Suatu pagi di pantai Singapura

August 16, 2018

 

Pagi ini, seperti biasa, sehabis nganter anak-2 kami sekolah (sekitar Jam 07.40) saya dan isteri (Yeni) on the way home, mampir dulu ke "East Cost Park" (sebuah pantai yang indah, untuk santai, olah raga, makan dsb) yg banyak dikunjungi orang. Biasanya kami berdua parkir mobil, terus jalan kaki selama 30-40 menit menelusuri pantai sampai berkeringat, terus pulang. Namun beberapa hari ini, kami hanya duduk-duduk, karena isteriku msh belum fit untuk jalan, baru sembuh sakit. 

Belum lama kami duduk berdua, sambil ngobrol n minum "himalayan tea"-nya McDonald, isteriku bilang bhw ia tertarik mengamati dua orang wanita yang sedang berada di pinggir laut dangkal. Menurut isteriku, mereka seperti sedang terapi stress. Yang satu (berbaju putih) kelihatan teriak-teriak sambil jongkok di laut, ditemani yang satu (berbaju hitam) berdiri. Dari jauh kelihatan mereka saling berbicara. Sebelumnya, mereka hanya berdiri di pantai dan saling ngobrol. Saya tanggapi dengan bergurau, mestinya kalo stress jangan dibawa ke laut, suruh shalat aja, syukur-syukur bisa tahajud, minta perlindungan pada Allah Swt. sang Maha Pelindung. 

Akhirnya, saya pun jadi ikut memprhatikan kedua wanita tersebut dari kejauhan. Tak berapa lama, teriakan mereka tambah kencang, bahkan kemudian cenderung histeris. Semakin lama, teriakannya semakin kencang dan tidak henti-henti. Isteri saya mulai curiga memperhatikan apa kiranya yg akan terjadi. Ia punya firasat bhw sesuatu yang tidak semestinya sedang berlangsung. Secara spontan, isteriku menyarankan agar saya mendekati mereka untuk mengetahui lebih jauh. Saya pun, dengan langkah ogah-ogahan, lalu menuju ke arah mereka. Cukup jauh juga, berjarak sekitar 30 meter-an. Dalam perjalanan menuju ke arah mereka, saya kaget karena mereka lari lebih ke tengah laut. Si Putih memukul-mukul si Hitam dan minta dilepaskan, sementara Si Hitam sendiri kelihatan mulai tidak berdaya, berusaha keras untuk tetap mencengkeram si Putih sambil teriak-teriak seperti minta tolong. Saya segera mempercepat langkah saya, sementara itu dari arah berlainan pun terlihat 2 orang (sepertinya orang Melayu) melakukan hal yang sama, mendekati mereka. 

Ketika semakin dekat, saya akhirnya bisa memastikan bhw si Putih ini nampaknya berniat bunuh diri. Dia terus lari ke tengah lalu menjatuhkan dirinya, terlentang pasrah dengan posisi seperti mayat. Saya percepat langkah saya untuk membantu menolong si Hitam, meskipun cukup berat karena hrs melangkah di air. Tadinya saya berpikir, 2 orang Melayu tadi akan melakukan hal yang sama, namun ternyata tidak. Mereka nampaknya merasa lebih nyaman memperhatikan saja dari pantai. Setelah dekat, segera saya pegang kedua tangannya, dan dalam keadaan meronta-ronta histeris, saya bawa paksa ia ke tepi pantai, dengan diiringi tangisan menyayat di Hitam. Ketika saya pegang, terjadi pemberontakan luar biasa, tenaganya kuat sekali, namun alhamdulillah berhasil juga sampai ke pantai. Sementara itu, 2 orang Melayu tadi, yang masih berdiri termangu-mangu, hanya bilang "What problem... what problem..". Lalu saya minta mereka bantu saya untuk memindahkan si Putih ini lebih ke daratan, ke tempat yang lebih kering, menjauh dari pantai. 

Sejurus kemudian, beberapa orang berdatangan, sekitar 7 orang. Salah satu di antaranya (Eropa), tanya: "Anyone could call a Doctor?". Saya tinggalkan mereka dg maksud cari bantuan, entah polisi atau dokter atau pun petugas keamanan di sekitar Pantai. Saya temukan petugas cleaning service dan memintanya untuk panggil polisi. Dengan berbagai dalih, dia nampak keberatan tadinya, tapi tidak saya perdulikan. Saya pun kembali menemui isteriku di tempat semula, dengan nafas terengah-engah (saya baru menyadari kalo usia semakin tua..hehehe). Si cleaning service ini lalu mendekat, dan menelpon polisi, tapi isteriku bilang, nampaknya salah seorang diantara kerumunan sdh telpon polisi. Saya pun lega.. toh sudah banyak orang, pikirku...!

Baju dan celana saya basah kuyup, dan sambil melanjutkan duduk sejenak dengan isteri, saya tetap memperhatikan apa yg kemudian terjadi dg si Putih yg sedang dikerumuni banyak orang. Salah seorang dari yg berkerumun, sambil membawa 2 anjingnya di kiri dan kanan, akhirnya lewat di dekat tempat kami duduk. Saya tanyakan kepadanya, bagmn keadaan si Putih. Di luar dugaan, dijawab panjang lebar, yang intisarinya kurang lebih sbb:

"Dia bukan wanita baik,, hanya cari masalah saja. Kalo memang mau bunuh diri, bukan disini tempatnya. Nggak usah diperdulikan, Pak. Bikin repot orang aja, dia!"
"Why?" Saya tanya
"Singapur ini negeri bebas terbuka untuk pendatang. Are you Filipino?"
"No, Indonesian" Saya Jawab.
"Banyak orang-orang China datang, cari kerja apa saja, bahkan di prostitusi (Geylang), banyak sekali mereka. Dari Indonesia juga ada, tapi kan tidak laku, karena wajahnya lain, dan sepertinya bukan Indonesia yg dicari" Lanjutnya
"Sekarang ini hidup sulit, orang Singapur sendiri malas-malas. Gaji 800 dolar sebulan tidak memadai. Orang-orang mudanya merasa nggak cukup dengan penghasilan 2.000 dollar sebulan." Lalu dilanjutkan dennan cerita macem-macem mengenai fenomena imigran di Singapura saat ini. Kadang saya timpali dengan gurauan, akhirnya kami pun berdua sama-sama tertawa. Lalu dia katakan:
"Kamu tahu, kenapa dia coba bunuh diri di sini? Sebab dia tahu pasti akan ada yg menolong, lalu dia berharap bisa menolong kehidupan dia selanjutnya?" Masya Allah, ini orang pedas sekali pendapatnya. 
"Kamu baik, menolong dia tadi. Tapi banyak yg tidak mau tolong dan juga lapor polisi, kan?" Tanyanya. Lalu dia bilang: "Sebab mereka tidak mau jadi witness (saksi), karena masalahnya bisa berkepanjangan".
"Tapi kan udah ada yg lapor polisi"
"Ya...ya... Kawan disana tadi udah telpon polisi akhirnya. Terpaksa dia hrs sebutkan identitas dia dsb. Biarkan saja.. dia repot sendiri nanti."

Pembicaraan pun berakhir, kami saling mengucap salam perpisahan. Setelah itu, saya ceritakan ke isteri isi pembicaraan kami berdua. Sementara di kejauhan, kerumunan sudah berpindah tempat, mengikuti si Putih dan si Hitam yang sudah berjalan tegar dengan pakaian basah kuyup menuju tempat yang lebih tinggi, teduh dan kering

Akhirnya kami berdua pun pulang ke rumah, dengan harus melewati padatnya lalu lintas di highway ECP, sementara badan kedinginan, dan dipenuhi teka-teki, hikmah apa sebenarnya yang baru saja kami alami....


Singapura, 28 April 2009

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Comments

 

Achmad Djatmiko Trims Ibu. Amin. Salam kembali dari kami.

 

Angky Kadarisman mas miko .. memang layaknya demikian dilakukan .. tulus dan ikhlas yang dilakukan kalian berdua suami dan istri. sukses dalam bertugas

 

Rahardjo Nsr pengalamanmu koq macem2 tur aneh2 to Boss? luwih akeh ketimbang sewaktu di ASEAN dulu....

 

Mamik Roesdiatmo Sebuah contoh ketulusan orang Indonesia,saya bangga mas.Se

 

Achmad Djatmiko Trims Pak Mamik. Salam

 

Doli Boniara Ternyata Singapura memiliki masalah tenaga kerja asing yg berdampak bagi warga nya sendiri. Sebuah kisah yg dapat kami petik bagi kami yg tinggal di daerah perbatasan. (Kab Karimun Prop Kepri). Salam kenal buat Pak Djatmiko. (Kebetulan Surat Tanda Kel…See More

 

Achmad Djatmiko Salam kenal juga pak Doli

 

NenekMamak Kiagos Mohamed Sebenarnya banyak peristiwa aneh2 di pantai itu pak..... Yang bpk liat cuma sedikit.... Alhamdullilah bpk dapat ditunjukkan kejadian itu......Sekitar tahun 1980 han saya sering main di sana pak...waktu saya masih SMA...kami ulang kaji mata pelajaran ju…See More

 

Maya Widya ternyata demikian egoisnya masyarakat s'pore ya....
bersyukur kita sbg warga indonesia msh memiliki rasa kepedulian yg tinggi

 

Usman Asshiddiqi Qohara Subhanallah... apapun motif perbuatan orang tersebut, saya rasa tindakan pak jatmiko tepat dan perlu diapresiasi... Inilah bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang peduli terhadap sesama !.. Saya bangga sebagai orang Indonesia dan bangga juga pu…See More

 

Achmad Djatmiko @kiagos, iya.. kapan kita bisa ketemuan ya? Padalah sama-saa di S'pore..
@Maya Widya: Ya begitiulah.. don't know what to sya..hehe..
@Usman: Alhamdulilllah.. Amin.. Sukses selalu Ya, Usman..! Saya ingat kok, temen-temen deketnya Adi.. saat itu.! Salam kembali.

 

Rudolf Gahinsah Kt pepatah..lain lubuk lain ikannya. Selamat berbahagia dlm menikmati hari2 yang selalu indah. Salam.

 

Achri Jumanto alhamdullilah, allah swt sering memberikan kesempatan kepada Pak Djatmiko utk melakukan pertolongan kepada orang lain, subhannallah Pak Ustadz semoga allah swt memberikan kemudahan2 dalam menggapai kehidupan ini, amin...salam dari mumbai

 

 

 

 

 

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now