Keputusan Anakku

August 14, 2018

 

Hari itu, Jum’at 10 Juli 2009, kami (saya dan isteri) pulang dari Queensway Secondary School Singapura untuk bertemu dengan Wakil Kepala Sekolah (Vice Principal). Dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya kami berdua menarik nafas panjang dan bersyukur telah melakukan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya, mengambil keputusan penting bagi masa depannya.

 

“Semoga keputusan kita diridloi Allah, ya Yah..?” Kata isteriku dengan sisa-sisa kekhawatiran masih terdengar dari nada suaranya.

 

“Insya Allah, Nda.. Keputusan yang kita ambil bukanlah keputusan yang emosional, tapi sudah mempertimbangkan baik buruknya. Bismillah… sudah..sudah.. jangan terlalu memberatkan hati..!”

 

Kekhawatiran isteriku memang beralasan karena keputusan tersebut menyangkut masa depan anak tertua kami, Rafifa (15), yang menginginkan keluar/pindah dari sekolah setempat (local school), Queensway Seondary School, setelah menjalaninya selama satu semester. Alasan yang dikemukakannya adalah karena merasa ‘tidak nyaman’ berada di lingkungan sekolah tersebut. Ia merasa terasing, meskipun teman-temannya tidak mengasingkannya.

 

Kami baru saja bertemu dengan Wakil Kepala Sekolah untuk menyampaikan keputusan bahwa Rafifa kami pindahkan dari sekolah tersebut ke Sekolah Indonesia Singapura (SIS). Kami sampaikan permohonan maaf bahwa Rafifa tidak dapat terus bersekolah di Queensway karena merasa tidak nyaman. Ya.. istilah yang digunakan Rafifa untuk menggambarkan kondisinya selama 5 bulan di sekolah setempat tersebut adalah “tidak nyaman”.

 

Kami sadari bahwa keputusan kami ini dapat menimbulkan kontroversi bagi orang-orang yang tidak memahami permasalahan sesungguhnya. Pada umumnya, banyak orang Indonesia ingin bersekolah di local school, dengan berbagai cara agar bisa diterima. Tidak jarang bahkan banyak yang rela harus mengikuti ‘kursus persiapan intensif’ selama setahun sebelum ikut test masuk.

 

Lain halnya dengan Rafifa, begitu datang dan ikut test, alhamdulillah ia lulus dan diterima di Secondary Two Express, yang berarti hanya perlu 2 tahun lagi untuk menyelesaikan Secondary levelnya. Namun, setelah menjalani sekolah selama satu semester, ia kemudian menyatakan “tidak nyaman” dan ingin pindah. Apa arti sebuah “kenyamanan” sesungguhnya, sehingga kami harus mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh?

 

Berawal dari suatu malam seminggu sebelumnya, kami ngobrol iseng dengan Ifa (panggilan Rafifa) mengenai perkembangan kegiatannya di sekolah. Setelah hampir satu semester, kami tentunya ingin tahu apakah ia “fine-fine” saja dan bisa mengikuti pelajaran. Dengan enteng, Ifa menyatakan bahwa ia merasa ‘oke”, tidak ada masalah, terutama dengan pelajaran. Menurutnya, pelajarannya lebih mudah dibanding ketika ia sekolah di Indonesia (Bekasi). Hanya saja, tugas-tugas untuk tiap pelajaran memang banyak dan setiap hari bisa dipastikan pulang ke rumah membawa Pekerjaan Rumah (PR).

 

Mendengar penjelasan seperti itu, tentu saja sebagai orang tua kami merasa bersyukur. Kemudian, aku pun mengajukan pertanyaan lain di luar urusan pelajaran. “Gimana dengan teman-temanmu? Apakah mereka bisa menerima kehadiranmu sebagai anak baru?”

 

Dengan enteng pula Ifa menjawab, “Nggak masalah sih. Mereka semuanya cuwek aja, kita bergaul tidak ada hambatan. Dan memang kayaknya anak sini kurang agresif Yah, tidak terbuka seperti kebanyakan temen-temen Ifa waktu di Bekasi..”

 

Lalu lanjutku, “Ifa sendiri gimana? Merasa betah kan, dengan kondisi temen-temen seperti itu?”

Lalu dijawab, “Ya… betah-betah aja..”

 

“Betah-betah aja gimana, maksudnya? Ifa sedang mencoba untuk betah.. atau lagi memaksakan diri untuk betah..?” kataku agak mendesak.

 

Ia pun terdiam sejenak. Sementara sambil menunggu jawaban Ifa berikutnya, aku pun melanjutkan, dengan nada sedikit bercanda, ”Atau… Ifa mau pindah aja ke sekolah Indonesia.?”

 

Pertanyaanku terakhir maksudnya sekedar bercanda. Tapi di luar dugaan, ia menanggapinya dengan serius, “Iya.. boleh..boleh.. Yah..” dengan nada yang antusias.

 

Aku dan isteriku sungguh terkejut, bagai terkena petir di siang hari bolong. Sebab, pilihan untuk sekolah di local school sebelumnya merupakan keputusan yang kami anggap tepat dan sudah dipertimbangkan masak-masak. Terus terang, pertimbangannya antara lain karena faktor kualitas, mengingat sistem pendidikan di Singapura termasuk diantara yang terbaik di dunia. Apa salahnya, mumpung kami ditugaskan dan berdomisili di Singapura, Ifa ikut mengenyam sistem pendidikan yang “berkualitas”, demi masa depannya.

 

Tapi pernyataannya untuk pindah sekolah menjadikan kami tiba-tiba tersentak, dan merenung sejenak. Sejurus kemudian isteriku pun lalu bertanya: “Mbak Ifa, coba jelasin sama Ayah, sama Bunda, kok mbak Ifa njawabnya begitu? Bener nih ingin pindah dari sekolah ‘Queensway’..?

 

“Iya.. tapi, itu juga kalo ayah sama Bunda mengijinkan..” Jawabnya lirih.

 

“Lho… ayah sama bunda, insya Allah akan mengijinkan selama itu demi kebaikan masa depan Ifa. Tapi, kan ayah sama bunda perlu tahu dulu, apa alasannya, Mbak?” Lanjut isteriku.

 

Sejenak Ifa terdiam, kami semua pun terdiam. Suasana hening untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Ifa bercerita, ”Sebenernya Ifa mulai jenuh.. karena nggak ada temen deket yang bisa diajak main..”

 

Aku pun langsung menanggapi, “Ya memang harus sabar Mbak. Ifa kan anak baru, jadi belum punya, belum nemu temen deket yang klop..”

 

Lalu Ifa pun menceritakan bahwa dalam pandangannya, semua temen-temennya di kelas sebetulnya jarang sekali bermain dan bersenda gurau. Mereka semua sehari-harinya tenggelam dalam kesibukan memikirkan pelajaran, sehingga suasana lebih banyak seriusnya. Andaikata suatu saat mereka bermain satu dengan yang lain, meskipun jarang terjadi, cara bermainnya masih sangat “childish”, kekanak-kanakan. Mereka masih suka main lari-larian, petak umpet, saling mengejek dan sejenisnya.

 

Mendengar penuturannya seperti itu, kami berdua tercenung. Meski nampaknya sepele, tapi perlu kami waspadai karena bisa mempengaruhi kejiwaannya. Lalu kami pun sama-sama melakukan flashback, melihat ke belakang mengenai keadaan Ifa sehari-hari setelah berada dan menjadi pelajar Singapura. Kami akui, memang keceriaannya lambat laun hilang, Tiap hari, sepulang dari sekolah, ia akan mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar kamar saat makan, sedangkan selebihnya digunakan untuk berada di kamar, mengerjakan tugas-tugas sekolah yang selalu banyak. Akibatnya, kami jarang ketemu dan berbasa basi, seperti layaknya orang tua dan anak. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, ia lebih sensitif, mudah tersinggung dan emosional dalam menghadapi segala hal.

 

Astaghfirullaah.. kami rupanya sempat lalai dan meremehkan persoalan. Betapa persoalan Ifa tidaklah sesederhana yang kami bayangkan. Betapa masalah yang menyangkut dirinya, tidaklah selesai hanya dengan cara “berhasil” diterima di local school, untuk menikmati sistem pendidikan yang berkualitas. Apa gunanya semua itu, bila ternyata anak kami akhirnya berubah sosok dan tabiatnya. Berubah menjadi pribadi yang tidak lagi punya pergaulan dan kepekaan sosial. Ya..ya.. bukan hanya itu saja! Ia pun mulai tidak care dalam mengerjakan shalat lima waktu. Ya Allah.. ampunilah hamba-Mu. Beri petunjuk dan jalan yang lurus untuk membimbing anak kami agar senantiasa di jalan-Mu…

 

Yang lebih mengejutkan lagi, salah satu argumen Ifa mengapa ia ingin pindah adalah karena ia butuh teman bermain dan punya kegiatan lain, selain belajar. Dan.. bila ia pindah ke SIS, maka ia akan bisa memakai jilbab lagi selama sekolah, seperti yang selalu ia kenakan sebelumnya di salah satu sekolah di Bekasi. (Memang di sekolah setempat, para siswa tidak dibolehkan memakai jilbab/kerudung).

 

Kami beri ia waktu semalam untuk berfikir, padahal sebetulnya juga kami perlu waktu untuk memikirkan lagi keputusan apa yang harus diambil, agar tidak terlalu tergesa-gesa. Dan, keesokan malamnya, saat kami tanya kemantapannya untuk pindah sekolah, Ifa pun dengan mantap mengatakan bahwa ia sudah siap untuk pindah sekolah. “Kalo Ayah sama Bunda mengijinkan, Ifa pindah aja deh.. Bismillah..”. Begitu jawabnya dengan mantap.

 

Akhirnya Ifa pindah sekolah ke Sekolah Indonesia Singapura (SIS), sebuah sekolah yang memiliki kurikulum Indonesia, murid dan pengajarnya pun orang Indonesia. Dengan keterbatasan yang ada, ia berhasil menamatkan SMU di SIS. Waktu pun berlalu, peristiwa itu terjadi 4 tahun lalu. Kini Ifa melanjutkan kuliahdi salah satu perguruan tinggi negeri di Jogyakarta. Tidak bisa lagi setiap hari berkumpul dengan orang tua. Semoga ia jadi anak/wanita yang shalehah kelak, dengan tetap menjaga harga diri dan kehormatannya, berpegang teguhpada nilai-nilai agama. amin..   (Maastricht, 19 Nov 2013)

--------------------------------------------------------------------------------------------------

13 Comments

 

Thea Pantow Setuju, anak saya pun merasa tidak nyaman di local school karena alasan yg sama, anak jd stress karena merasa tidak nyaman, terima kasih sharingnya berarti yg dirasakan anak saya itu bukan cuma dia yg merasakan.

 

Atin Dewi Wis Success Slalu Buat BPK & IBU Juga Anak"nya
Amiiin,,,YRA

 

Dadan Sidqul Anwar mantaf Kang ...di Maastricht menghasilkan refleksi perjalanan maknawi dimana pilihan anak tidak terjebak pada pesona fatamorgana lebel luar negeri...semoga menjadi anak sholehah yang selalu mendoakan orang tuanya

 

Achmad Djatmiko Amin Kang Dadan Sidqul Anwar , nuhun.. Mencari hikmah di jalanan, memungut kisah di masa silam... hehehe..

 

Dadan Sidqul Anwar Hikmah dan cahaya Allah memang tidak berbatas, bisa datang kapan saja, dimana saja dan dari mana saja, dengan siapa saja, mugi nambah keimanan urang sadaya...wilujeng

 

Haryo Pangarso Terima kasih mas Achmad Djatmiko :-) ...

 

Asri Wirasoedirdja Terima kasih sharingnya pak.. sangat bermanfaat kampipun skrg berjauhan dgn si bungsu tapi saya lhat meski banyak PR tapi dia tetap ceria karena mash ada waktu untuk bermain bersama teman sebaya. salam hangat dari HK

 

Ambarini Hartomo Keputusan yang betul2 mendapat Ridhlo Allah,semoga hari depannya lebih cerah lagi.,salam buat Iffa dan bundanya.

 

Yati R Henriksen Salam buat semua dr Jkt.

 

Norhadi Mohd Nor salam dari spore..bpk.

 

Kenssy D. Ekaningsih Jat yg baik, ceritanya ini perlu jadi bahan renungan utk para ortu, termasuk saya yg kadang suka "maksa" anak2 utk ikuti keinginan mbok nya..terima kasih sdh berbagi dan salam utk Ifa danYenny.

 

Nahdilah jazakillah share pengalamannya . semoga bisa jd contoh utk para ortu ... miss U all .. smg mbak ifa dan mas hanif jd anak2 sholekhah dan sholeh ...

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now