Karikatur Nabi Muhammad

August 16, 2018

 

 

Surat kabar terkemuka di Denmark, harian Jyllands-Posten  pada edisi 30 September 2005 memuat 12 gambar karikatur untuk menggambarkan persepsi orang Denmark tentang Nabi Muhammad Saw.  Menurut pihak surat kabar, pemuatan karikatur tersebut dimaksudkan dalam rangka berpartisipasi terhadap diskusi mengenai Islam dan Nabi Muhammad dengan cara mengundang khalayak untuk menuangkan persesinya dalam bentuk karikatur.

 

Kelompok Muslim Denmark memprotes keras pemuatan karikatur tersebut karena dianggap sebagai penghinaan dan pelecehan terhadap Islam. Demikian halnya negara-negara Muslim, termasuk Indonesia, yang diwakili oleh kedutaannya masing-masing di negeri Putri Duyung tersebut. Mereka menyuarakan protes resmi, baik kepada pihak surat kabar maupun Pemerintah Denmark.  Dalam seminggu, protes akhirnya menyebar ke umat muslim di seluruh penjuru dunia.

 

Protes dan ketersinggungan umat Muslim tentu sangat wajar karena karikatur tersebut menyangkut Nabi Muhammad, figur yang diagungkan, dihormati dan selalu dijaga kesuciannya. Bagi umat Muslim sendiri, tidak diperbolehkan untuk memvisualkan figur beliau dalam bentuk apapun, agar tidak ternodai oleh berbagai spekulasi, persepsi dan khayalan manusia. Wajar dan masuk akal, umat muslim tersinggung, dan mestinya orang non-Muslim, utamanya warga Barat memahaminya. Begitulah alur berfikir kita pada umumnya.

 

Kenyataan yang ada tidaklah demikian. Para warga tempat kelahiran H.C. Andersen ini justeru tidak mengerti dan heran dengan sikap protes umat Muslim. Bagi mereka pemuatan karikatur Nabi tersebut bukan hal yang perlu dipermasalahkan. Itu kan hanya wacana dan hasil karya manusia, bagian dari kebebasan berekspresi, karena perbedaan persepsi. Kalau ada yang tidak setuju, ya wajar, itu bagian dari kebebasan berpendapat dalam demokrasi.

 

Sikap seperti ini aku jumpai berkali-kali saat bertemu dengan teman-teman warga setempat. Tidak mudah untuk memberikan argument, meng-counter sikap dan pendapat mereka. Apalagi kalau kita mengandalkan dalil-dalil dan perspektif Islam. Bagi mereka tentu akan dinilai subyektif dan picik. Satu-satunya cara adalah dengan mengikuti gaya mereka yang sok rasional dan logis. Kita harus ikut-ikutan berargumen secara rasional dan logis juga. Tetapi bagaimana caranya? Pada awal-awal kejadian karikatur, saat menanggapi pertanyaan dari teman-teman warga setempat, aku hanya bisa bilang bahwa sikap protes umat Islam terhadap pemuatan karikatur merupakan pandangan agamis (religious perspective). Selain itu, perlu diingt bahwa umat Muslim pada umumnya relijius.

 

Jawabanku terhadap teman-teman memang cukup memuaskan mereka. Setidaknya untuk menghentikan pembicaraan. Karena istilah ¨religius perspetives¨ di mat mereka menimbulkan kesan sebagai sesuatu yang tidak perlu dibantah dan diperdebatkan. Ia merupakan pandangan yang sifatnya mutlak dan diyakini kebenarannya oleh penganutnya.

 

Lama aku merenung mencari jawaban terhadap hal ini. Aku belum puas bila pendapat teman-teman lokal baru sebatas saling memahami dan toleransi. Mereka harus mengerti dan menyadari betul bahwa karikatur Nabi itu masalah serius. Sebagai seorang muslim, aku juga menahan emosi dan geram dengan ketidak-pahaman mereka. Aku pun sampai pada kesimpulan bahwa satu-satnya cara, mungkin, dengan menggiring mereka pada situasi berandai-andai, yaitu andaikan mereka dalam situasi menjadi umat Muslim, seperti diriku.

 

Suatu siang aku sedang berbincang-bincang dengan stafku bernama Agung (wanita) yang berasal dari Bali. Ia sudah 17 tahun tinggal di Denmark saat itu dan bersuamikan orang setempat. Di tengah perbincangan, aku bertanya,

 

¨Gung, orang-orang di Denmark ini, mereka rajin ke gereja gak sih?¨

 

¨Wah Pak, kalau itu sih jangan ditanya. Jelas sekali mereka tidak mengenal gereja. Mereka lebih memandang gereja lebih sebagai tempat bersejarah, peninggalan masa lalu. Mana ada gereja ramai dikunjugan jemaatnya disini, kecuali saat upacara pernikahan dan pemakaman. Atau kadang saat membaptis anaknya yang baru lahir¨.

 

¨Oh gitu ya? Pantas saja mereka tidak bisa ngerti kenapa umat Muslim marah dan protes terhadap karikatur Nabi Muhammad.¨ Kataku menimpali.

 

“Namanya juga negara maju Pak, semua kebutuhan hidup terpenuhi, mereka tidak merasa memerlukan Tuhan. Hehehe..”  Lanjut Agung dengan nada sedikit bercanda.

 

Aku pun melanjutkan, ¨Lalu, apa atau siapa yang mereka paling hormati. Maksud saya, dalam suatu masyarakat biasanya kan ada suatu figur yang diidolakan, dihormati bersama?¨

 

¨Oh kalau itu ya Ratu Margareth II, Pak. Meskipun orang Denmark sekuler, mereka sangat respek dan menghormati ratunya¨ ata Agung

 

¨Respek gimana nih, maksudnya?¨

 

¨Ya respek Pak. Sangat, sangat dihormati lah. Apapun yang menyangkut Ratu Margareth seakan benar dan harus dipatuhi¨ Sambung Agung.

 

¨Hm..gitu ya?¨ Aku hanya bergumam sambal mencoba mencerna perkataannya. Lalu aku mencoba iseng mengotak-atik sendiri pikiranku. Pantaskah Ratu Margareth II disejajarkan dengan Nabi Muhammad? Tentu saja tidak! Tapi, mungkin hal itu harus dianalogkan ketika berbicara dengan orang setempat. Mungkin saja. Mungkin saja. Aku pun lalu berkhayal sendiri.

 

Pada suatu kesempatan, suatu siang di sebuah café di daerah Centrum, saya terlibat pembicaraan dengan beberapa teman warga setempat. Isi pembicaraan kami tadinya sekedar bercengkerama kesana-kemari karena hubungan diantara kami memang cukup akrab. Namun, tiba-tiba salah seorang dari mereka, Christensen, menanyakan hal yang saya tunggu-tunggu.

 

Katanya, “Pak Djatmiko, gimana nih mengenai karikatur Muhammad?

 

Sebelum saya sempat menanggapi, seorang teman, Peter, langsung menimpali, “Common, kita ngomong yang lain saja lah. Hal itu sudah pernah kita bicarakan sebelumnya”.

 

Aku pun menjawab, “It’s ok Peter, no problem. Supaya kita sama-sama mengerti dan saling mengerti”. Kemudian Peter meninggikan bahunya sambal mulutnya ägak melebar, seakan mengatakan “terserah kamu, kalu gitu.

 

“Oke, sebelum saya menjawab pertanyaanmu Chris, saya ingin bertanya dulu. Apakah kalian menghormati Ratu Margareth II?”. Tanyaku

 

Hampir serentak mereka menjawab sama, bahwa mereka semua menghormati atau paling tidak harus menghormatinya. Tetapi Nampak semuanya menunjukkan wajah bingung dengan pertanyaanku dan menebak-nebak kemana arah pembicaraanku.

 

Lalu kulanjutkan, “Pertanyaan saya adalah.. seandainya di suatu surat kabar terpampang wajah Ratu Margareth II, dalam keadaan bugil, atau katakanlah  hanya dengan mengenakan bikini, berpose sexy, sambil tangan kanannya  memegang rokok dan tangan kiri memegang sebotol wisky, bagaimana sikapmu?”

 

Semuanya tersentak dengan pertanyaanku. Bagi mereka itu suatu hal yang mustahil terjadi. Andaikan terjadi, mereka akan tersinggung dan marah, karena merupakan bentuk pelecehan dan penghinaan terhadap warga Denmark.

 

Lalu kataku, “Itulah yang terjadi dan dirasakan oleh umat muslim di dunia, dimana pun berada. Kami merasa dihina dan dilecehkan karena tokoh yang kami idolakan dibikin bahan olokan. Kalau orang Denmark marah, tersinggung, jumlahnya hanya sekitar 5,5 juta. Tapi, kami umat Muslim, ada lebih dari 1,5 milyar orang di seluruh dunia. Mungkin kalian tidak menyadari itu.”

 

“Tunggu sebentar Pak Djatmiko, maksudmu, Muhammad itu sangat dihormati oleh orang Islam?” Peter bertanya lagi dengan penuh penasaran.

 

“Sangat dihormati, bahkan melebihi penghormatan kalian terhadap Ratu Margareth.!. Beliau seorang Nabi, pemberi petunjuk kebenaran atas perintah Allah. Sehingga jangan kaget, banyak orang rela mengorbankan nyawa demi Beliau”.

 

“Baiklah..baiklah.. kami jadi mengerti sekarang” Kata mereka hamper serempak.

 

Aku tak mau berlama-lama, dan merasa telah di atas angin sehingga momen ini harus kujaga. Lalu kataku, “Well, teman2, kenapa kalian jadi tegang? Sudahlah, itu kan sekedar tukar pikiran. Maaf, saya pamit dulu, jam makan siang sudah habis, harus kembali ke kantor”.

 

Aku pun segera meniggalkan mereka yang masih diliputi suasana tercengang, menuju kantorku di daerah Hellerup. Sebagai manusia, aku merasa puas telah diberi kesempatan oleh Allah untuk memberitahu mereka, bahkan mengalahkan argumen mereka. Maafkan Ya Allah, aku seakan membandingkan Nabi Muhammad dengan Ratu Margareth. Engkau Mahatahu, itu bukan maksud sebenarnya, selain sekedar analog untuk memberikan argumen dalam berdiskusi. Wallahualam.

 

 

 

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now