Jasmiati

August 14, 2018

 

Suatu hari di bulan Juli 2009, sehabis menunaikan shalat maghrib di masjid Istiqomah KBRI Singapura, aku bersiap pulang bersama anakku, Hanif. Kami dekati shaf wanita untuk mengajak isteriku bersama-sama pulang. Namun niat itu kami urungkan ketika kulihat isteriku sedang asyik ngobrol dengan salah seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang memang sering kami jumpai di Masjid setiap waktu shalat tiba, namanya Jasmiati dari Cilacap.  Kami tunggu sesaat hingga obrolan mereka selesai, sementara terlihat jamaah TKW lainnya satu persatu mulai meninggalkan Masjid. Namun, hingga jamaah bubar, isteriku dan Jasmiati ternyata masih juga berbincang-bincang hingga saya pun mendekati mereka.

 

“Ini asyik sekali sih, ngobrolnya?” Tanyaku. Mereka nampak kaget mendengar teguranku karena mungkin terlalu tenggelam dalam pembicaraan. Isteriku lalu menjelaskan bahwa Jasmiati sedang bingung mengenai keadaan dirinya saat ini. Ia  bingung setelah mendengar kabar terakhir dari Konsuler bahwa kasus penganiayaan yang menimpa dirinya, sesuai laporan Polisi Singapura, akhirnya dinyatakan selesai di Pengadilan.

 

“Iya, saya tahu. Tadi sudah dapat berita, kasusnya Jasmiati udah selesai. Jadi ya udah bisa pulang..” Kataku.

 

“Terus? Kenapa malah bingung? Alhamdulillah dong.. mestinya kamu bersyukur dan seneng... sebentar lagi bisa kembali kumpul sama keluarga di desa.. ketemu orang tua, anak, saudara.?” Kataku kemudian menimpali dengan nada yang bingung juga.

 

Setelah ditunggu siang dan malam, tinggal sementara di Penampungan selama dua setengah tahun lebih, berdo’a mengharap yang terbaik dari Allah, alhamdulillaah akhirnya masa penantian dan ketidakpastian pun berakhir. Jasmiati akhirnya sudah bisa meninggalkan Penampungan di KBRI Singapura, mestinya dengan perasaan lega. Pada umumnya, TKW bermasalah yang berada di “Penampungan” mengharapkan kasus yang menimpanya segera selesai sehingga bisa cepat pulang ke kampung halaman, ataupun berganti majikan.

 

Tidak demikian dengan Jasmiati. Ia justeru bingung, yang ternyata disebabkan dua hal: Pertama, ia belum tahu apa yang harus dikerjakannya sesampai di kampung. Yang ada dalam pikirannya adalah bahwa ia akan berkumpul bersama anaknya yang baru berusia 3 tahun, tanpa kegiatan dan pekerjaan yang jelas, karena sudah bercerai dari suaminya. Kedua, ia khawatir tidak bisa lagi beribadah shalat dan ngaji secara khusuk di kampungnya, sebagaimana yang ia alami di Penampungan selama ini. Masyarakat di kampungnya, termasuk orang tuanya, bukanlah masyarakat yang agamis, bahkan termasuk tidak peduli dengan agama. Dia khawatir akan dicemooh oleh tetangga sekitar bila terlihat berpenampilan lebih islami dan lebih rajin beribadah.

 

Sebuah kondisi khas yang terbalik ternyata telah berlaku atas Jasmiati. Setelah akhirnya kami sempat berbincang-bincang, ternyata ia betul-betul sedih akan pulang ke kampung. Ia baru menyadari bahwa masa penantian di Penampungan telah membuat dirinya seperti terlahir kembali. Waktu luang yang setiap hari ia gunakan untuk belajar shalat dan mengaji, ternyata telah merubah dirinya menjadi sosok yang tenang, bahagia dan ikhlas menerima dan menjalani nasib. Jasmiati pun merasa “betah” dengan suasana keseharian di lingkungan Penampungan yang ingin dia bawa juga ke kampungnya.

 

Sungguh sebuah alasan yang sepertinya mengada-ada bagiku. Tapi, lalu aku pun jadi terkejut setelah menyadari bahwa Jasmiati, seorang TKW yang masih muda usia, beranak satu, ternyata telah diberi hidayah oleh Allah selama di Penampungan. Ia bisa mengaji dan baca Quran dengan cara belajar sendiri dan bertanya kesana-kemari kepada orang-orang yang dia anggap ahli, selama di Penampungan. Subhanallaah! Aku seperti tidak percaya mendengarkan ceritanya. Ia ternyata baru bisa shalat setelah berada di Penampungan, dan ia pun ternyata baru bisa membaca Qur’an pun setelah di Penampungan.  Allaahu Akbar.!!

Maha Besar Allah dengan segala Kehendak-Nya..

 

Ia berada di “Penampungan” karena kabur dari rumah majikan setelah dianaya oleh si majikan. Matanya sebelah kanan, ketika pertama tiba di Penampungan KBRI, luka berat, babak belur sehingga hampir tidak bisa melihat. Seluruh mukanya penuh lebam di hampir seluruh bagian. Mata kanan yang luka tersebut telah diobati sehingga secara fisik kini nampak normal, meskipun daya penglihatannya tidaklah seperti semula. “Seperti rabun, Pak..!” begitu dia menggambarkan kondisi matanya saat itu. Kasus yang dialaminya tentu saja menjadi kasus kriminal yang kemudian ditangani oleh Polisi Singapura dan masuk ke pengadilan. Seperti halnya kasus penganiayaan yang lain, majikan akhirnya dinyatakan bersalah dan harus mengganti kompensasi dan juga dipenjara untuk kurun waktu tertentu.

 

Untuk sampai pada hasil akhir sidang, biasanya dibutuhkan waktu cukup lama, bahkan kadang bisa bertahun-tahun karena begitu banyak kasus serupa yang harus ditangani oleh polisi dan pengadilan. Meskipun demikian, hampir setiap kasus, menurut pandangan kami, berakhir secara obyekif dan fair, sehingga tidak jarang kasus TKW Indonesia diberitakan di media massa setempat secara mencolok, lengkap dengan si majikan sebagai terdakwa yang akhirnya dijatuhi hukuman setimpal, biasanya berupa hukuman penjara dan kompensasi ganti rugi berupa sejumlah uang yang cukup besar..

 

Sejak aku mengenalnya diantara sekitar 120 TWK penghuni Penampungan lainnya, Jasmiati memang agak lain diantara teman-temannya yang kebanyakan “bandel”. Karena ia amanah dan rajin, kami di KBRI tidak ragu-ragu untuk memintanya membantu mengerjakan beberapa urusan kebersihan maupun urusan ringan di kantor. Kadang ia pun main ke rumah, untuk curhat atau pun sekedar ngobrol dengan isteriku, atau bahkan pembantuku. Kedekatan kami dengan Jasmiati, karena sering bertemu, menjadi tanpa hambatan sehingga layaknya seperti antar saudara. Kapan pun dia bisa datang ke rumah tanpa hambatan. Demikian pula sebaliknya, kapanpun kami membutuhkan pertolongan, bisa memintanya setiap saat untuk itu. Namun, pertemuan yang paling sering terjadi antara kami sekeluarga dengan Jasmiati adalah justeru di masjid, pada saat menunaikan shalat berjamaah.

 

Adalah menjadi kebiasaan kami sekeluarga untuk berusaha selalu shalat di Masjid KBRI, utamanya Shubuh dan Maghrib. Tiada lain yang kami inginkan selain memanfaatkan keberadaan masjid yang lokasinya sangat dekat dengan tempat tinggal, masih di dalam kompleks perumahan KBRI. Apalagi sebagai seorang muslim, salah satu kewajibannya adalah memakmurkan masjid.

 

Sudah 6 bulan aku bertugas di KBRI Singapura saat itu dan alhamdulillah aku bisa rutin setiap pagi ke masjid untuk shalat subuh. Akulah, saat itu, orang pertama yang menghidupkan lampu masjid menjelang subuh. Tidak hanya itu, aku juga lah yang melantunkan adzan dan iqomah, serta aku juga lah yang kemudian menjadi imam sekaligus makmum, kalau anakku, Hanif, sedang tidak ikut shalat. Kadang-kadang saja ada makmum satu atau dua orang dari anggota kompleks, tetapi tidak rutin. Tetapi lebih seringnya, aku sendirian saja.

 

Dari begitu banyak kesan dan kenyataan menarik yang kualami dan terjadi pada setiap waktu subuh adalah bahwa sesampainya di Masjid, selalu ada salah satu lampu remang-remang yang sudah menyala yang kalau diperhatikan dari luar tidaklah nampak. Ketika sampai di dalam masjid, yang masih cukup gelap, barulah saat itu aku tahu bahwa lampu tersebut telah menyala, di bagian barisan belakang yang diperuntukkan bagi jamaah wanita. Tetapi lampu tersebut tidaklah menyala sendirian, melainkan bersama Jasmiati yang sedang membaca Quran. Kenyataan tersebut selalu kualami setiap pagi sebelum Subuh. Subhanallaah!

 

Dengan demikian, anggota jamaah tetapku setiap shalat subuh adalah hanya Jasmiati, yang datangnya selalu lebih dulu dariku. Ia selalu shalat tahajud dan membaca Quran hingga datangnya waktu Subuh. Kadang-kadang saja jamaah agak ramai jika para TKW lainnya banyak yang ikut, hanya musiman, namun tidak jarang ia sendirian atau dengan beberapa orang TKW saja. Inilah kenyataannya! Seperti terjadi dimana pun juga, shalat subuh masih tetap menjadi komoditas mahal dan jarang peminatnya. Padahal, aku ingat betul, ada hadits yang mengatakan bahwa :

 

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafiq adalah shalat isya dan shalat fajar, seandainya mereka mengetahui keutamaan yang terdapat padanya niscaya mereka pasti mendatanginya dengan cara merangkak, sungguh aku ingin untuk mendirikan shalat, kemudian aku memerintahkan seorang lelaki untuk mengimami shalat, kemudian aku pergi bersama sekelompok orang yang membawa kayu bakar menuju kaum yang tidak menghadiri shalat berjama’ah untuk membakar rumah mereka dengan api”. (Al-Bukhari: 657 dan Muslim: no: 651)

 

Meskipun tidak henti-hentinya dalam berbagai kesempaan aku ingatkan kepada para TKW yang tengah berada di Penampungan untuk rajin shalat dan berdo’a di masjid, namun aku prihatin mendapati kenyataan bahwa ternyata mengajak kebaikan tidaklah semudah yang dikatakan. Dalam rangka pembinaan terhadap para TKW di Penampungan, ketika aku masih ditugaskan menangani mereka saat itu, yang selalu aku tekankan adalah bahwa,

 

“Kalian semua yang ada disini adalah bermasalah. Sadarilah itu! Tidak ada satu pun diantara kalian yang bercita-cita untuk kabur dari majikan dan lari ke Penampungan KBRI, kan? Tetapi, siapa yang membikin kalian jadi bermasalah? Tidak lain kecuali Allah.. Allah yang memberi kalian masalah, dan hanya Allah jua lah yang dapat menyelesaikan. Karena itu, selalu berdo’a dan shalat untuk meminta ketenangan, meminta penyelesaian dan diberi petunjuk. Kami semua disini, di KBRI, hanyalah petugas, berusaha menolong kalian sedapat mungkin menyelesaikan kasus. Tapi.... usaha kami tidak akan berhasil bila tidak diijinkan Allah.. Karenanya,  saya mohon betul.. bantuan kalian untuk ikut berdo’a..”

 

Sehari sebelum pulang, Jasmiati datang ke rumah untuk pamitan kepada kami sekeluarga. Ia menangis berpenjangan.. dalam pelukan isteriku.

 

“Bu…ibu.. aku pamit ya Bu..” Kata Jasmiati 

 

“Iya..iya..Jas.. Kamu gak boleh sedih begitu.. malah harus bersyukur. Kasusmu udah selesai, tuntas, alhamdulillaah.. bisa pulang kembali ketemu anakmu di kampung.. Apalagi, coba? Kamu sudah diberi Allah kesempatan untuk menata kembali masa depanmu dengan lebih baik lagi Insya Allah.. Dan juga, dapat pengalaman selama hampir tiga tahun di negeri orang, yang bisa kamu ambil hikmahnya.. iya, kan?” Kata isteriku.

 

“Iya..iya..Bu..” katanya sambil masih terus menangis terisak-isak

 

“Nah.. apa lagi yang harus kamu tangisi, sesali.? Kamu harus tegar, bismillaah, melangkah lagi ke depan dengan iman yang lebih kuat.. iya, kan?”

 

“Iya Bu.. saya bersyukur Bu.. Saya bersyukur…Bu, tapi saya sedih..”

 

“Kenapa Jas.. kenapa Sedih? Bismillaah, Ibu dan Bapak, kita semua mendoakanmu semoga lancar, sukses dan selalu dilindungi Allah swt. Untuk menuju masa depan yang lebih baik”.

 

“Saya sedih, karena harus berpisah dengan Ibu..dengan bapak..dengan Emak (panggilan untuk pembantuku) dan adik-adik..disini”

 

“Astagfirullaah, Jas, kenapa begitu..?” Kata isteriku kaget.

 

Jasmiati kemudian tidak bisa menjawab lebih lanjut, tetapi malah menangis semakin kencing seperti tidak sadarkan diri, tenggelam dalam kesedihan.

 

“Sudah…sudah..istigfar, Jas..istigfar..!” kata isteriku mencoba menenangkan.

 

“Bu..pak.. Ya Allah, aku akan kehilangan.. kehilangan Ibu dan Bapak yang sudah saya anggap orang tua sendiri.. bakalnya tidak bisa lagi saya..saya tiap hari ketemu, saya merasa mendapatkan kasih sayang disini, saya merasa…” Jasmiati tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya, selain terisak-isak dan menangis lagi..

 

Suasana memang sangat haru, layaknya seperti sebuah adegan dalam sinetron. Tapi… ini sungguhaan, bahkan aku ikut jadi pemain di dalamnya. Isteriku pun ikut terlarut dalam keharuan sehingga sejenak suasana hening tanpa sebuah kata pun yang terucap. Akhirnya aku putuskan bahwa inilah saatnya giliranku berbicara..karena sedari tadi hanya menjadi penonton dan pendengar yang baik…

 

“Jas…” Aku mengawali kalimatku dengan setenang mungkin, sebelum kamudian kulanjutkan, “Bukan hanya kamu yang akan kehilangan.. kami pun akan merasa kehilanganmu. Dan…ingat, juga bukan hanya kami yang kehilangan kamu, tapi masjid itu, yang selalu kamu datangi lima hari sekali….pun akan kehilanganmu.. Lantai nya pun demikian… dia telah menjadi saksi ketekunanmu kepada Allah dalam berdo’a,  dalam bersujud n tahajud setiap malam, dan tadarusan menjelang subuh....”

 

Aku sengaja berhenti sejenak, agar tidak membosankan. Kulihat isteriku, Jasmiati dan pembantuku yang duduknya agak jauh dibelakang mereka, nampak menyimak ucapanku.

 

“Itulah manusia..itulah kehidupan dunia, Jas.. tidak ada yang kekal, semua ada akhirnya. Makanya, jadikanlah setiap kesempatan menjadi manfaat shg tidak menyesal di kemudian hari.

 

Kita berpisah hanya masalah tempat Jas.. tapi kan masih sama-sama di dunia? Artinya, masih bisa bersilaturahmi pake telpon atau SMS. Jangan dipikir! Kamu, bismillah, besok menuju airport lalu pulang dengan satu niat.. melangkahkan kaki ke depan, menuju kehidupan baru yang lebih baik..ya.. insya Allah lebih baik.

 

Bapak minta, jadikan ketekunan ibadahmu selama ini, tetap bersamamu selalu, sampai kapan pun, sampai akhir hayat. Apapun kata orang atau tetanggamu, tetaplah shalat 5 waktu dan minta pertolongan Allah..

 

Kita saling mendo’akan ya Jas.. udah, jangan ragu-ragu, Allah swt akan selalu melindungimu dan kita semua. Tidak perlu ada yang ditakutkan…” Kurang lebih, itulah pesan-pean yang dapat kusampaikan padanya saat itu, pesan terakhir menjelang kepulangannya ke Cilacap. 

 

Kepergian Jasmiati adalah kepergian biasa dan tidak ada yang istimewa karena hal seperti itu hampir tiap hari terjadi. Dengan jumlah TKW setiap hari rata-rata sekitar 120 orang di Penampungan, maka hampir tiap hari KBRI mengantar kepulangan TKW yang sudah selesai kasusnya. Seorang petugas dari KBRI akan mendampingi TKW bersangkutan, jumlahnya beragam, hingga sampai airport untuk selanjutnya mereka menuju ke kampung nya masing-masing. Hal seperti itu pun berlaku untuk Jasmiati.

 

Tetapi, rupanya, kepergian Jasmiati menjadi hal tidak biasa bagiku. Ya, sungguh tidak biasa! Setelah kepergiannya, saya sering merasa kaget, merasa aneh, merasa kesepian dan kadang-kadang sedih. Perasaan seperti itu terutama aku alami pada pagi hari setiap datang ke masjid untuk shalat subuh, di hari-hari pertama sejak kepergiannya. Setiap aku tiba di masjid untuk menyalakan lampu sebelum shalat subuh, aku jadi merasa sendirian, merasa kesepian dan kehilangan seorang patner… Betapa tidak? Sejak itu, tidak ada lagi lampu remang-remang di shaf wanita yang menyala lebih dahulu, dengan seorang TKW sendirian disitu, sedang berdoa dan membaca Quran. Kadang kutatap tempat tersebut, dimana Jasmiati biasanya duduk dan membaca Quran sambil menanti datangnya adzan…

 

“Ya Allah… hikmah apa lagi yang Kau berikan, kali ini..?” Begitu pikirku saat itu. Dan untuk beberapa saat, secara kebetulan, aku memang kemudian mengalami kesendirian dalam arti yang sebenarnya. Aku  melaksanakan shalat tanpa seorang pun bersamaku, baik TKW maupun penghuni kompleks. Aku sendirian menjadi imam tanpa satu pun jamaah bersamaku, kecuali mungkin para jin?  Dan… dalam kesendirian itu pula, suatu pagi, aku mengalami munculnya jamaah yang tak diundang ikut shalat bersamaku.

 

Seperti biasa, meskipun sebenarnya aku sendirian, menjadi imam yang tanpa makmum, tapi bacaanku kukeraskan, bahkan dengan microphone, agar terdengar sampai keluar, dan juga agar terkesan masjidku ini ramai orang dan jamaah. Suatu pagi, ketika aku sedang menjadi imam tanpa seorang pun makmum di belakangku, terjadilah keanehan. Pada saat aku selesai melantunkan surat Al-Fathihah di rakaat pertama, terdengarlah suara orang-orang seperti serentak dan bergemuruh menyatakan “Amiiiin” di belakangku. Demikian pula pada rakaat kedua, suara “amiin” setelah al-Fathihah tetap ada, meskipun tidak sekeras sebelumnya. Masya Allah! Ada apa ni? Suara siapakah berusan yang meng-amini Fathihahku? Padahal aku tahu betul bahwa tidak ada satu pun jamaah yng hadir saat itu. Aku pun akhirnya tersadar, ternyata ada makmum yang tidak nampak kasat mata di belakangku.

 

Waktu pun berlalu, dan setelah itu jamaah subuh pun perlahan bertambah, terutama dari para TKW baru yang sering kuperingatkan untuk selalu berdoa agar kasusnya cepat selesai. Bayangan Jasmiati perlahan menghilang, berganti dengan suasana baru yang lebih ramai. Sebelum aku datang ke masjid, beberapa lampu sudah menyala menandai beberapa jamaah sudah disana. Tidak l agi hanya seorang (jasmiati) seperti dulu, tetapi beberapa orang. Alhamdulillaaah.. Dan hal itu berlangsung beberapa waktu, sebelum kemudian menjadi sepi kembali. Begitulah, suasana tidak menentu, pasang surut terjadi dalam shalat berjamaahm yang memang sangat tergantung pada individu masing-masing TKW.

 

Empat bulan setelah kepergiannya, saat itu bertepatan Hari Lebaran, sehabis shalat Id, Jasmiati menelpon isteriku meminta maaf lahir dan bathin, dengan suaranya yang riang gembira. Ia bercerita bahwa anaknya ternyata sangat senang menerima kedatangannya. Ia merasa bahagia, meskipun belum tahu apa yang akan diperbuat ke depan. Alhamdulillah, berarti keadaan tidaklah seburuk yang ia bayangkan. Terdengar jelas dari nada bicaranya, bahwa ia sangat bahagia, terutama karena menikmati kebersamaan dengan anaknya. Kami pun tak lupa menyampaikan maaf lahir bathin dan mendoakannya semoga baik-baik saja.

 

Waktu demi waktu berlalu dan hany akadang-kadang saja Jasmiati mengontak kami melalui Pembantu kami, memberi tahu keadaannya baik-baik saja, disertai amanah agar menyampaikan pesan, “Mak salam ya untuk Bapak dan Ibu.. Aku kangen..kangen sama kebaikannya, sama nasehat-nasehatnya.. Kapan yo bisa ketemu..?” Mendengar berita seperti itu, aku dan isteri hanya bisa tersenyum dan bersyukur bahwa Jasmiati tetap baik-baik saja.

 

Pada beberapa hari menjelang lebaran berikutnya (2011), Jasmiati menelpon kami dan mengabari hal yang sama mengenai keadaannya di kampung. Katanya ia bersyukur masih bisa shalat dan mengaji. Di rumah pun ternyata tidak ada masalah, karena menunggu anak ternyata terasa sangat nikmat. Lalu ia pun tak lupa menyampaikan status dirinya saat ini yang alhamdulillaah sudah menikah lagi. “Mohon do’anya ya Pak, Bu, semoga saya menjadi keluarga yang bahagia..!” katanya.

 

Setahun berlalu sejak ia menelpon kami pada bulan puasa di Singapura. Kini kami telah dipindah-tugaskan ke Konsulat Jenderal RI di Kuching, Sarawak. Beberapa hari yang lalu, menjelang berbuka, Pembantu kami menyampaikan berita bahwa Jasmiati baru saja menghubungi via telpon dan titip salam. Ia cerita bahwa suaminya bekerja di Yogya, sementara ia di CIlacap menunggui anaknya sekolah. Seminggu atau dua minggu sekali suaminya pulang atau dia yang menyusul ke Yogya. Suaminya bekerja menjadi tukang sablon di Yogya. Terakhir yang ia minta disampaikan adalah, “Mak, bilang sama Bapak dan Ibu ya, saya kangen. Oh iya, bilang juga sama Bapak juga, saya pulang dari Singapura tidak bawa harta tapi membawa iman dan kebahagiaan. Bilang ya Mak, seperti yang dipesankan Bapak, saya masih tetep shalat dan baca Quran..!

 

Aku tidak bisa berkata apa-apa mendengar Pembantuku antusias bercerita tentang berita telpon yang diterimanya dari Jasmiati. Aku tidak bisa bilang apa-apa selain. “Wa’alaykumussalam. Suwun Mak, beritanya. Mudah-mudahan tetep bahagia dan dimudahkan segala urusan oleh Allah untk jadi keluarga yang sakinah.. amin”.

 

Itulah Jasmiati.  Sebuah kisah perjalanan singkat, unik dan sederhana mengenai  seorang TKW yang penuh kenangan bagiku. Betapa Allah telah memberiku banyak hikmah melalui seorang Jasmiati, yang bukan siapa-siapa, tetapi menjadi perantara bukti kekuasaan-Nya. Bahwa semua peristiwa dan masalah pasti ada akhirnya, bahwa semua usaha pasti ada hasilnya, bahwa kebahagiaan bisa didapatkan oleh setiap umat dalam cara yang berbeda, dan..betapa perlu perjuangan tersendiri untuk mempertahankan dan menegakkan iman. Wallahualam…..

 

(Kuching (Sarawak), 12 Ramadhan 1433 H)

30 Juli 2012

 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

COMMENTS:

 

Ramli Saud Catatan indah Pak Achmad Djatmiko........,Jadikan satu novel relijius pasti bagus Pak. Terima kasih sudah share dengan saya.

 

Achmad Djatmiko Terima kasi Pak Dubes Ramli Saud..

 

Toto Sutriyono Subhanallah..... dengan segala kehendak dan hidayahNya.

 

Rumyati Vestergaard Subhanallah.......Allah hu akbar.

 

Annie Yunus Subhanallah...luar biasa tulisan Pak Djatmiko ini....

 

Mamik Roesdiatmo BINTANG SEPULUH.ASSALAMUALAIKUUM.

 

Iskandar Tarigan Ai laik dis

 

Arief Rahman Saya suka. Tulisan ini benar-benar menjadi mutiara hikmah dan pelajaran bagi saya juga Pak. Saya share ya Pak?

 

Mbah Dharmawan Luar biasa, ceritanya, semoga sukses selalu mas Djadmiko

 

Ijal Usman Almahdalie sangat menggugah hati dan menyentuh... sampai meneteskan airmata....

 

Agus Badrul Jamal Terima kasih Mas Jatmiko atas share nya...sangat menyentuh, dan semoga menjadi penggugah untuk kita semua...

 

Gamma Arifian Siddik Alhamdulillah, saya bertemu dengan salah satu orang yang meluruskan saya di Singapura...

 

Lia Yaniarti Di penampungan juga saya ketemu tidak sedikit teman2 TKW yg rata2 mendapat masalah karena punya background kepergiannya tidak direstui oleh suami atau orang tuanya...dilematis TKW; dilematis social gap dan socio psikologis Endonesa..kapan ya bisa berakhir?:(

 

Nenes Susilawati Luar biasa...thanks pak jatmiko

 

 

Agnes Biantoro SubhanaALLAH ... trimakasih bapak, sdh berbagi cerita .... mengingatkan saya yg juga baru bisa membaca Alquran setelah pindah k kuching dan bertemu dng ibu2 yg luar biasa sabar mengajari sy ...

 

Ridwan Salim Sanad Masya Allah...luar biasa kisahnya...trims sudah berbagi, Pak..

 

Ridwan Salim Sanad saya ijin share ya, Pak.

 

Achmad Djatmiko @ Arief Rahman dan @ Ridwan Salim Sanad , silakan kalo mau di-share, semoga bermanfaat.. amin

 

Ridwan Salim Sanad trims, Pak.

 

Fendaby Surya terima kasih pak djatmiko tulisannya. sangat menyentuh .. apakabar pak di kuching?

 

Achmad Djatmiko Fendaby Surya : khabar baik< alhamdulillah.. Gimna TND msh tetep jalan? Salam...

Manage

 

Ambar Sumantini tq share mas jatmiko, sangat menyentuh.

 

Kiswara Panca Wardhani Inspiratif Pak .... pengalaman pribadi yg mengesankan. Insya Allah jd amal jariyah panjenengan. Amin. Ikut share ya Pak ... salam buat mbak Yeni Saputri Djatmiko.

 

Wita Sholhead Jat, tulisanmu betul-betul indah, penuh inspirasi, dan yang pasti "Jasmiati" menggugahku untuk semakin mendekatkan diri dan meningkatkan ketaqwaan pada Allah SWT dalam umur yang semakin bertambah. Salam untuk keluarga

 

Fajar Krisna Caturangga Subhanallah, buat saya tulisan Bapak sangat menggugah.. saya termotivasi untuk slalu bersyukur dan beribadah dengan lebih baik lagi... Makasih Pa..

 

Wahidah Kian subhanalloh, semoga dengan pengalama yang mas djatmiko dan mba yeni sekeluarga , menjadi bermanfa'at dan contoh kehidupan bagi kita semua, semoga sukses dengan ilmu yang diberikan kepada kami semua.

 

Yayuk Sukardan trimakasih pak Jatmiko sharing nya sangat menyentuh dan inspiratif. maturnuwun sanget

 

Yoke Suwira Atmaja · 8 mutual friends

Subhanallah bgs banget tulisan dan kisahnya ,sampai merinding sy membacanya semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya

 

Sukendrani Ngadiyo Ass. Pak Djat dan keluarga, saya trenyuh banget bacanya saya ingat riwayat saya pada saat di Kopenhagen bersama sama, semoga pak Djat dan keluarga akan mendapat imbalan yang setimpal telah membimbing Jasmiati ke jalan yang lurus, sehingga dia ingat aka…See More

 

Dadan Sidqul Anwar Subhaanallah...adalah satu kemenangan sejati (muflih) bagi.seorang hamba yang dianugerahi ketaatan oleh Allah...dan kebaikan seorang hamba akan mendatangkan kebaikan yang berlipat (falahu asyru mitslu amtsaalihaa)...semoga Kang Achmad Djatmiko sekeluarga dimuliakan Allah

 

Achmad Djatmiko tks. Sekedar berbagi hikmah.. mudah2an bermanfaat..

 

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now