Senyum kami tertinggal di Meguro

August 16, 2018

 

Suatu malam di bulan September 1999, saya dan isteri sedang bongkar-bongkar dan merapikan barang pindahan di rumah kami yang sederhana di daerah Bekasi. Sudah dua bulan kami kembali ke Tanah Air, tinggal di rumah sendiri, sepulang tugas dari Tokyo (dua setengah tahun) dan sebelumnya di Vientiane, Laos (dua tahun tiga bulan). Dan seperti halnya yang biasa dialami kalau melakukan pindah rumah, kerepotan terjadi ketika harus membenahi dan menempatkan barang-barang bawaan/pindahan di tempat tinggal yang baru. Begitu pula yang kami alami saat itu.

 

Satu persatu barang kami lihat, kami pilih untuk menentukan kategori, lalu ditempatkan sesuai yang diinginkan. Semuanya bertujuan agar penataan rumah yang akan dilakukan bisa menimbulkan kenyamanan untuk ditinggali. Dalam keadaan begini, aku biasanya tidak banyak komentar, selain ikut membantu isteriku dalam membongkar, mengeluarkan barang tertentu dari bungkusnya, dan menanyakan “Ini mau ditempatkan dimana?”. Aku sadar betul bahwa untuk urusan penataan rumah, isteriku lebih ahli dan lebih berhak menentukan

 

Barang pindahan kami lebih banyak berasal dari Jepang dibandingkan yang dari Laos. Ada lukisan burung dari kerang, boneka Jepang, jam porselen, piring dan mangkuk (dari kayu?) bermotif khas, lampu kamar dan lain-lain. Tidak lupa, beberapa kimono juga kami miliki untuk kenang-kenangan. Saat membuka dan membongkar barang-barang tersebut, tidak jarang isteriku mengingatkan, “Awas hati-hati.! Itu gampang pecah..!”. Menanggapi peringatan yang diulang-ulang seperti itu, paling sering aku hanya menjawab, “Oke, Bos!”

 

Sambil memindah dan mengangkat barang tersebut, saya jadi teringat kenangan selama kami tinggal di Tokyo. Tanpa terasa dua tahun lebih kami lalui disana, sehubungan dengan penugasanku sebagai staf di KBRI Tokyo. Penugasan dinyatakan selesai dan selanjutnya aku dimutasikan kembali ke dalam negeri (Deplu Pejambon) pada bulan Juli 1999. Biasanya, untuk seorang diplomat yunior seperti saya, masa penugasan pertama di luar negeri adalah antara tiga sampai dengan tiga setengah tahun. Namun penugasan saya di Tokyo hanya dua tahun karena merupakan “cross-posting”, penempatan lanjutan dari penempatan sebelumnya selama dua tahun di KBRI Vientiane, Laos.

 

Dua tahun memang merupakan rentang waktu yang singkat untuk bisa lebih mengenal banyak hal, tetapi juga cukup lama bila hanya untuk mengenal sesuatu hal. Namun yang saya rasakan, seperti pepatah mengatakan, “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya”, kami jumpai begitu banyak keunikan di setiap tempat yang kami temui. Budaya dan tradisi, bahasa dan kinerja, sudah pasti berbeda, yang... semua itu merupakan bukti kekuasaan Allah, sebagaimana firman-Nya, ”Kami ciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling kenal mengenal.....”.

 

Selama dua tahun kami sekeluarga tinggal di sebuah apartemen terdiri dari tujuh lantai bernama “Meguro Grand Mansion” di daerah Meguro-Ku, yang lokasinya tidak jauh dengan Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Setiap lantai terdiri dari 4 rumah dan sejauh pengamatan kami, hanya ada dua keluarga bukan Jepang yang tinggal disitu, selebihnya terdiri dari keluarga-keluarga orang Jepang. Keluarga bukan Jepang dimaksud, selain kami, yang satunya adalah keluarga keturunan India. Dengan demikian, suasana dan nuansa “Jepang” sangat terasa sekali dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara bertutur sapa dan bergaul antar tetangga.

 

Suatu malam, kami bertemu di lift dengan seorang nenek yang tinggalnya di lantai lebih atas. Seperti biasa, dan memang kami biasakan, kami pun bertegur sapa sebisanya, paling tidak sekedar mengucapkan “selamat malam”. Sang Nenek pun membalas sapaan kami, untuk kemudian terdiam. Saya dan isteri menduga, ia baru pulang belanja dari sebuah mini market tidak jauh dari apartemen kami. Barang belanjaannya begitu banyak, sehingga membuat kami tidak tega untuk membiarkannya. Ketika sampai di Lantai 5, sang nenek pun keluar sambil menganggukkan kepala kepada kami, tanda memberi sapaan untuk berpisah. Secara spontan, saya dan isteri ikut mengambil dan membawa barang belanjaannya dengan maksud untuk membantu. Namun di luar dugaan, sang nenek tidak berkenan sambil menggumam dalam bahasa Jepang yang tidak kami mengerti, sehingga kami pun mengurungkan niat kami.

 

Peristiwa semacam itu sering kami alami saat berkomunikasi dengan orang-orang Jepang lainnya di apartemen. Terhadap hal demikian, suatu saat saya melontarkan canda terhadap isteri, “Mungkin wajah kita seperti wajah penjahat, ya? Mereka seperti memandang curiga terhadap apa yang kita lakukan.!” Isteriku hanya tertawa, sambil berkomentar, “Udah, nggak usah dipikir. Yang penting, niat kita kan baik. Mungkin memang begitu ciri orang Jepang, tidak mudah percaya terhadap orang asing”.

 

Tapi saya tetap tidak puas, lalu saya pun menimpali, “Terus... kita harus bagaimana? Ikut-ikutan diam kalau saling ketemu?” Isteriku pun membantah tegas, katanya “Tidak..tidak.. kita tetap saja harus bersikap ramah. Bagaimana pun kita ini orang asing, numpang di negeri mereka. Selain itu, bertegur sapa kan juga bagian dari ibadah, menebar senyum dengan keikhlasan..”

 

Wow.. isteriku tiba-tiba “berceramah” layaknya seorang ustadzah. Dalam hati sebenarnya aku tersenyum dan geli sendiri, karena pertanyaanku yang sebenarnya hanya “iseng”, ternyata dijawabnya dengan sangat serius, dengan gayanya yang khas dan penuh antusias.

 

Kehidupan terus berjalan dengan berbagai dinamikanya sehari-hari saat itu. Tak terasa, kami pun semakin bisa membaur dengan para tetangga kami, para keluarga Jepang yang sama-sama tinggal di apartemen. Hingga akhirnya, kami pun semakin mengerti bahwa masing-masing bangsa memiliki kekhasan karakternya.

 

Yang paling menonjol kami pahami adalah, mereka memang sangat disiplin dan kedisiplinan ini menjadi bagian dari kehidupan pribadi. Sebagai bagian dari karakter, kedisipllinan ini menjadi sangat positif kalau dilihat dalam nuansa kolektif, kehidupan berbangsa. Namun demikian, kalau dilihat dari nuansa personal, disiplin ini semata hanya bagian dari “keharusan” yang telah tertanam sejak kecil sehingga bersifat otomatis. Tidak ada muatan moral disana. Sungguh ironis..

 

Saya pun akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa perilaku mereka menundukkan kepala saat beretemu orang lain, dan akan semakin menunduk bila orang yang mereka sapa itu lebih tua dan lebih dihormati, bukanlah merupakan bagian dari etika ataupun keramahan. Itu adalah bagian dari kedisiplinan, karakter dan bahkan “peraturan” yang harus dipatuhi oleh setiap orang Jepang.

 

Hal lain lagi yang saya pelajari adalah, karena terlilit oleh budaya disiplin dalam segala hal, dalam kamus orang Jepang tidak terdapat kata “membantah” terhadap atasan dalam segala hal. Karenanya, tidak jarang, bila malam tiba, sepulang kerja, kami jumpai diantara mereka berteriak-teriak sendiri dengan kencang sambi menunggu bus. Lagaknya seperti orang marah, memaki-maki, kadang menendang-nendang, tanpa ada lawan bicara. Ketika saya mencari tahu kepada teman apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka, rupanya itu adalah cara pelampiasan yang lajim dilakukan. Saat di kantor, di tempat kerja, mereka sangat manahan diri dan perasaan terhadap sesuatu yang tidak mereka sukai demi untuk menjaga keharmonisan.

 

Lamunan saya pun lalu singgah pada peristiwa yang terjadi suatu hari ketika saya mengantar isteri berbelanja ke sebuah pasar tidak jauh dari rumah kami di Meguro. Saat itu, isteriku membeli jeruk beberapa kilo di warung buah. Setelah ditimbang, si penjual kemudian mengamati jeruk tersebut satu persatu sebelum dimasukkan ke kardus untuk dibungkus. Maksudnya, dia perlu yakin bahwa semua jeruk yang diberikan kepada kami tidak ada yang cacat. Proses mengamati jeruk seperti itu bagi kami merupakan hal yang tidak biasa, dan sebagai buang-buang waktu saja. “Toh, ketika tadi ditimbang, kami juga ikut mengamati..!” Begitu pikirku. Dan karena merasa tidak sabar, aku pun bilang ke si penjual agar langsung saja dimasukkan ke kardus karena kami terburu-buru. (Jeruk itu untuk disajikan kepada para tamu yang kami undang ke rumah malam harinya). Sementara hari telah menjelang petang, hampir maghrib saat itu.

 

Di luar dugaan, si penjual menanggapi permintaan kami dengan nada tinggi dan dalam bahasa Jepang, yang kami tidak mengerti. Beruntung saat itu kami ditemani oleh supir dari kantor yang fasih berbahasa Jepang. Supir tersebut kemudian menjelaskan bahwa si penjual tersebut ternyata marah, karena saya dianggap mengajaknya untuk melanggar peraturan. Supir pun menjelaskan bahwa si penjual punya prinsip untuk betul-betul yakin bahwa yang dia berikan kepada pembeli adalah jeruk-jeruk yang bagus. Mengapa? Karena profesi dia adalah berjualan jeruk bagus, bukan berjualan jeruk busuk atau rusak. Mendapat penjelasan seperti itu, saya terkejut dan terdiam kehilangan kata-kata. Sementara si penjual saya lihat tetap melanjutkan aktivitasnya, mengamati jeruk satu persatu untuk dimasukkannya ke kardus.

 

Kelucuan kemudian terjadi, ketika dengan bangga si penjual memperlilhatkan kepada kami sebuah jeruk yang ditemukan agak busuk. Jeruk itu dia buang untuk lalu diganti dengan jeruk lain yang masih bagus dan mulus. Beberapa kali hal yang sama terjadi. Dia pun kemudian sempat memberikan penjelasan sambil bergumam. Saya hanya menatapnya penuh hormat dan penghargaan sambil berkata, “Haik..haik... wakarimasita.!” (ya..ya... saya mengerti..). Setelah semua jeruk selesai diperiksa satu persatu dan dimasukkan ke kardus (semuanya jeruk bagus), lalu dibungkusnya kardus tersebut dengan kemasan yang rapi dan indah. Si penjual lalu menyerahkannya kepada kami sambil tersenyum. Saya dan isteri ikut tersenyum lalu mengangguk minta diri dan pergi meninggalkan pasar dengan perasaan diliputi suasana takjub. Sungguh peristiwa langka, dan Allah sedang menunjukkan kepada kami salah satu nilai-nilai kebenaran yang sudah jarang dianut para penjual masa kini.

 

Individualisme demikian tinggi dan menjadi prioritas sikap hidup setiap orang Jepang. Seorang teman pernah mengingatkan agar jangan kaget bila kita mengundang orang Jepang untuk makan bersama di sebuah restoran, akan berlaku prinsip “bayar masing-masing..!”. Bila kita merinisiatif untuk mentraktir mereka, maka mereka akan merasa berhutang. Pada waktu-waktu selanjutnya, mereka akan terus menghubungi kita untuk bisa mentraktir makan, sebagai cara “membayar hutang”. Mereka tidak akan berhenti menghubungi kita, hingga “hutang” mereka terbalas. Karena individualisme seperti itu, seakan tertanam pada diri setiap pribadi untuk tidak mau membebani orang lain. Demikian sebaliknya, mereka pun tidak akan pernah terpikir untuk mengambil milik orang lain yang bukan haknya. Lagi-lagi, tidak ada nilai moral disana, selain bahwa semua itu merupakan bagian dari prinsip hidup.

 

“Kalo Pak Djatmiko suatu saat naik kereta membawa payung dan ketika turun menyadari bahwa payungnya tertinggal, jangan khawatir Pak, payung itu pasti akan tetap berada di tempatnya sampai kapan pun!” Demikian kata seorang teman, yang lalu menambahkan, “Dengan syarat, payung itu jangan sampai ditemukan oleh orang Melayu (istilah untuk menamakan diri kita sendiri)...he..he..he..!” Hal ini terbukti ketika seorang teman kantor suatu hari bercerita bahwa dompetnya terjatuh entah dimana. Namun setelah sebulan berlalu, dia mendapat telpon dari polisi untuk mengambil dompetnya di Kantor Polisi. Dompet tersebut diserahkan oleh seseorang yang telah menemukannya di suatu tempat. Ketika diambil dan diperiksa, tidak satu sen pun uang yang hilang, dan tidak satu barang pun yang lenyap dari dalam dompet.

 

Suatu hari, atasan saya mengundang makan malam untuk seluruh staf di bagian saya (bidang politik) di rumahnya. Terhadap undangan itu, staf saya bernama Yamamoto (perempuan), menanyakan alamat rumah atasan saya. Hal ini perlu diketahui untuk menentukan jalur kereta mana yang harus dinaiki, sesuai arah yang dituju. Seperti halnya orang Jepang lainnya, rumah Yamamoto cukup jauh di luar Tokyo, jaraknya seperti dari Cikarang ke Jakarta. Setiap hari ke kantor ia harus ganti kereta tiga kali tetapi selalu bisa tiba tepat waktu, karena jadwal kereta pun di Jepang memiliki rasa “dsisiplin”.

 

Saya jelaskan ke Yamamoto, bahwa saya dan isteri bisa mampir ke kantor dalam perjalanan berangkat menuju rumah Atasan saya. Untuk selanjutnya, kami dan Yamamoto bisa berangkat bersama-sama ke kantor, sehingga ia tidak perlu repot-repot memikirkan jalur kereta mana yang harus dinaiki. Berangkat bersama dari kantor adalah cara atau penyelesaian sederhana yang saya tawarkan. Hal itu sangat memungkinkan, karena tempat tinggal saya tidak jauh dari Kantor. Selain itu, bagi saya, demikian juga isteri, hal itu sama sekali tidak memberatkan. Apalagi, menurut agama yang saya anut, tolong menolong dalam kebaikan antar sesama manusia (tidak perduli apapun bangsa dan agamanya) adalah hal yang mulya dan bagian dari ibadah.

 

Terhadap cara penyelesaian yang saya tawarkan tersebut, Yamamoto nampak bingung. Lalu ia bertanya, “Why, Pak? Why should you come to the Embassy and meet me here?”

(Mengapa, Pak? Mengapa Bapak dan isteri harus datang ke Kantor dan ketemu saya disini?)

 

Ketika saya jelaskan, bahwa itu adalah usulan saya untuk membantunya, ia tetap tidak mengerti. Tetap saja ia bertanya “Why, Pak?” Lau dipertegas lagi, “Mengapa Bapak membantu saya?” Katanya. Saya jadi bingung menghadapi wanita Jepang satu itu. Baginya, membantu seseorang adalah hal yang aneh, sementara dia sendiri tidak ingin merepotkan siapa pun. Ketika akhirnya saya jelaskan bahwa saya dan isteri tidak keberatan untuk menjemput dia di Kantor, dan kami tidak punya maksud apa-apa serta tidak merasa rugi apa-apa, dia justeru semakin mengernyitkan dahinya. Lalu, katanya,”So, jadi Bapak dan Ibu sengaja mau jemput saya di Kantor?” Saya menjawabnya dengan anggukan kepala. Lalu saya tambahkan, “Don’t ask me any question on ‘why’. I and my wife just want to be together with you.. to go to our bos’ house...!”

 

 

Akhirnya diapun tidak membantah. Sungguh unik memang, bahwa ada seseorang yang ditawari bantuan namun mempertanyakan mengapa. Lalu, kami pun selingi pembicaraan dengan bercanda dan bercerita tentang banyak hal. Akhirnya, Yamamoto berkata lagi, “Bapak... You are very kind.. !” (Bapak... Anda sangat baik), diiringi dengan gelengan kepala pertanda tidak percaya dengan apa yang saya rencanakan padanya. Sungguh suatu kisah sederhana, kejadian sederhana, tapi membikin saya terkesan saat itu. Betapa saya harus meyakinkannya untuk menerima bantuan saya yang mungkin bagi kebiasaan Jepang tidaklah lajim. Saya pun semakin yakin... bahwa dalam diri mereka tidak dikenal konsep ibadah. Hidup untuk dirinya sendiri, berlku jujur, disiplin, bekerja sesuai “aturan”.. dan tidak boleh mengganggu orang lain.

 

Saat saya sedang asyik melanjutkan lamunan saya mengenai berbagai fragmen kehidupan selama kami tinggal di Jepang, saya dikejutkan dengan teriakan isteri yang bernada girang, “Ayah...ayah.. coba lihat sini.!” Cepat-cepat saya hampiri dan tanyakan apa yang sedang terjadi. Isteriku lalu menjawab :

 

“Lihat, Yah. Ini semua pemberian para tetangga kita di apartemen..!” Katanya. Kulihat disitu ada setumpuk amplop yang didalamnya kuperkirakan berisi “ucapan selamat jalan”. Selain itu, ada juga beberapa sovenir kecil menyertai. Isteriku terlihat sangat bersemangat untuk membacanya satu persatu, dan nampak terlihat gurat kerinduan di wajahnya. Akhirnya, kami berdua pun tenggelam dalam lautan penasaran untuk membaca “kartu ucapan” tersebut. Satu persatu kami baca hingga selesai, dan sudah pasti, keheningan lalu terjadi. Aku dan isteri seperti terbawa arus kerinduan seraya membayangkan masa-masa kebersamaan kami dengan para tetangga di apartemen Meguro waktu itu.

 

Kami akui, tidak semua tetangga dapat kami kenal secara dekat dan baik. Namun setidaknya, kami mengetahui satu persatu penghuni di aprtemen itu. Kami sering saling sapa saat berpapasan, sekedar untuk menunjukkan bahwa kami bukan “orang jahat”. Aku dan isteri cukup heran, karena amplop yang kami baca ternyata jumlahnya cukup banyak, melebihi yg kami perkirakan. Tadinya, kami mengira hanya beberapa tetangga dekat saja yang menyampaikan selamat lewat kartu, baik tetangga di lantai yang sama, maupun tetangga satu tingkat di atas dan di bawah lantai. Kami, terutama isteri, cukup akrab dengan mereka, sehingga saling bertandang satu sama lain menjadi hal yang biasa.

 

Aku tidak tahu mau bilang apa, karena tidak mudah untuk diceritakan tetapi begitu mendalam kesan yang dapat dirasakan. Pada umumnya, tulisan yang tertera di kartu adalah ucapan “selamat berpisah”, “sampai jumpa”, “semoga kesuksesan selalu menyertai” ataupun “sampai kita bertemu lagi”, “jangan lupakan kami” dsb. Semua itu merupakan ucapan yang wajar kita temukan pada momen perpisahan. Namun demikian, ada satu hal yang membikin aku dan isteriku tercengang.. bahwa dari semua kartu ucapan yang kami baca, semua menyertakan suatu kesan yang sama mengenai keberadaan kami sekeluarga selama bersama mereka.

 

Ungkapan yang dituangkan beragam, tetapi kurang lebih dapat kurangkum sebagai berikut:

 

“Terima kasih ya ... atas kebersamaan kamu sekeluarga di apartemen kami. Kami merasakan kehadiranmu sekeluarga membawa suasana kegembiraan. Kamu adalah keluarga yang ramah, begitu juga anakmu. Senyumanmu dan keluargamu kami rasakan begitu ihlas dan ramah. Sudah pasti, kami akan sangat kehilangan semua senyum-senyum yang biasa kami jumpai tiap hari..”

 

Kami berdua menarik nafas panjang lalu saling berpandangan. Demikian terharu membaca rangkaian ungkapan yang mereka sampaikan. Kami tidak habis berpikir, di balik penampilan mereka yang terlihat acuh, dingin dan seakan tidak perduli, ternyata tersimpan nurani persaudaraan. Aku coba mengambil hikmah untuk kubagi bersama isteriku. Alhamdulillah.... memang benar kata Rasulullah, “Senyum itu adalah ibadah...!”

 

Aku lalu sujud untuk bersyukur, karena telah ditambahkan oleh-Nya sebuah hikmah lagi dalam kehidupan.

 

------------------------------------------------

Singapura, Mei 2009

------------------------------------------------

 

Abah Fuad “Senyum itu adalah ibadah...!” mari kt senyum berjamaah,he...he...ben okeh pahalanya.....! terus produktif & kirim fren !!!

 

Devi Purwanti ajaattttt ...... makasih critanya, cukup untuk mengingatkanku untuk tetap ramah dan tersenyum, walaupun orang disekitarnya terkesan (atau beneran) cuek bebek, hehehe .... skali lagi, makasihhhh.....

 

Mamik Roesdiatmo Bapak dn Ibu sungguh kaya mendapatkan hikmah dari tiap kejadian.dan kamipun ikut kaya dengan cerita bapak.trima kasih yang tak terhingga dengan kekayaan kami sekarang.terima kasih pak.

 

Any Widi Lestari Djat...kamu n keluarga memang selalu dapat membaca hikmah dari setiap kejadian...Saluuut aku!!! Ceritanya nambah wawasan jg buat aku yg tiap hari berhadapan sama wong jepang. Thanks Djat yg rajin berbagi cerita dan hikmah.

 

Agus Badrul Jamal Terima kasis Mas Jat, semoga Mas Jat bisa berbagi hikmah-hikmah yang lain ya...

 

Diaz Pratomo Jadi ikut2an kangen Tokyo nih Pak!!

 

Ramayanti Olii ...and i smile with you when i finished reading this thoughtful note..thanks ya Pak Djat!! =)

 

Lodya Habsanthiara :) cuma bisa tersenyum dan bilang terima kasih sdh membagi ceritanya, Pak. Salam utk Ibu...

 

Titis Adhiningtyas hmmm...(*senyum*)

 

Yayat Rudiat P'Djat telah mengingatkan. Saya makin yakin bahwa senyum itu nikmat yang diberikan Allah pada kita. Sama dengan nikmat-nikmat yang lain, seringkali kita melupakannya. Mungkin kita baru sadar ketika nikmat tersebut dikurangi atau bahkan dicabut. Serem ah.. Tapi dari cerita P'Djat, P'Djat telah menikmati dan berbagi kenikmatan itu. Terima kasih P'Djat.

 

Henny Andries Terima kasih ya. Kami belajar banyak dari kisah ini.
Salam u/ keluarga.

 

Wahyuni Kamah setuju Pak, semakin sering berinteraksi dengan budaya lain, semakin banyak yang dapat kita ambil hikmahnya. Kapan Bapak menceritakan pengalaman tinggal di Denmark? :-)

 

 

 

Achmad Djatmiko pengalaman di denmark masih saya endapkan.. nunggu giliran..hehehe..!

 

Zelda Kartika pak ustadz Ah, makasih udh sharing.. memang menarik mempelajari budaya2 baru ya?jadi pgn mampir spore dan ngobrol hehehe btw noorman sdg ada disitu pak,3 bln ini kursus wto.udh ketemu?

 

Sidum Trio Indarto pak Djat, saya sangat berterimakasih atas hikmah-hikmah kehidupan yang bapak tulis dengan sangat menarik..dikumpulin tulisan-tulisan pendeknya pak.. biar jadi buku yang menginspirasi banyak orang..:)
salam buat Ibu, Ifah dan Hanif..

 

Soraya Al Yahya senyum itu adalah ibadah dan kita tidak perlu mengeluarkan uang sesenpun untuk mendapatkan pahala dari NYA yang penting senyum itu kita berikan dari lubuk hati kita yang paling dalam.

 

Desak Amarati Putu Kutarini Wah, ternyata Bapak penulis yg handal..:)terimakasih Pak untuk berbagi pengalaman, saya jadi tahu budaya orang Jepang dg lebih baik. Selama ini saya hanya kenal makanannya saja, itu juga nggak semua :). Salam untuk Ibu..Pak.

 

Kiki Ramulo Makanan Jiwa nih pak...terimakasih atas tulisannya!! sangat-sangat dalam dan patut dijadikan inspirasi!

 

Sony Witjaksono mas djat ....tentunya masih punya senyum kan di singapura....

Manage

 

Didi Dwatmaji Hanomanresi Arigato Mas Djat, untuk bekal bertetangga di Meguro-ku.

 

Ahmad Dahlan tulisan pak jatmiko makin hari makin bernas dan enak dibaca...nganggeni pak... keep writing ya....iam sure dua atau tiga tahun lagi kumpulan tulisan pak jat bakal terbit jadi buku berjudul..serba serbi kehidupan seorang diplomat...

 

Ifa Hanifah Terima kasih cerita2 pengalamannya. Saya turut mendapat manfaat. :-)

 

Aizifora Bachtiar Banyak manfaat yang bisa diambil dari cerita2 bapak, bahkan untuk hal yg sangat simple 'senyum' masih byk orang tdk mau melakukannya. Thanks pak atas tulisannya inspiring bgt !

 

Maya Widya setia nunggu tulisan berikutnya :)

 

Ahmad Kusumaatmaja ijin share ya pak...

 

Bambang Eko Setuju Pak, senyum adalah bagian dari ibadah. Tapi kalau yg diberi senyum melengos sedih juga... koq ada manusia yg begitu ya :(

 

Rinas Listyowati kt2ny krg 2 the point mas, bikin blog aja. ada anak 87 kom yg nulis the naked traveller, dia back packer handal, nama samarannya trinity. bukunya best seller, terbit yg k2 tp aku blm beli. btw aku lg planning bikin penerbitan soal travel, & I believe you have more more experience to share. would u like 2 join with us to write?

 

Achmad Djatmiko @Rinas: Hehehe... I am not a traveller, so all my writings are not a kind of traveling stories. I have been in so many foreign places merely on duty.

 

 

Rinas Listyowati I'm sure yo'd got any place while you're on duty. some funny stories will call ev'one 2 come 2 some place. btw janggal banget, yg 1 muka arab pake baju jepang, satunya metal (melayu total) gaya samurai,ketahuan lagi nyamarrrrr huAHAHA SALAM YA BUAT MB YENI

 

Rinas Listyowati APA Kbr mertua d magelang, ada yg usil mau jualan abu merapi utk abu gosok, boleh jg tu, dananya sumbangin lg utk renovasi merapi

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now