Mempertahankan Hijab

August 15, 2018

 

 

Siang itu, pertengahan Februari 2002, isteriku baru pulang dari belanja di China Town, dekat Main Station di Copenhagen, Denmark. Itu adalah kali pertama ia pergi belanja sendiri, menggunakan transportasi umum (bus) dengan tujuan untuk membiasakan diri agar tidak terlalu tergantung pada suami. Seperti di negara Eropa pada umumnya, sarana transportasi publik di Copenhagen sangatlah nyaman, murah dan mudah untuk dimanfaatkan ke tujuan manapun. Dan itu perlu dibuktikan.

 

“Assalamu’alaykum..”, terdengar suara isteriku di pintu depan mengucapkan salam.

 

“Wa’alaykumussalam.. Udah pulang, Nda?” Tanyaku sambil membukakan pintu. Ia tidak menjawab, karena memang pertanyaanku tidak memerlukan jawaban. Lalu isteriku pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur. Aku mengikutinya dari belakang.

 

“Gimana...gimana ceritanya? Gampang kan, ke tempat pertokoannya?”, Tanyaku kemudian, sambil membantunya mengeluarkan barang-barang belanjaan dari tas. Pertanyaan itu penting karena aku ingin mengetahui kesan-kesannya, untuk antisipasi selanjutnya.

 

“Alhamdulillaah.. ternyata transport-nya gampang, Yah. Bunda tadi pake

bus dari halte depan rumah, ya udah, ternyata cuma sekali aja, bus nya langsung menuju ke pertokoan. Bunda berhenti di depan main stasiun, terus dari situ jalan kaki sebentar. Pulangnya juga gitu, pake bus yang rutenya sama.” Kata isteriku.

 

“Syukurlah. Berarti selanjutnya no problem Bunda belanja sendiri ya?” Aku menanggapinya dengan tersenyum.

 

“Iya.. no problem Yah.. dan..subhanallaah.. tokone pepak banget (tokonya komplit sekali) tur opo-opo ono (apa-apa semua ada). Semua kebutuhan belanja tersedia, jadi insha Allah untuk makan anak-anak tidak akan jadi masalah”

 

“Ya memang begitu Nda. Di kota-kota besar Eropa, katanya, makanan

Asia sekarang ini tidak masalah, karena pasti ada toko Asia (asian market) atau perkampungan Cina (China town) yang menjual makanan orang Asia, termasuk makanan Indonesia.

 

“Iya Yah..alhamdulillaah”, lanjut isteriku, “Meskipun tadi Bunda sempat tegang juga di jalan, terutama waktu nunggu bus di halte sebelum berangkat”

 

“Lho? Emangnya kenapa,?” Tanyaku penasaran.

 

“Iya.. Bunda sempat takut tadi .. agak ngeri jadinya..”

 

“Takut? Takut sama siapa?”

 

“Itu Yah, waktu nunggu bus di halte, kan ada juga beberapa ibu-ibu orang Denmark disitu..Ada lima atau enam orang lah”

 

Kemudian lanjutnya, “Tadinya mau Bunda tegur, basa-basi, eh.. mereka semua melengos, memalingkan muka kayak orang nggak suka lihat Bunda”

 

“Lho, Bunda kok yakin mereka enggak suka? Tanyaku

“Ya kan kelihatan dari mimik dan mukanya, Yah..”

“Menurut Bunda, kenapa mereka begitu?” Tanyaku semakin penasaran.

“Ya..dugaan Bunda sih, karena Bunda pake jilbab, yah..”

“Ah, masa?”

 

“Iya, kan dari cara mereka ngelihat, pake sudut mata sambil sinis, kelihatan sekali. Ih..ngeri Yah..” Isteriku menjelaskan. Lalu ia pun melanjutkan,

 

“Bunda rasanya ngeri Yah.. takut.. jadi enggak nyaman. Apa bisa betah ya tinggal disini? Padahal masih empat tahun lagi..masih lama” Nada isteriku terdengar gusar.

“Hmmmm... oke.

 

“Kira-kira seumur berapa mereka, Nda? Udah tua?”

 

“Ya udah tua sih.. rata-rata di atas Bunda. Bahkan ada dua orang yang udah nenek-nenek.”

 

Peristiwa itu sangat berkesan karena sempat membikin hati kami gundah. Bagaimana seandainya isteriku tidak sabar dalam menghadapi waktu-waktu ke depan. Padahal, masa penugasan kami akan cukup lama, empat tahun. Akhirnya aku katakan,

 

“Hmm.. mudah-mudahan itu hanya terjadi pada golongan generasi tua aja Nda. Sebab, menurut ayah, aneh juga kalau di jaman sekarang masih ada orang yang racist seperti itu. Andaipun ternyata memang benar, banyak orang yang tidak suka dengan wanita muslim karena jilbab yang dipakainya, ya tetap Bunda harus bertahan. Karena ini menyangkut aqidah agama. Kita tidak boleh menyerah”

Lalu aku pun melanjutkan, ”Tapi percayalah, Allaah pasti menolong dan melindungi kita dalam melaksanakan perintah-Nya.”

 

“Aamiin.. “ Kata isteriku meskipun masih nampak keragu-raguan dalam nada jawabannya, lalu ia melanjutkan, “Tapi, kalau Bunda nggak kuat gimana Yah.?”

 

“Bunda kuat..Insha Allaah bisa! Kita berdoa dan berjuang sama-sama. Disini kita buktikan keislaman kita yang sesungguhnya, Nda.” Kataku mantap.

 

“Aamiin.” Kata isteriku lagi.

 

Peristiwa tersebut sangat membawa hikmah untuk menentukan cara kami beradaptasi dengan lingkungan. Perlahan tapi pasti, kami pelajari bahwa secara umum masyarakat Denmark sebenarnya tergolong egaliter dan tidak begitu racist. Namun, menyangkut pandangan terhadap Islam, banyak orang yang salah persepsi sehingga cenderung sinis terpengaruh oleh pemberitaan tendensius media massa Barat. Islam masih diidentikkan dengan terorisme.

 

Tantangan yang dihadapi yaitu bagaimana melebur dengan lingkungan tanpa “menonjolkan” atribut Islam. Hal yang paling simple adalah untuk tidak tampil dengan pakaian jilbab. Dengan memohon petunjuk Allah, kami putuskan bahwa isteriku berpenampilan yang tidak mengesankan muslimah. Jilbab yang fungsinya menutup rambut dan kepala, kemudian diganti dengan semacam topi. Untuk melengkapinya, isteriku selalu mengenakan pakaian yang berleher tinggi.

 

Kenyataannya memang sukses. Ia dapat bergaul dengan bebas. Dengan cepat memiliki banyak teman dari berbagai kalangan, baik kalangan lokal maupun internaisonal. Dalam setiap penampilan, tidak sekali pun teman ataupun kolega mempertanyakan mengenai pakaiannya. Karena ia tampil seperti layaknya wanita lain, namun “bertopi”.

 

Dari berbagai kelompok pergaulan yang diikuti, mulai kursus bahasa, teman ketemu di jalan, kalangan diplomatik maupun lainnya, yang paling intensif mengadakan pertemuan adalah kelompok orang tua murid di sekolah. Anak kami, Ifa (kelas 4) dan Hanif (kinder garten), keduanya bersekolah di Rygaards International School. Para orang tua sangat aktif bertemu dan berkomunikasi serta sharing informasi. Sering juga mereka mengadakan pertunjukan budaya dari masing-masing negara.

 

Kadang beberapa kegiatan tanpa rencana pun diadakan, utamanya di dekat castle tertenu yang tujuannya hanya sekedar bertemu, ngobrol dan makan bersama. Tentu saja, anak-anak pun ikut serta sehingga mereka bisa meluangkan waktu bermain bersama-sama teman sekolahnya di luar hari belajar. Pernah pada suatu kesempatan, saat kami berkumpul dan  usai makan bersama, seorang ibu (dari Denmark) bertanya.

 

“Hai, Yeni. Saya perhatikan kok kamu selalu menutupi rambutmu dengan topi. Apakah itu model, ataukah kewajiban agama (religious obligation)?”

 

Isteriku pun tanpa ragu menjawab, “ Ini kewajiban agama”

 

Mereka lalu hanya merespon, “Oh, okay.. I understand”

 

Terbukti sudah. Pakaian yang dikenakan isteriku ternyata tidak mencurigakan atau pun mengundang pertanyaan. Penampilannya ternyata bisa mengaburkan identitas. Bahwa seorang muslim, tidaklah harus tampil dengan pakaian yang berkerudung atau pun bercadar sehingga menimbulkan kesan eksklusif. Menurut pemahamanku, yang lebih utama, bagi wanita, adalah menutup aurat. Adapun model (fashion)  bukan halangan, dapat disesuaikan dengan keadaan setempat. Wallahualam.

 

 

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now