Menanti kelahiran

August 16, 2018

“Tulisan ini kupersembahkan untuk anak pertama kami tercinta, Rafifa Fathi Dhianika, di Ultahnya yang ke 16, Tanggal 21 Mei 2010"

 

 

 

Sudah hampir 3 tahun kami menikah (1992), tapi belum juga diberi rejeki oleh Allah Swt berupa momongan atau kehadiran seorang anak di tengah-tengah kami saat itu. Allah belum juga memberikan kami amanah-Nya. Namun demikian, saya dan isteri dalam keseharian tidak pernah menganggapnya sebagai masalah. Kami percaya betul, Allah memang belum menghendaki, tapi pasti akan memberi.. entah kapan kami tidak tahu.. Demikian yang kami rasakan saat itu.

 

Sebagai pasangan suami isteri yang berasal dari “satu guru satu ilmu” alias teman satu kuliah semasa di Semarang dulu, kami sudah saling mengenal tabiat masing-masing dan komunikasi pun berjalan lancar. Saya yakin betul, isteri pasti bisa menerima kenyataan tersebut, karena begitu seringnya saya mengingatkan pentingnya kita tetap sabar dan jangan putus asa. Apalagi kami belum lama berumah tangga dan belum lama juga meniti karir. Saya sebagai pegawai negeri (Deplu) dan isteriku sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Kegiatan keseharian berjalan normal dan lancar. Menempati sebuah rumah kontrakan di Kompleks Kodam Kalimalang, kami setiap hari baru bertemu di rumah selepas pulang kerja. Kadang, bila harus memberi pelajaran tambahan, isteri saya agak larut baru pulang.

 

Namun demikian, tentunya tidak boleh hanya sabar yang kami terapkan. Disamping tetap berdoa, isteri pun melakukan berbagai usaha yang tak kenal lelah dengan beragam cara agar dapat dikaruniai momongan (anak). Sacara medis maupun tradisional telah diupayakan, namun tidak kunjung didapatkan apa yang menjadi penyebabnya. Kedua cara tersebut sama-sama berkesimpulan bahwa sebetulnya tidak ada yang salah dengan rahim isteriku. Namun, satu hal yang kami terkesan betul, ketika dalam suatu kesempatan kami pulang ke Magelang (tempat asal isteriku), dukun bayi langganan keluarga yang biasa memijat isteriku sejak kecil mengatakan, “Wah.. Mbak Aning (nama panggilan isteriku sewaktu kecil) kayaknya rahimnya ini agak beda dengan yang normal. Tidak ada kelainan apa-apa, hanya saja agak lama bisa punya anak..” Aku mendengarnya dengan jelas saat Mbah Dah (kini sudah almarhum), sang dukun Bayi, mengatakannya sambil mengurut perut isteriku saat itu.

 

Sebagai suami, saya sengaja tidak pernah atau jarang membicarakan mengenai hal itu, karena saya yakin betul pembicaraan ke arah itu merupakan hal sensitif, khususnya bagi isteriku. Saya hanya selalu tekankan bahwa “the time will come one day..!”. Bila saatnya tiba, Allah akan mengijinkan kami mendapat keturunan. Yang berat memang menjalani masa-masa penantian hingga “the time” itu datang. Dan dengan penuh kesabarannya, isteriku selalu mendengarkan “petuah”ku yang terus saja diulang-ulang. Aku tetap bisa mengerti dan merasakan bagaimana seorang isteri harus kuat bertahan bila belum juga diberi momongan. Targetku hanya satu, mendukung kekuatan isteri dan meyakinkannya bahwa sebagai suami aku berada di pihaknya, terutama dalam menghadapi pandangan dan pertanyaan para “penonton”, baik dari kalangan keluarga sendiri, kolega maupun khalayak.

 

Masalah belum diberi anak/keturunan ini memang masalah klasik dan sudah sering saya dengar. Tetapi, ketika kita harus menjalaninya, ternyata tidaklah semudah teori yang banyak diucapkan. Pada akhirnya, kami harus menghibur diri sendiri dengan mengumandangkan syair, “The time will come.... Jangan putus asa.!”. Sementara hari demi hari pun berlalu, masing-masing kami tenggelam dalam aktivitas keseharian sehingga tidak terasa bahwa kami sebenarnya sedang “menunggu’. Dalam suasana kepasrahan seperti itu, tak terhitung begitu banyak do’a kami panjatkan bersama, sambil menangis menengadahkan tangan di waktu malam, memasrahkan nasib agar diberi jalan terbaik mengenai kehadiran seorang bayi yang kami nanti-nantikan.

 

Pada akhir 1992, saya menerima kepastian dari Pusdiklat Deplu mengenai beasiswa program Master saya ke Austalia, yang dibiayai oleh AIDAB (Australian International Development Agency Bureau). Harapan baru pun muncul, siapa tahu saya bisa membawa serta isteriku selama menempuh studi di Australia. Bila itu terjadi, akan saya manfaatkan untuk melakukan pengobatan medis disana. Kami bicarakan mengenai hal ini sehingga langkah kami pun semakin mantap ke depan. Namun demikian, yang saya rasakan saat itu, kami sendiri sebetulnya sudah tidak begitu antusias. Saya tidak tahu apa yang terjadi.

 

Saya hanya merasakan... dan sungguh merasakan, bahwa kami berdua sebetulnya tengah berada pada titik kepasrahan yang sangat mendasar. Bahkan kami pun tidak jarang membicarakan mengenai konsep “amanah” berupa titipan anak yang tidak selalu harus berasal dari rahim sendiri. Bisa saja kita menyalurkan hasrat mengasuh anak dengan cara memiliki anak dari orang lain (adopsi). Namun demikian, kesempatan ke Australia tersebut kami anggap sebagai peluang, yang harus dimanfaatkan. Isteri pun setuju, dan ..bismillah.. siap untuk melanjutkan upaya berikutnya.

 

Setelah melalui berbagai persiapan, akhirnya saya pun berangkat ke Brisbane, Australia pada awal 1993. Kenyataan tidak seperti yang dibayangkan, karena mulai tahun 1993, studi untuk meraih gelar master dipersingkat tidak lagi tiga semester melainkan hanya dua semester. Hal lainnya adalah, kami tetap dibolehkan membawa serta isteri (spouse), tetapi setelah berhasil melampui masa studi satu semester. Menurut pihak penyandang dana, siswa yang telah berhasil melampaui satu semester, dianggap settled dan dijamin bisa menyelesaikan studi dengan baik. Terhadap hal ini, setelah melalui perdebatan yang cukup sengit, akhirnya saya diijinkan menghadirkan isteri setelah 2 bulan saja. Saya berargumentasi bahwa kalau isteri saya tidak segera datang untuk mendampingi saya, justeru saya tak akan pernah merasa settled sehinga studi saya dimungkinkan tidak sukses.

 

Kenyataan lainnya adalah, bahwa sesuai dengan skema yang baru, asuransi kesehatan Australia untuk para penerima beasis berubah, menjadi sangat terbatas. Melakukan pengobatan untuk isteri tidak lagi bisa ditanggung oleh asuransi. Hal ini dijelaskan pula oleh Dokter di sebuah klinik ketika kami mengutarakan maksud untuk berkonsultasi medis mengenai kemungkinan kami mendapatkan keturunan. Sementara itu, ijin untuk bekerja paruh waktu (part timer) sebagaimana dinikmati oleh teman-teman sebelumnya pun tidak lagi diberlakukan. Akhirnya, tidak ada lain yang bisa kami lakukan saat itu selain melanjutkan kepasrahan dan kesabaran. Apa daya, harapan untuk bisa memanfaatkan keberadaan di Australia dengan melakukan pengobatan dan konsultasi medis, ternyaya pupus karena ketersediaan biaya yang tidak memungkinkan.

 

Kembali kami berkontemplasi, merenungkan keberadaan dan rencana langkah ke depan sesuai perkembangan terakhir yang dihadapi. Yang bisa kulakukan untuk isteriku adalah, disamping meyakinkannya untuk tetap tenang dan sabar, juga mengajaknya untuk “enjoy” saja menikmati hidup. Yang betul-betul saya tekankan kepadanya adalah agar jangan pernah menggugat Allah Swt. karena kita tidak tahu rencana-Nya terhadap kita. Di luar dugaan, dan hal itu sangat membuatku terharu dan bangga adalah bahwa isteriku justeru mengatakan, ”Ya. Mas... Kita kan udah sepakat untuk sabar dan pasrah terhadap apapun yang terjadi dan harus kita hadapi. Manusia berencana, Allah lah Yang Menentukan, kan Mas? Saya akan mencoba meningkatkan kepasrahan dan keikhlasan saya, membuang jauh-jauh kekecewaan yang kadang masih datang menggoda. Mohon aku dibantu dan didukung, ya Mas.!”

 

Kebersamaan kami di Australia betul-betul kami manfaatkan untuk lebih mempererat komunikasi dan keharmonisan suami isteri. Suasana sehari-hari sungguh berbeda dengan yang kami alami ketika tinggal di Jakarta. Kami dapatkan ketenangan, kedamaian dan kekhusukan dalam setiap langkah yang kami tempuh. Sementara dalam keseharian, aku melaksanakan tugasku kuliah sedangkan isteriku mengisi waktunya dengan mengikuti berbagai kursus yang tersedia di Brisbane. Rumah memang sepi setiap hari, karena hanya dihuni kami berdua. Kadang-kadang sengaja kami mengundang teman-teman untuk main ke rumah, berkumpul dan bercanda. Bila ingat masa-masa itu, aku sering merasa sedih dan terharu membayangkan perjuangan dan kepasrahan isteriku. Tak henti-hentinya dalam setiap do’aku selepas shalat kusampaikan, “Ya Allah… betapa beruntungnya aku, telah Kau beri seorang isteri yang tabah, pasrah dan tegar menghadapi cobaan..”

 

Rumah yang kami tempati memiliki dua kamar, yang satu kami gunakan untuk kamar tidur, yang lain untuk belajar. Hampir tiap malam aku “terpaksa” belajar hingga pagi menjelang shubuh mengingat kemampuanku yang kuakui tidaklah sehebat teman-teman, baik dalam bahasa Inggeris maupun substansi. Setelahnya, kubangunkan isteriku untuk shalat shubuh bersama untuk kemudian aku tidur hingga siang menjelang berangkat ke kampus. (Kebetulan jadwal kuliahku saat itu kebanyakan siang dan sore hari). Adapun setiap akhir pekan, sengaja aku tidak belajar karena kumanfaatkan waktu untuk kebersamaan. Kadang pergi jalan-jalan ke pertokoan, ke tempat wisata atau mengunjungi teman. Hal ini kulakukan dalam rangka “enjoy our life”, merasakan nikmat terhadap apa yang kami miliki, sehingga terhindar dari keluh kesah dan rasa kecewa terhadap yang belum kami miliki.

 

Suatu hari, di kampus (Griffith University) kulihat ada sebuah konferensi yang dihadiri para dosen dari negara-negara Asia Pasifik. Aku lupa konferensi tersebut mengenai apa, karena lebih tertarik untuk mengetahui siapa wakil dari Indonesia. Setelah kutemukan, ternyata ada sekitar 10 orang peserta Indonesia berasal dari beragam universitas. Karena rasa kangenku tehadap suasana “indonesia”, aku undang mereka untuk makan malam bersama di rumahku. Senang sekali rasanya malam itu, karena di rumah kami berkesempatan berbincang-bincang dengan mereka mengenai banyak hal. Akhirnya aku pun tahu, bahwa tidak semua mereka yang datang ke rumahku adalah peserta. Ada juga seorang laki-laki setengah baya, berumur sekitar 50-an datang bersama isteri dan anaknya yang masih kecil (sekitar 4 tahun).

 

Dari perbincangan yang diliputi suasana kekeluargaan, akhirnya kami mendapatkan cerita dari sang Bapak tersebut, yang disampaikan dengan antusias dan penuh kegembiraan. Ia bercerita bahwa dibandingkan usianya yang kini sudah 50-an tahun, anaknya memang masih kecil. Setelah 17 tahun menikah, barulah anaknya lahir. “Yah.. gimana lagi Mas, namanya juga hidup bukan kita yang ngatur” katanya. Ditambahkannya, bahwa isterinya sudah berobat kesana kemari tidak kenal lelah namun belum juga membawa hasil saat itu sehingga mereka pun sempat merasa hampir putus asa.

 

Ketika kutanya bagaimana prosesnya hingga pada akhirnya diberi momongan, menurutnya tidak ada proses apa-apa. “Kami sih sudah pasrah, Mas. Gimana lagi, ya? Apalagi kalau ingat bahwa umur kami semakin bertambah.. Eh, dalam kepasrahan itu, tidak kami sangka..tidak kami duga.. tiba-tiba isteriku hamil. Kami sedang di Amerika saat itu, menyelesaikan S-3 saya.” Begitu tuturnya, sehingga membuat kami berdua (aku dan isteri) saling pandang diliputi jalan pikiran masing-masing. Aku merasa bersyukur mendapatkan cerita seperti itu, sebagai pembanding dan pelajaran (ibrah) berharga bagi kami untuk tidak putus asa.

 

Pertemuan dengan seorang Dosen senior tersebut pada akhirnya memang sangat membekas dan mempengaruhi optimisme kami. Disamping tetap pasrah, rasa optimisme semakin bangkit. Rumus hidup pun kutambahkan kepada isteriku, “Bila Allah Menghendaki sesuatu untuk terjadi, maka terjadilah..!” Tiada sesuatu pun yang mustahil terjadi bagi-Nya.

 

Setelah itu, hari pun berlalu sementara kami tenggelam dalam rutinitas sehari-hari, aku ke kampus dan isteriku ikut kursus. Hingga.. suatu siang, seorang teman bertandang ke rumah bersama isterinya. Mereka sengaja mampir untuk silaturahmi, selepas jalan-jalan ke “Garden City” (pertokoan dekat rumah) untuk beli tester kehamilan. Mereka telah setahun menikah dan menurutnya sangat ingin segera mendapatkan keturunan. Ketika kujelaskan bahwa kami sudah 3 tahun menikah dan belum diberi amanah, mereka sempat kaget dan merasa “tidak enak”. Secara spontan, mereka menawarkan tester kehamilan tersebut untuk digunakan oleh isteriku, “Siapa tahu Mbak” Kata isteri temanku.

 

Dengam maksud untuk tidak mengecewakan pemberian orang, kami terima tester tersebut. Tidak ada rasa antusias untuk mencobanya, karena bagi kami tester sekedar alat untuk mengetahui saja. Kalau memang hamil, tanpa tester pun akan tetap hamil. Begitu pikirku. Namun, terbersit juga dalam pikiran, “Apa salahnya mencoba?”. Lalu aku pun mengingatkan isteriku untuk jangan terpengaruh dan tidak perlu tegang. Tester hanyalah alat saja. Isteriku pun memahami hal itu. “Baiklah kita coba nanti malam, bagaimana keadaanmu menurut tester itu. Yah.. sekedar mencoba.. nggak ada salahnya”, kataku.

 

Seperti sebuah film, saat isteriku di dalam kamar mandi, ketegangan ternyata tidak bisa kuhindari, demikian pula dengan isteriku. Sejurus aku menunggu hingga akhirnya isteriku memanggilku lirih dari dalam kamar mandi. “Mas.. mas.. (saat itu ia masih memanggilku dengan sebutan ‘mas’).. coba lihat kesini”. Dengan rasa yang tidak menentu, aku menghampirinya dan kulihat tatapan mata yang aneh dari isteriku tengah memandangku. Aku yang memang sudah menyiapkan diri untuk tidak terkejut, apapun hasilnya, lalu menerima tester dari isteriku. Lalu….. kutatap lekat-lekat tester tersebut, dan..

“Ini maksudnya gimana?” Kataku tidak mengerti, meski di tester tersebut menunjukkan warna “positif”, indikasi bahwa isteriku hamil.

“Kalau menurut tester ini sih…. berarti aku positif hamil, Mas” Bicara isteriku pelan bergetar hampir tak kedengaran.

“Lalu..?” aku masih terpaku seperti orang bingung.

“Alhamdulillah… aku hamil, Mas. Kita akan punya anak..!”

“Jadi..?” Kataku, “Dik Aning hamil.?”

“Ya.. ya… Alhamdulillah..” Katanya. Lalu tiba-tiba dipeluknya aku dan kami pun berpelukan di kamar mandi. Isteriku berderai air mata dengan sejuta makna tersimpan dalam dadanya. Tiada seorang pun yang mengetahui selain kami berdua, betapa kebahagiaan lainnya telah bersemayam di dada kami.

 

Sementara itu, aku sendiri sebenarnya belum yakin benar, masih ada kesangsian mengenai kehamilan isteriku. “Apa betul tester bisa dipercaya?” Kesangsianku tidak kutunjukkan kepada isteriku. Aku hanya bilang, “Alhamdulillah, bismillah.. Kalau memang Allah sudah menentukan demikian, mari kita konsultasi ke dokter besok. Semoga benar hasil yang ditunjukkan tester ini. Tetep.. kita minta perlindungan pada Allah ya Dik.!” Isteriku mengangguk, dengan wajah penuh harap dan bahagia.

 

Esok harinya selepas maghrib, kami pun berangkat menuju sebuah klinik di Garden City, Brisbane yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal kami di Tryon Street. Sejak keluar dari rumah untuk menuju Klinik, kami sudah memantapkan niat dan pasrah mengenai berbagai kemungkinan hasil diagnosa dokter yang akan didapat setelah konsultasi. Apapun itu, kami mantap untuk menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Toh.. kami ini sekedar berusaha, sebagai salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh hamba-Nya. Adapun hasilnya, Allah Sang Maha Tahu dan Pemilik Rencana lah yang memiliki.

 

Setelah mendaftarkan ke resepsionis Klinik, kami pun menunggu giliran tiba hingga akhirnya seorang dokter berkebangsaan Australia yang sudah cukup berumur (kalau tidak salah, namanya Dr. O’Loghlin) kemudian memanggil dan menanyai kami. Selanjutnya isteriku dipanggil sendiri masuk ke kamar periksa, namun tidak terlalu lama. Aku pun lalu dipanggil untuk ikut masuk ke kamar periksa. Dia mempersilakanku duduk, lalu terjadi percakapan singkat.

“Are you her husband?” Katanya

“Yes, I am”. Jawabku tegas

“Congratulation! Your wife is positive.” Katanya lagi sambil menyalamiku.

“What do you mean by ‘positive’, doc?” Tanyaku masih belum jelas

“Positive.. ‘positive’ means ‘pregnant’.. your wife is pregnant” Dokter tersebut seperti bingung dengan pertanyaanku. Tapi, bagaimanapun aku tetap ingin kepastian,

“Are you sure, Doc?”

“Yess… yess.. sure….! Hundreds percents positive.. Your wife is pregnant.!” Katanya dengan suara tegas.

“Alhamdulillah.. (ekspresi ini mungkin si dokter tidak tahu). Thank you doctor, thank you” Kataku sambil kujabat tangannya erat-erat. Kulihat dokter O’loghlin menatapku masih dengan terheran-heran. Lalu.. iapun tersenyum dan berkata, “You are welcome..!

 

Pulang dari klinik, tidak tergambarkan perasaan kami saat itu. Sambil berjalan berdampingan, kucoba kupapah isteriku seperti orang sakit. “Mas, aku tidak apa-apa, tidak sakit, masih kuat jalan.” Katanya tersenyum. Sepasang suami isteri yang penuh kebahagiaan sedang berjalan pulang dengan perasaan penuh syukur tak terbayangkan.

 

Segera setelah selesai masa studiku, kami pun pulang ke Indonesia. Ketika berangkat kami berdua, ketika pulang menjadi bertiga (bersama calon bayi dalam perut isteriku). Masa-masa hamil tua kemudian kami jalani di Indonesia. Kami diminta menempati rumah seorang senior di Kompleks Deplu Pondok Aren, hingga akhirnya setelah 5 tahun pernikahan kami, lahirlah seorang bayi perempuan buah hati kami, yang kami beri nama RAFIFA FATHI DHIANIKA pada tanggal 21 Mei 1994. Kami biasa memangilnya “Ifa”.

 

Kelahiran anak kami sungguh suatu kebetulan. Saat itu bertepatan dengan Idul Adha, dan nun jauh disana di Pati (Jawa Tengah), adik saya tengah melangsungkan pernikahannya pada hari itu juga. Yang kuingat lagi adalah, saat itu tengah berlangsung kejuaraan badminton memperebukan Piala Uber dan Thomas, yang diakhiri dengan kesuksesan Indonesia meraih kedua kejuaraan tersebut.

 

Kini usianya 15 tahun, bersekolah di Queensway Secondary School, kelas dua, Singapore. Tidak ada harapan kami selain ia menjadi wanita yang sholehah, taat beribadah dan patuh kepada suaminya kelak. Obsesi kami adalah, kami inginkan ia tetap berkepribadian Indonesia yang muslimah. Aku ingin ia selamat dunia akherat. Allah telah memberi amanah-Nya kepada kami seorang anak perempuan yang harus kami bina, didik dan besarkan di jalan yang diridloi-Nya. Aku sadar betul bahwa ibarat kain putih yang masih bersih, seorang anak tergantung pada orang tuanya yang kemudian akan memberikan tulisan dan coretan di atasnya.

 

Menjelang ultah Rafifa yang ke-15 ini, isteriku menulis di facebook-nya:

“ALLAH MELALUI AYAHKU TELAH MENJAGAKU UNTUK SUAMIKU.... SEKARANG, KEWAJIBAN SUAMIKU UNTUK MENJAGA ANAK PEREMPUANNYA UNTUK SUAMI ANAKNYA KELAK. YA ALLAH… JAGALAH KAMI SENANTIASA UNTUK TETAP DI JALAN-MU”

 

Aku tercenung membacanya, semoga aku bisa menjadi seorang ayah yang digambarkan oleh isteriku. Dapat menjaganya agar tetap baik dan utuh, untuk kupersembahkan kepada calon suaminya kelak. Dapatkah aku? Semoga Allah melindungiku, menolong dan meneguhkan pendirianku dalam membimbingnya untuk menjadi wanita idaman suami dan keluarganya kelak. Amin.

 

-----------------------------

Achmad Djatmiko

Singapura, 21 Mei 2009

-----------------------------

Comments

 

Rafifa Fathi Dhianika amin :)
thanks so much ayah ..…See More

 

Anisah Aini sudah di aminin sama Rafifa....betapa ayah dan ibumu sangat mencintaimu....mudah mudahan Tuhan selalu menjagamu.

 

Maria Yabsley Subhanallah....Begitu besar cinta kasih itu tergambar
ibarat cahaya-NYA yang selalu terpancar…See More

 

Isnarti Hasan Ifa sangat beruntung ditempatkan Tuhan ditengah-tengah orang seperti ayah dan bunda-mu. Selamat ulang tahun ya Ifa, berusahalah untuk mewujudkan doa orang tuamu

 

NenekMamak Kiagos Mohamed Kesabaran adalah yang saya lihat di tulisan bpk kali ini...Subahanallah..... Pada anak Bpk..selamat ulangtahun walau baru sekarang saya ucapkan....

 

Nahdilah we almost had the same experience with us, but we had waited our son for 13 years. happy b'day to ifa..4jj bless u..

 

Dewi Wahyuningsih Tidak ada sesuatu mustahil terjadi bagiNya,,the time will come one

 

Eru Maturnuwun, mencerahkan! Cuma proporsi untuk si jelita Rafifa Fathi Dhianika yg diwakili 2 alinea saja sepertinya masih kurang pakde. Mau coba merumuskan buat si Cantik Aisyah Izatul Jannah di 9 June 2014 :)

 

 

 

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now