpa diduga Allah mengijinkan kami berangkat haji. Allah ternyata mengehandaki kepulangan kami ke Tanah air setelah berhaji

 

Masha Allaah. Memang benar apa kata Qur’an, “Bila Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah..!” Demikian halnya yang kami alami.

 

Setibanya di airport Jeddah, kami menarik nafas lega. Duduk di ruang tunggu diantara ribuan jemaah, sambil menanti proses imigrasi Jeddah. Namun demikian, saya dan isteri tak ingin tergesa-gesa, agar cukup waktu untuk sekedar istirahat, menarik nafas lega, merasakan seperti terbebas, lepas dari suatu beban.

 

“Kita duduk istirahat sebentar ya Nda… nggak perlu terburu-buru. Alhamdulillah.. kita udah sampai di Jeddah”. Kataku, yang kemudian dijawab isteriku dengan anggukan kepala. Berkali-kali kami saling pandang tanpa berkata-kata, dengan wajah penuh bahagia dengan bekas airmata yang tak kunjung reda.

 

Masih segar dalam ingatan kami, bahwa keberangkatan kami dari airport Copenhagen menuju Frankfurt dan akhirnya sampai di Jeddah seperti sebuah mimpi. Dengan berbekal dokumen lengkap untuk naik haji, visa haji kami ternyata dipermasalahkan oleh imigrasi Denmark di airport karena dianggap tidak valid. Dalam visa haji kami, yang dikeluarkan oleh Kedubes Arab Saudi di Copenhagen, tertera angka (4 digit) yang bisa diartikan sudah kedaluwarsa. Berbagai cara sudah ditempuh untuk menjelaskan mengenai angka tersebut namun pihak imigrasi Denmark tetap bersikeras bahwa cara pandang mereka benar.

 

Kulihat wajah isteriku sangat tegang dan penuh kekhawatiran, begitu juga beberapa kolega yang mengantar kami ke bandara. Solusi yang ditawarkan adalah, kami dibolehkan terbang ke Frankfurt saja (karena sama-sama negara Scheingen), namun selepas itu mereka tidak menjamin. Solusi itu saya terima, dengan asumsi bahwa semuanya akan saya urus setibanya kami di Frankfurt. Bagiku, yang penting kami bisa meninggalkan Denmark lebih dulu.

 

Sungguh tidak masuk akal, bahwa sebuah visa yang dikeluarkan oleh sebuah kedutaan resmi (Arab Saudi) dipertanyakan validitasnya oleh Imigrasi setempat. Sebetulnya, bisa saja kasus ini saya perkarakan melalui jalur diplomatik, tentunya dengan melibatkan Kedubes Arab Saudi di Copenhagen sebagai pihak yang “diremehkan” oleh Denmark. Tetapi fokus perhatian saya saat itu adalah bagaimana agar kami bisa berangkat sampai ke Tanah Suci.

 

Alah memang Maha Mendengar, tempat kita menyembah dan meminta pertolongan. Aku yakini benar hal itu. Kemudian, setibanya di Frankfurt, saat kulihat semua calon penumpang di bandara hampir semua berpakaian ihram dan putih, hatiku pun semakin yakin bahwa Allah akan memudahkan segala urusanku. Apalagi, urusanku kali ini jelas-jelas untuk memenuhi panggilan-Nya, ke Baitullah.

 

Ketika kutemukan “gate” pesawat berikutnya yang menuju Jeddah, dengan mengucap, “Bismillah.. Ya Allah.. aku mohon pertolongan-Mu..!”, aku pun menerobos kerumunan langsung menemui petugas di counter, menyampaikan permasalahanku. Isteriku kuajak mendekat menghampiriku.

 

Yang terjadi kemudian, ketika petugas tersebut (seorang wanita) melihat pasporku, ia mengernyitkan dahi. Lalu, “What is your problem?”, katanya.

 

Saya jawab, “I don’t know. Tell me”. Jawabku.

 

Dijelaskan olehnya bahwa sebenarnya visa haji kami tidak ada masalah apa-apa, “It’s ok, Sir… the visa is valid..!”, sehingga kami pun bisa langsungg ikut naik pesawat karena memang tidak ada masalah. Ketika kutanyakan mengenai nasib bagasi kami yang tidak check-trough sampai Jeddah, sehingga kemungkinan dikeluarkan di Frankfurt, dijawabnya untuk tidak perlu khawatir. Semuanya akan diurus oleh pihak airport.

 

No Problem. You may proceed, you just follow me!”, katanya.

 

Alhamdulillah.. oleh petugas tersebut kami lalu diajak untuk ke depan, melewati kerumunan antrian panjang dan langsung masuk tanpa harus ikut mengantri. Subhanallaah.. Lagi-lagi Allah menunjukkan kebesaran-Nya.

 

Aku tersadar dari lamunan mengenai perjalanan yang baru kami tempuh tersebut, setelah kulihat para calon jemaah haji lainnya berjejal berebut antrian di imigrasi Jeddah. Dengan langkah perlahan, kugandeng isteriku untuk mendekat ke seorang petugas imigrasi yang tengah mangawasi antrian. Lalu kutanyakan mengenai apa yang harus aku lakukan. Apakah harus antri seperti yang lain ataukah bisa dengan cara lain? Selain itu, juga kukatakan bahwa kami hanya berdua dari Denmark dan tidak ikut rombongan mana pun. Sejenak sang petugas melihat paspor kami lalu melihat wajah kami berdua, kemudian dengan penuh hormat, tanpa ragu-ragu, ia mengajak kami langsung masuk ke counter untuk diurus. Sambil menunggu, disediakannya kursi agar kami berdua duduk selama menunggu, sehingga terkesan sangat diistimewakan.

 

 Begitu lancar dan tanpa hambatan proses yang kami alami di imigrasi Jeddah saat itu. Lagi-lagi, kami tertegun. Allah kembali memudahkan perjalan haji kami. “Labbaik allahumma Labaika, labaika la syariikalaka labaika…!

 

Karenanya, terjadi kejadian yang agak “lucu” ketika petugas yang menjemput kami melalui komunikasi HP meminta agar kami menunggu.

 

“Bapak tenang saja.. tunggu disitu. Nanti kami akan jemput..!” Biasanya agak lama, Pak.. sekitar 2 sampai 3 jam”. Begitu kata staf dari KJRI Jeddah yang bertugas menjemput kami dan teman-teman lain dari berbagai Perwakilan (KBRI/KJRI) di seluruh dunia.

 

Akhirnya, saya jelaskan dan yakinkan kepada petugas penjemput bahwa kami sudah keluar dari imigrasi dan sekarang sedang menunggu di depan pintu keluar dan tidak tahu harus kemana. Sempat ditanyakan dengan detail oleh si penjemput tersebut mengenai lokasi keberadaan kami untuk meyakinkan bahwa kami memang sudah keluar dari imigrasi, sebelum akhirnya ia pun datang menjemput kami. Dijelaskannya kepada kami bahwa masih banyak rombongan lain di “Gate” imigrasi lainnya yang harus juga dijemput, dan sudah cukup lama mereka disana, sekitar 3-4 jam.

 

Akhirnya petugas penjemput memutuskan untuk memerintahkan seorang supir agar langsung mengantar kami berdua ke penginapan, tanpa harus menunggu peserta lainnya yang dikhawatirkan masih lama untuk bisa keluar dari counter imigrasi masing-masing. Dan, memang benar, akhirnya mereka baru bisa menyusul ke penginapan sekitar empat jam setelah kami tiba, yaitu lewat tengah malam.

 

Begitu bahagianya ketika akhirnya kami sampai di pengingapan sehingga bisa istirahat dan menyelesaikan perjalanan awal untuk melaksanakan kegiatan ritual haji di Tanah Suci. Isteriku sudah tidur saat itu, sementara aku masih asyik berbincang-bincang dengan seorang mahasiswa Al-Azhar yang akan bertugas menjadi muthowif (pembimbing) selama menunaikan ibaah haji. Kami berbincang mengenai berbagai hal berkaitan dengan ibadah haji hingga tak terasa malam pun telah berganti, beranjak pagi.

 

Kumasuki kamar penginapan untuk tidur, sambil kutatap isteriku yang telah terlelap di peraduan. Perasaanku menerawang dengan berbagai angan-angan sambil membayangkan bahwa esok pagi kami berdua akan memulai ritual haji.

 

“Ya.. Allah, mudahkanlah segala urusan, lancarakanlah ibaah haji kami, berikanlah hikmah terhadap semua hal yang sedang dan akan kami lalui.”

 

Anehnya, aku jadi susah memejamkan mata, karena terus berdo'a dengan bahasaku sendiri. Masih sempat kudengar suara percakapan beberapa orang di luar kamar. Aku menduga, mereka adalah para calon jamaah haji juga, yang baru saja tiba di penginapan.

 

“Alhamdulillah, berarti kami akan mendapatkan teman seperjalanan haji besok pagi..” Percakapan orang-orang di luar kamar pun lambat laun terdengar kian perlahan dan akhirnya menghilang, seiring dengan hilangnya kesadaranku saat itu. Rupanya, aku akhirnya dapat tertidur tanpa bisa kutunda lagi..

_______

Catatan:

Pergi haji ke Tanah Suci selalu ada dalam ingatan kami dan sampai kapan pun selalu ingin mengulanginya lagi. InshaAllah.. Mengenai pengalaman selama di Tanah Suci antara lain bisa dilihat pada tulisan sebelumnya, berjudul, "Isteriku Menolak Rezeki" dan ¨Biaya Misterius¨ di blog ini.

 

 

Komentar di Facebook

 

Seri Maryam Az-zahra, Maria Oktaviana, Sugayo Jawama and 7 others like this.

 

LB Lina Berlina

Terimakasih untuk sharing kisah perjalanan Haji nya, mudah2an keinginan saya membawa anak2 pergi haji terkabulkan.Amin ya. Sudah lama ngak baca tulisan2 kamu. salam dr Berlina in Berlin untuk Bapak dan kel ya./ November 25, 2009 at 3:36am ·

 

Achmad Djatmiko Kartosuhodo

@Lb LIna Berlina: Trima kasih,Mbak. Amin, mudah-mudahan terkabul. Salam kembali dari kami/ November 25, 2009 at 11:56am ·

 

Kushandajani Nurdianto

Haji memang sarat makna spiritual. Insya Allah sayapun berharap bisa mengajak anak2 ke Baitullah./ November 25, 2009 at 1:01pm

 

 

Achmad Djatmiko Kartosuhodo

@Kusshandayani: Amin.. Mbak.. Amin./ November 25, 2009 at 2:24pm ·

 

Hertati Latief Natasuminta

Pak Djatmiko, mungkin perjalanan haji sama dengan perjalanan hidup, penuh dengan doa, permintaan, Ikhlas, ridho , perjuangan, penuh dengan kejutan,itu semua datang dari Allah, Alhamdulillah, bersyukurlah atas semua pemberian Nya, amiinn/ November 25, 2009 at 3:05pm ·

 

Agung Cahaya Sumirat

wah kami kena tembakan lsg dari refleksi spiritual mas djat...makasi mas, semoga memberi inspirasi utk yg lain./ November 25, 2009 at 5:12pm ·

 

Mamik Roesdiatmo

PAK DJATMIKO,SEMOGA SEMUA BERKAH ITU MELUBER KEPADA KAMI,TERIMA KASIH MENGINGATKAN AGAR KAMI DIPANGGIL KEMBALI KE ARROFAH,AMIN./ November 25, 2009 at 8:30pm ·

 

Herlinas Juardi

Hari ini kbr buruk dr Mekkah n skitarnya semoga sdr2 kaum muslim yg sedang menjalankan ibadah haji terhindar dr segala bencana dan jd haji yg mabrur,amin/ November 25, 2009 at 8:33pm ·

Henny Andries

Terima kasih.Selamat Idul Adha 1430 H & Mohon maaf lahir dan batin./ November 26, 2009 at 8:50am ·

 

Edi Juliono

Selamat menunaikan Ibadah Haji semoga menjadi haji yang mabrur, dan doakan semoga kami dapat segera menyusul ke rumah Allah Amien../ November 27, 2009 at 5:17pm ·

 

Aslam Salimudin

Mas Djatmiko,maaf numpang tanya....kalau ngurus visa haji pas sedang tinggal diluar negri caranya gimana? prosesnya kira2 berapa lama ? matur nuwun/ April 11, 2010 at 9:12am ·

 

Sudjana A Hendra

alhamdulillah...Terima kasih p hj...pengalaman rohani ibadah haji dan kisah kehidupannya dapat menambah pencerahan saudara saudara lainnya. Dengan segala kerendahan dan kealfaan kt sbg makhluk, Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua. Amin./ August 4, 2010 at 8:20am ·

 

Yayuk Sukardan

Terimakasih pak sharing ceritanya... airmata saya terus mengalir membaca setiap baris cerita bapak..rasanya masih kurang bekal iman saya untuk menunaikan ibadah haji yang kurang 3 hari lagi...semoga Allah SWT melapangkan jalan saya dan suami utuk dipermudah menjadi tamu Allah SWT di tanah suci di musim haji ini.../ October 26, 2010 at 10:17am ·

 

Asep Kusmawan

Merinding untuk kedua kalinya, pak doain kami ya walau baru tercatat di tahun 2015 semoga lancar n kuat dalam menghadapi perjalanan hidup ini, amin ya robbal alamin......./ October 26, 2010 at 7:04pm ·

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now