Cinta Sesungguhnya

August 16, 2018

 

Sekitar pertengahan tahun 1989, akhirnya saya mendapat kabar mengenai hasil seleksi tahap akhir penerimaan calon pegawai Departemen Luar Negeri (Deplu). Aku berhasil diterima dan harus segera mengurus persyaratan administrasi ke Pejambon (Deplu) dan selanjutnya segera mengikuti orientasi dan pendidikan di Pusdiklat, yaitu Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu). Terus terang, sebetulnya cukup berat bagi saya untuk meninggalkan Semarang, tempat “perjuangan” saya mengais hidup saat itu, sejak lulus kuliah 3 tahun sebelumnya.

 

Meski tetap berstatus “anak kost” selepas lulus kuliah, alhamdulillah.. saya mampu bertahan hidup tanpa harus mendapat kiriman beasiswa bulanan dari orang tua di desa (Kebumen). Tanpa terasa, saya mulai menikmati keberadaan saya dengan jenis “pekerjaan” yang saya miliki saat itu, yaitu terlibat dalam berbagai kegiatan penelitian sebuah LSM di Semarang dan kadang menulis artikel di media massa, baik lokal maupun nasional. Keberadaan saya diperkuat lagi dengan keikutsertaan saya dalam berbagai kegiatan organisasi kemasyarakatan yang bernuansa keislaman.

 

Perasaan berat saya meninggalkan Semarang juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, menyangkut kedekatan hubungan saya dengan seorang wanita adik angkatan saya di FISIP-UNDIP bernama Yeni, yang alhamdulillah akhirnya menjadi isteri saya. Sebagai laki-laki yang semakin beranjak dewasa, saya telah mempunyai wanita pilihan untuk calon pendamping hidup saya kelak di masa depan. Di mata saya, ia begitu pengertian dan sabar menghadapi saya yang tengah mengarungi masa transisi. Bahkan, ketika saya semakin asyik tenggelam dengan kehidupan dan “pekerjaan” saya saat itu, saya pernah menanyakan kepadanya, “Dik, gimana ya, kalo ternyata saya tidak juga dapat pekerjaan formal?”. Pertanyaan ini wajar saya ajukan, karena sudah hampir tiga tahun saya belum juga memperoleh pekerjaan tetap, meskipun di lain pihak, saya sebetulnya menikmati apa yang sedang saya jalani.

 

Ia menjawab dengan tidak ragu-ragu, yang membuat saya semakin beryukur kepada Allah dan semakin yakin akan wanita pilihan saya. Jawabannya tetap saya ingat sampai sekarang dan Insya Allah selamanya, yaitu, “Mas.. yang namanya pekerjaan kan tidak harus formal. Allah menebarkan rejeki di muka bumi bagi umat-Nya. Kita tidak usah khawatir terhadap apapun yang sedang kita kerjakan. Yang penting.. pekerjaan itu halal”.

 

Jawabannya itu membuat saya terpukul, malu pada diri sendiri, tetapi juga bangga. Jawabannya telah membuat langkah saya semakin mantap untuk lebih menekuni apa yang saya hadapi, hingga saya kemudian sempat merasa tidak begitu antusias lagi mencari pekerjaan dan menyebarkan lamaran ke berbagai instansi dan perusahaan. Saat itu saya merasakan semakin meningkatnya kepasrahan untuk menjalani semua yang sedang saya hadapi. Namun, di saat kepasrahan saya meningkat itulah, Allah justeru memberikan saya jalan lain, yaitu diterima di Deplu dan harus hijrah ke Jakarta.

 

Hubungan dan kedekatan kami sudah diketahui dan direstui oleh orang tua kedua belah pihak. Meski demikian, kami berdua menyadari betul arti satus hubungan yang kami miliki. Secara formal dan dari sudut pandang agama, kedekatan hubungan kami belumlah memiliki status apa-apa, berkaitan dengan hak dan kewajiban. Karena itu, pertemuan demi pertemuan yang terjalin hanyalah sebatas berbincang dan tukar pengalaman, tanpa harus bersentuhan badan.

 

Merasa bahwa kami akan berpisah secara fisik, saya mengusulkan kepadanya sekiranya hubungan kami lebih dieratkan dengan cara beli cincin untuk dipakai masing-masing, yang lalu disahkan dalam suatu pertemuan keluarga yang dihadiri masing-masing orang tua. Dalam istilah kelajiman sekarang, mungkin semacam “tunangan” atau “tukar cincin” (Saya tidak tahu, kenapa pemikiran seperti itu yang muncul dari benak saya). Setelah kami bicarakan, disepakati bahwa prisip untuk lebih mengeratkan hubungan kmi setujui berdua, namun mencari pembenaran untuk format “tunangan” tidak ditemukan. Sebab, yang kami tahu, dalam agama kami tidak dikenal istilah “tunangan”, “pacaran” dsb.

 

Dalam kebimbangan demikian, ia ajukan saran,”Mas.. kenapa kita tidak nikah saja sekalian? Dengan begitu, kita akan terhindar dari dosa, karena sudah sah secara agama?”

 

Bagai disambar petir, saya kaget mendengar sarannya yang sebelumnya samasekali tidak saya bayangkan. Bagaimana mungkin saya berani menyarankan untuk menikah, sementara bekal pun belum siap, bahkan baru akan mulai menapaki pekerjaan formal, starting from zero..! Saya belum merasa siap. Akhirnya, ketika saya kemudian sempat terdiam dalam kebingungan saat itu, ia lantas melanjutkan, ”Prosesnya sama seperti tunangan, tapi dengan menghadirkan penghulu dan ada akadnya. Tidak perlu ada acara apa-apa. Degan begitu, kita sah secara agama, sementara di mata orang, kita seakan seperti tunangan”.

 

Terjadilah ‘pernikahan’ tersebut, yang kemudian kuketahui bernama nikah siri, karena tidak didaftarkan ke KUA. Peristiwa itu terjadi bulan Juli 1990, di tengah-tengah saya masih mengikuti pendidikan Sekdilu XVI di Pusdiklat Deplu. Tujuan kami semata karena tidak ingin terperangkap dari kemungkinan perbuatan dosa. Bagaimanapun sebagai manusia biasa, kami pasti punya resiko untuk berhubungan lebih jauh, yang bila tidak diwaspadai akan mencederai nilai-nilai moral dan agama.

 

Sejak hijrah ke Jakarta mengikuti pendidikan Sekdilu di Pusdiklat Deplu, setiap hari Sabtu saya “pulang” mengunjunginya. Kebetulan ia sudah kerja di LSM, menggantikan posisi saya, yang sedang melakukan penelitian lapangan di daerah Batealit, Jepara. Tiba disana biasanya pada Sabtu sore, lalu kami bersama-sama pulang ke Magelang hingga Minggu siang. Sore harinya, saya kembali lagi ke Jakarta melalui Jogya dan Yeni pun kembali ke tempat tugasnya di Jepara. Dengan rutinitas seperti itu, maka ketika pernikahan siri kami lakukan di Magelang, saya tidak mengganggu jadwal pendidikan yang sedang saya ikuti. Jarak kami memang berjauhan, namun seminggu sekali kami alhamdulillah bisa bertemu

 

Pada setiap pertemuan, tentu saja saya merasa senang dan bahagia karena berkesempatan melepas rasa rindu. Adapun Yeni, saya tidak tahu persis apakah ia merasakan hal yang sama seperti saya. Yang pasti, karena kami menyadari bahwa hubungan kami dibatasi oleh moral dan etika, pertemuan kami tetap sebatas ngobrol dan pulang besama menuju Magelang (rumah orang tuanya). Hal itu terus berlangsung hingga kemudian kami melakukan nikah siri, yang berarti setelahnya kami secara agama sudah menjadi suami isteri.

 

Segera setelah acara nikah siri, sore harinya aku kembali ke Jakarta, lalu ia pun kembali ke tempat kerjanya di Jepara. Pertemuan pertama kami setelah nikah siri terjadi seminggu kemudian di Jepara, sebagai bagian dari kunjungan rutin mingguan saya seperti waktu-waktu sebelumnya. Kebetulan hari masih siang saat saya sampai di Jepara saat itu. Tentu saja ia pun masih berada di lapangan mengerjakan kegiatan penelitiannya. Saya tidak langsung menemuinya di lokasi penelitian, melainkan menuju ke tempat kost-nya dengan maksud tidak ingin mengganggu. Biasanya ia pulang pada saat waktu makan siang, untuk istirahat, shalat dan makan (ishoma), yang berarti masih tersisa waktu sekitar dua jam ke depan.

 

Waktu menunggu, saya menggunakannya untuk membaca-baca beberapa buku yang ada di kamarnya. Dengan seijin pemilik rumah, untuk pertama kalinya saya berani masuk ke kamarnya. Saya berani melakukannya karena seminggu sebelumnya telah resmi menjadi suaminya. Tempatnya bersih, tertata rapih dan nyaman, layaknya kamar perempuan. Kemudian tanpa terasa, saya larut dalam bacaan, sambil tiduran, ketika ‘isteriku’ masuk kamar dengan didahului salam. (Rupanya ia sudah diberitahu oleh pemilik rumah mengenai keberadaanku di kamarnya).

 

Ketika kujawab, “Wa’alaykumus salam”, kami berdua tertegun, berhadapan dan saling bertatapan tanpa sepatah kata pun terucapkan. Saya pandang wajahnya lekat-lekat dan.. saya lihat tatapan kerinduan di matanya. Saya sungguh terpana.. tatapan seperti itu (yang penuh kerinduan) belum pernah saya jumpai dan miliki sebelumnya. Dan... tanpa diduga, dengan tersenyum manis, ia menghampiri saya dan memeluk tubuh saya sehingga kami pun saling berpelukan. Itulah pertama kalinya kami saling berpelukan. Subhanallaah... saya takjub.. bertanya-tanya, begitu nikmatnya kebersamaan kami saat itu, setelah status kami menjadi sepasang “suami-isteri”.

 

Pertemuan kami tersebut, dengan tatapan matanya yang penuh kerinduan dan senyum manisnya yang menawan, hingga kini sangat berkesan sebagai momen istimewa saat pertama kali kami bersentuhan badan. Sungguh terasa kenikmatan, kedamaian dan kenyamanan yang diberikan-Nya pada kami tanpa perlu ada rasa saling sungkan. Peristiwa itu pun kemudian sering kami berdua bahas dan perbincangkan untuk mencari hikmah kehidupan, menggali rasa syukur dan kebahagiaan. Betapa indah saya rasakan bila meningatnya. Demikian pula isteriku, baginya itu adalah peristiwa teristimewa yang membuktikan kebenaran ayat-ayat Illahi mengenai nikmatnya perjuangan seorang wanita yang berhasil menjaga dirinya untuk dipersembahkan pada suami. Ia merasa beryukur telah membuktikannya dan akan menjadi bekal baginya dalam membimbing anak wanitanya dan keluarga, maupun untuk ditularkan kepada saudara-sadara seiman lainnya.

 

Karena pernikahan siri kami masih dalam kategori “belum resmi”, pernikahan di hadapan KUA pun kemudian kami lakukan. Itu terjadi pada akhir Desember 1990, beberapa bulan kemudian, menjelang saya selesai pendidikan setelah mendapatkan ijin resmi dari Deplu. Tidak ada niatan kami untuk “mengulang” pernikahan, selain sebagai prosedur “meresmikan” status hubungan kami sebagai suami-isteri di mata hukum dan negara.

 

Dalam suatu kesempatan, saat kami berdua bernostalgia tentang masa lalu, peristiwa Jepara kami hadirkan. Kami ungkap perasaan yang menyelimuti kami masing-masing saat itu. Terkuaklah kemudian rahasia yang sebelumnya tidak saya ketahui dan sempat saya simpan sendiri dalam hati. Mengapa tatapan mata kerinduannya tiba-tiba begitu terpampang jelas olehku saat itu?

 

Dengan panjang lebar, isteriku menjelaskan, “Mas... saat itu aku begitu bahagia...sangat bahagia.. Aku tidak tahu mengapa, yang kutahu, segera setelah kita nikah siri, dan aku menjadi isterimu, serta merta kerinduan muncul.. kekhawatiran muncul...... rasa takut kehilangan pun menghantui. Padahal..padahal.. semua itu tidak pernah kumiliki sebelumnya, selama kita bersama. Aku mungkin termasuk perempuan kuno, tapi aku tetap percaya, bahwa sebelum resmi menjadi isteri, hatiku tidak akan pernah kuberikan seutuhnya kepada siapapun. Karenanya, selama kita bersama sebelumnya, meski akal dan rasioku mengakui kebersamaan kita, tapi hatiku tidak. Ketika mas Djoko (panggilan masa kecilku) harus ke Jakarta karena diterima di Deplu, aku tidak merasa kehilangan apa-apa, tidak merasa khawatir. Bagiku, saat itu, andaipun ternyata di Jakarta akhirnya Mas menemukan wanita pilihan lain, tidak ada masalah bagiku. Berarti memang Mas bukan jodohku”

 

Sungguh suatu pendapat aneh yang tidak pernah kubayangkan. Lalu apa artinya kebersamaan kami sebelumnya? Begitu pertanyaanku yang kemudian terjawab saat dia menjelaskan, “Kebersamaan kita sebelum menikah lebih aku pandang sebagai sebuah komitmen, Mas! Maaf, ... jangan tanyakan apakah aku saat itu mencintaimu. Sejujurnya, aku tidak tahu jawabannya...Yang aku tahu adalah ada seorang laki-laki mendekatiku, mengajakku merencanakan masa depan bersama. Hatiku sebenarnya tidak bisa menerima karena belum siap, tetapi yang paling penting, hingga akhirnya kita seperti ini, pada saat bersamaan hatiku pun tidak bisa menolak. Aku jalani saja dengan minta perlindungan Allah dengan mengandalkan rumus “wait and see”. Yah.. kalo memang Mas ditakdirkan menjadi jodohku dan hal itu semakin memperkuat imanku, Insya Allah aku akan jadi isterimu, Mas! Tapi.. kalo memang akhirnya kita tidak berjodoh, ya tidak apa-apa.” Penjelasannya disampaikan dengan suara mantap tanpa ragu-ragu sedikitpun. Itu bisa terjadi, karena kami toh akhirnya sudah berjodoh, menjadi pasangan suami-isteri.

 

Isteriku pun menambahkan, “Sebetulnya, aku dalam menjalani hidupku saat itu begitu terobsesi dengan ajaran guru ngajiku. Aku mendapatkan beberapa prinsip hidup bagi wanita untuk diterapkan dan alhamdulillah akhirnya kubuktikan. Diantaranya, yang selalu kupegang teguh dan ingin kubuktikan adalah: ‘Wanita yang baik akan mendapatkan Laki-laki yang baik pula ..!’, dan ‘Cinta sesungguhnya antara seorang pria dan wanita hanya ada pada pasangan suami isteri, selain itu hanyalah "emotional love" semata..!’ Aku juga ingat beberapa rumus mengenai pengertian cinta dalam berumah tangga. Kita menikah bukan karena cinta, tetapi untuk mendapatkan cinta. Mas, alhamdulillah.. semua itu ternyata benar dan telah kubuktikan. Aku merasa bersyukur telah dapat mempertahankan prinsip itu, dan membuktikan kebenarannya dalam hidupku.”

 

Lanjutnya,”Itulah sebabnya Mas, segera setelah aku jadi isterimu, dengan seijin Allah, perasaaan cintaku tiba-tiba muncul dengan segenap kerinduan, kekhawatiran, takut kehilangan. Begitu indah yang kurasakan, susah untuk digambarkan, Mas, karena memang belum pernah sebelumnya kumiliki hal demikian”.

 

“Setelah kini aku semakin tua dan punya anak perempuan yang beranjak dewasa, sering aku teringat masa remajaku.. seperti yang sering kuceritakan padamu, Mas! Betapa sangat protektifnya Bapak menjagaku yang membuat diriku kadang merasa tidak nyaman. Namun kini kurasakan, ternyata betapa beruntungnya diriku yang telah dijaga dengan baik oleh almarhum Bapak.”

 

“Karenanya, kini aku sangat menginginkan anak perempuanku untuk senantiasa menjaga dirinya dalam pergaulan. Aku ingin kita menjaganya bersama agar hal itu terwujud. Mudah-mudahan ketika saatnya tiba kita harus menyerahkannya kepada laki-laki yang dipilih Allah untuknya, ia masih suci dalam arti sesungguhnya, tetap terhindar dari sentuhan syetan”.

 

Subhanallaah.. Seharusnya aku lebih bersyukur lagi, karena mendapatkan isteri yang telah berjuang menegakkan dan membuktikan kebenaran ayat-ayat Illahi. Dan.. ketika kami tengah bertukar fikiran dan mencari hikmah bersama, saya pun introspeksi. Saya telah mendapatkan wanita yang masih utuh, yang telah dijaga dengan baik oleh orang tuanya. Saya punya beban moral, bisakah saya menjadi orang tua yang dapat menjaga anak perempuannya agar tetap utuh di jalan Illahi, hingga ke jenjang pelaminan dan menyerahkan kepemilikan kami kepada suaminya kelak.?

 

“Hanya kepada-Mu Ya Allah.. aku menyembah dan hanya kepada-Mu jua aku memohon pertolongan.!”

 

 

---Achamd Djatmiko---

 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Comments

 

Tri Haryati subhanalloh.... betapa bahagianya sobatku ini pny pasangan yg luar biasa... salut Jeng.Smg smkin barokah dan tambah sakinah mawaddah warohmah amin....

 

Mamik Roesdiatmo Allah yaa Rahman yaa Rohim,`kasih` dan `sayang` itu terasa sekali ditulisan BAPAK dn IBU (berdua) ini.`KEJUJURAN` lebih tampak lagi..........kewajaran mahluk ALLAH saling mengasihi.....nah yang ini,KEMIRIPAN yang kami alami.......sungguh mendekatkan hati kami.TRIMA KASIH MAS DJOKO !

 

Agus Badrul Jamal Terima kasih Mas Jat, Mas Jat dan keluarga insyaAllah sudah menemukan cinta sesungguhnya, semoga dijaga oleh Allah SWT, amin. Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a'yun waj 'alnaa lillmuttaqiinaa imaama..

 

Achmad Djatmiko Amin.. amin. Trima kasih atas do'a-do'anya dari semua saudara kami.

 

Adelia Adelia pak, jadi pengen ketemu sama orang yang bisa keliatan rasa rindu dimatanya :p doakan ya paaaaakkk...ps:boleh di-copy lagi yah....:)

 

Achmad Djatmiko Ya deh.. Saya do'akan Ogin sukses..semuanya! Amin

 

Amin Chamin yahnda dan bunda mengingatkan keakraban kami sewaktu di cph,saling bemberi kisah 2 kita masa lalu,semoga abadi dg restu SANG PENCIPTA amin

 

Syarifuddin Hadi Iya .. kayak Ogin juga,,, jadi kepengen ketemu orang yang memiliki tatapan rindu dimatanya.

 

Achmad Djatmiko Mas Hadi... kan udah punya mata.??

 

Maria Yabsley Subhanallah.... hanya membayangkan saya merasa begitu bahagia apalagi bisa merasakan. 
saya masih ingat saat ibu menceritakan ini pada saya pak..
Semoga saya bisa dituntun kejalan yang benar dan bisa memberikan itu semua pada saatnya. Mohon do'anya pak

 

Ramayanti Olii ini namanya Ayat-Ayat Cinta versi Pejambon =)
just beautiful Pak..salam kenal buat belahan jiwanya ya Pak Djat..

Manage

9y · 

Like

Maya Widya pak Djat, subhanallah......kisah yg sangat menyentuh...
Smg menginspirasi semua orang tua untuk selalu menjaga anak2nya
Untuk Jeng Yenny, ...... aku speechless.... …See More

Manage

9y · 

Like

Ludi Herda ·Yen, kebenaran itu memang indah kan. bersyukurlah yang di jalan kebenaran karena menjadi indah. 
Pak Djat, sungguh gamblang! di jalan yang benar pasti mendapatkan kebahagiaan dan ridho Illahi.
Sampai ketemu di reuni perak gladiol84 ya, Insya Allaah!

 

Annie Yunus Djat and Yeni, 
Bikin film dong based on your true love ini...aku rasa akan bisa mengalahkan film "Ayat-ayat Cinta"...so touching..Amazingly Djat, sampeyan masih hafal ya kata2 Yeni 18 thn yang lalu...ck..ck..ck.

 

Achmad Djatmiko Tentu saja masih hapal, karena sering kami bicarakan, ngobrol masa lalu, mencari hikmah dari perjalanan hidup.. Betapa masa lalu sebetulnya bisa jadi pegangan dlm meniti hari-hari ke depan.. Insya Allah.. amin.

 

Diah Wulandari Rubianto so romantisss........

 

Fitriani Pak, cerita2 hidup bpk bisa jd buku buat pelajaran hidup pak...sukses trus ya pak.

 

Ratna Suminar Priatna yeeeeeen......kenangan terindah ya....

 

Ahmad Dahlan pak djat monggo kalo mau second honeymoon..rumah saya di guangzhou..terbuka lebar........

 

Endri Saptono kayak cerita novel Pak, semoga kalian berjodoh selama nya.

 

Yuni Supriyatno subkhanallah maha suci allah, semua adalah kepunyaanya..kesucian dan kemurnian, jodoh hak prerogratif Allah Swt semata...hanya insan insan pilihan Nya yang mendapatkanya...

 

Budi Rahayu Airey Beautiful story, inspiratif! Semoga aku bisa menjaga putriku satu2 nya kejalan yg di ridhoi Allah SWT. Sukses selalu buat Bpk n Ibu Djatmiko. Kalo cerita Ini di buku kan, bisa best seller nih..

 

Dadan Sidqul Anwar Subhaanallah Kang Achmad Djatmiko...semoga senantiasa menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrohmah...berjalan di jalanNya insya Allah membuahkan keb

 

Ambarini Hartomo love story,di Kampus Pleburan.

 

 

 

 

 

 

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now