"Jangan Sia-siakan Kebersamaan!

August 14, 2018

 

Tadi malam (12 Mei 2009), saya coba menelpon seorang teman lama, namanya Pak Rahardjo Suwandi. Ia seorang peneliti bergelar doktor, lulusan ANU (Australian National University) Australia yang senang menyebut dirinya sebagai peneliti “asongan”. Telah banyak penelitian/survey dilakukannya yang tidak untuk konsumsi publik karena dalam rangka mengevaluasi efektivitas pelaksanaan suatu program dari badan donor internasional. Namun demikian, dia tidak mau terikat dalam suatu lembaga tertentu, karena khawatir idealismenya akan terganggu. Begitu akunya suatu saat ketika saya mempertanyakannya.

 

Alasan saya menelponnya adalah karena sudah lama kami tidak berhubungan. Saya dan isteri, sehari sebelumnya, dalam suatu kesempatan, tiba-tiba teringat Beliau. Subhanallah... kami masing-masing mengatakan bahwa akhir-akhir ini teringat dengan Pak Rahardjo, kami seperti terbayang-bayang wajah Beliau. Kami teringat masa lalu dan kebersamaan yang telah kami lewati bersamanya. Singkat kata, ia telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidup kami sejak masa lajang hingga kini sudah berkeluarga.

 

Perkenalan saya dengan Pak Rahardjo sudah sangat lama, segera setelah saya selesai kuliah di UNDIP, yaitu tahun 1987. Melalui almarhum Prof. Satoto (Fak Kedokteran UNDIP), saya diperkenalkan ke Beliau untuk ikut membantu kegiatan penelitian yang sedang dilakukan, yaitu mengenai “income generating” masyarakat pedesaan di Jateng, dan tingkat defisiensi vitamin A. Kalo tidak salah, nama lembaganya adalah Rovita, didukung oleh Hellen Keller Internasional (Jerman).

 

Sejak itu, penelitian demi penelitian kami lakukan, terutama di desa dan pedalaman Jawa Tengah. Sebagai bos, beliau minta saya memanggilnya dengan sebutan “Bung” sehingga kami para anak buahnya pun memanggilnya “Bung Rahardjo”. Usianya tentu sudah jauh di atas saya, selisih sekitar 20 tahun, namun kami begitu akrab karena sering mengalami kebersamaan. Saya tidak begitu mengenal keluarganya, selain bahwa isterinya bekerja di LIPI, salah seorang Eselon II saat itu, dan punya anak laki-laki satu.

 

Yang khas dari beliau adalah pembawaannya yang bersahaja dan bisa bergaul dengan semua kalangan dengan tanpa hambatan. Setiap penelitian lapangan yang dilakukan, lebih banyak menggunakan pendekatan antropologis (semoga istilah ini benar..). Setiap berada di lapangan, sebuah pedesaan, kami diminta untuk mengamati kegiatan dan kebiasaan masyarakat desa setempat dalam keseharian. Kami diminta untuk bangun pagi-pagi benar, berangkat ke pasar dan terlibat dengan penduduk dalam hiruk pikuk pencaharian mereka. Kami diminta untuk mengamati terhadap adanya kebiasaan-kebiasaan di sekitarnya seperti: tempat mereka berkumpul, hal-hal yang mereka bicarakan, siapa saja yang terlibat dan cukup dominan dalam kerumunan dsb.

 

Kebersamaan saya dengan Bung Rahardjo harus berakhir, ketika suatu hari saat kami sedang melaksanakan penelitian di sebuah desa di wilayah Kendal, seorang teman mengantarkan surat pemberitahuan dari Deplu mengenai hasil testing tahap akhir yang saya ikuti. “Alhamdulillah.. Djat, kamu diterima..!” Kata teman saya, Mas Budianto yang lebih akrab kami sapa sebagai "Mas Bobo". Sementara saya bingung, harus bilang apa. Saat itu sebenarnya saya merasa sedang begitu menikmati “pekerjaan” saya sebagai anak buah seorang Peneliti “asongan”, yang keluar masuk desa, mengenal beragam jenis kehidupan dan tabiat masyarakat.

 

Dengan masih disaksikan Mas Bobo, saya pun bertanya kepadanya, “Bagaimana ini Bung?”

Jawabnya, “Tidak bagaimana bagaimana.. kamu harus segera berangkat ke Jakarta secepatnya”

“Tapi, pekerjaan saya disini kan belum selesai?”

“Lho.. yang tanggung jawab disini kan saya. Dan sekarang, yang menyuruh berangkat adalah saya”

“Tetapi.. Bung”

“Tidak usah banyak pertimbangan lagi Djat, berangkatlah! Saya yakin, di Deplu kamu akan mendapatkan kehidupan dan masa depan yang lebih baik.” Terlihat senyum kebapakan dan kesebaran tersungging di bibir Beliau. Secara spontan, kemudian ia menepuk pundak saya, dan sekali lagi berkata, ”Berangkatlah.. Saya dan teman-temanmu semua disini mendoakan kesuksesanmu. Good luck..!”

 

Itulah pertemuan terakhir saya dengan Bung Rahardjo. Seperti sebuah skenario yang sudah diatur oleh Sang Sutradara, pada akhirnya posisi saya sebagai “pembantu’ peneliti digantikan oleh Yeni (adik kelas saya yang baru lulus saat itu dan kini menjadi isteri saya). Bagi saya dan isteri, karenanya, Bung Rahardjo menjadi bagian dari perjalanan sejarah rumah tangga kami berdua, terpatri menempati relung tertentu hati kami. Banyak hikmah dan pengalaman yang bisa kami bagi diantara kami berdua saat berbicara mengenai masa-masa kebersamaan dengan Beliau sewaktu masih di Jawa Tengah, sekitar 20 tahun lalu.

 

Salah satu kisah sederhana yang terus saya ingat sampai sekarang adalah, ketika suatu pagi saya berjalan bersama Bung, untuk mengamati kehidupan penduduk setempat di sebuah pedesaan. Dalam perjalanan, kami jumpai banyak orang, saling tegur sapa dan memperkenalkan diri dengan cara yang santun. Sampailah kemudian kami di suatu kerumunan anak-anak yang sedang bermain, yang bagi saya bukanlah sesuatu hal istimewa untuk diamati. Namun beliau mengajak saya berhenti, mengamati mereka dan bertanya macam-macam, dengan gaya seorang Bapak terhadap anak-anaknya. “Kalian udah makan, belum”, “Ini siapa namanya, sekolahnya dimana?” “Coba satu persatu kalian cerita atau nyanyi atau apa saja!?” “Bapak mau dengarkan”.

 

Pembicaraan Bung dan anak-anak tersebut, di luar dugaan, berlangsung lama. Saya tidak mengerti, apa relevansinya anak-anak tersebut dengan substansi yang sedang kami teliti dan amati. Ketidakmengertian saya akhirnya semakin bertambah dan memuncak, karena dalam setiap perjumpaan dengan anak-anak, ia selalu saja menegur dan mengajak ngobrol berlama-lama. Dengan basa-basi, kemudian saya bertanya, “ Bung, rupanya Bung suka dengan anak-anak kecil Ya?”. Dia hanya tertawa sambil menjawab singkat, “Ya.. betul Djat”.

 

Tapi, sejurus kemudian, ia seperti terdiam sambil memperlihatkan adanya sedikit guratan muram di wajahnya yang berusaha untuk disembunyikan.Lalu, katanya, “Setiap melihat anak-anak kecil, saya selalu teringat anak saya dan masa lalu saya. Betapa saya telah kehilangan masa-masa kebersamaan dengan anak saya sewaktu ia masih kecil. Saya merindukan hal itu, saya ingin sekali merasakannya karena itulah bagian yang hilang dalam hidup saya. Anak saya hanya satu dan kini sudah besar (sudah kuliah saat itu), sudah punya agenda dan jalan berpikir sendiri. Kebersamaan tidak pernah lagi saya dapatkan, Djat”.

 

Saya pun terdiam dan tidak memberikan komentar apapun selain menjadi pendengar yang baik, meskipun saya sebenarnya kaget dan tersentuh dengan pernyataannya. Lalu, Bung pun melanjutkan, “Please Djat, nanti kalau sudah menikah, berumah tangga, jangan sia-siakan kebersamaan dengan anak-anakmu saat masih kecil, atau sampai kapan pun saat masih memungkinkan bersama.” Saya masih tetap diam, karena tidak tahu harus bilang apa. Pembicaraan sehari-hari yang biasa diisi dengan diskusi mengenai hasil pengamatan lapangan, tiba-tiba kali ini diselingi dengan topik khusus mengenai konsep keluarga “sakinah”.

 

“Jangan meniru saya, Ya? Sudah terlanjur..!” Katanya mengakhiri pembicaraan

“Tapi, masing-masing keluarga kan punya strategi masing-masing, Bung?” saya coba untuk menetralkan kegetirannya.

“Yah.. memang begitu. Tetapi strategi itu ada konsekuensinya. Terkadang, konsekuensi itu berat sekali dan harus kita tanggung seumur hidup. Semuanya menyangkut pilihan hidup..!”

 

Sejak itu, saya selalui berhati-hati dalam pembicaraan dengan Bung, bila sudah berkaitan dengan masalah anak-anak. Tidak ada maksud lain, selain untuk menjaga perasaannya semata. Tetapi yang pasti, pesannya untuk “jangan sia-siakan masa kebersamaanmu dengan anak-anak” selalu terngiang-ngiang di hati dan fikiran saya, hingga kini. Dan, alhamdulillah, ketika hal ini saya sampaikan ke isteri, ia pun bercerita mengenai hal yang sama, dengan pengalaman yang tidak berbeda. Karena sudah jodoh (sudah tentu demikian), isteriku pun mengatakan bahwa pesan Bung tersebut akhirnya telah menjadi salah satu pedoman dan prinsip hidupnya untuk diterapkan saat berumah tangga.

 

Tidak sulit untuk menghubungi nomor telepon rumah Bung, yang beralamat di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan. Sejak dua puluh tahun lalu hingga sekarang, kami selalu ingat nomor tersebut di luar kepala. Setelah dua kali mencoba, akhirnya, telpon pun tersambung dan terdengar dari pesawat telpon suara seorang ibu menjawab, “Hallo, ya.. ini siapa” Wah.. hati saya berdebar-debar.. karena saya hafal betul dengan suara itu, yang sudah 20 tahun tidak saya dengar. Ya, itu adalah suara isteri Bung yang memiliki nada khas dan tidak pernah saya lupakan. Dulu, setiap kami menelpon Bung, kadang isteri Bung yang menjawab lebih dahulu sebelum akhirnya diserahkan kepada Bung.

 

“Saya Djatmiko, Bu. Apa khabar? Saya dari Singapura, ingin berbicara dengan Pak Rahardjo, kami sudah lama sekali tidak bertemu, Bu?” Begitu kata saya, dengan nada seperti tidak sabar.

 

“Tunggu.. tunggu.. Saudara siapa?”

“Saya.. Djatmiko, Bu!”

Sejurus kemudian, isteri Bung menjawab, “Pak Rahardjo kan sudah meninggal, tahun 2007 lalu?” Katanya dengan nada mulai terbata-bata.

“Apa Bu? Innalillahi wa inna illaihi roji’un... oh.. baik Bu. Maafkan saya, Bu!” Lemas rasanya sekujur tubuh, mendengar berita bahwa orang yang sangat kami rindukan ternyata tidak bisa saya jumpai karena telah berpulang ke rahmatullah. Dengan disaksikan isteri saya, saya terduduk lemas. Ia pun begitu. Sejenak kami berdua terdiam, lalu... terlihat isteriku mulai menitikkan air mata.

 

“Kita doakan semoga Bung diterima amal baiknya di sisi Allah Swt, ya Nda? Mudah-mudahan maksud kita bersilaturahmi sudah dicatat sebagai niat baik.”

“Amin..” Isteriku menjawab singkat.

 

Setelah itu, akhirnya kami berdua tidak bisa langsung tidur meskipun malam sebenarnya telah cukup larut. Tidak henti-hentinya isteriku menahan tangis, menghapus airmata yang tak kunjung reda. Semua kenangan, kesan dan masa kebersamaan dengan Bung seakan hadir di depan mata kami. Betapa banyak hikmah dan petuah sederhana yang telah ia berikan, semasa kami masih muda dulu, sebelum berumah tangga. HIngga kini, "Jangan sia-siakan kebersamaan dengan anak-anakmu saat masih kecil, atau sampai kapan pun saat masih memungkinkan bersama” tetap terngiang-ngiang di hati dan fikiran kami.

 

Sungguh kami menyesal, mengapa selama tinggal di Indonesia kami tidak sempatkan diri berkunjung ke rumahnya. Untuk silaturahmi.. untuk membesarkan hatinya di masa tua.. Kami belum sempat membalas budi baiknya.. Ya.. Allah.! Seandainya.. seandainya..!

 

“Ya Allah, ampuni dosanya, dan tempatkan ia di tempat yang layak disisi-Mu?”

 

 

(Singapore, 13 Mei 2009)

 

 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Comments:

 

Tri Haryati mengharukan banget jat... makanya silaturahmi penting banget walo cm lwt telpon ... terbukti kan? semg belio diterima di sisiNYA amin ....

 

Nusiaga Putri Eh, apa neh basahdan terasa panas...Oooo air mataku....hiks..hiks..

 

Ramayanti Olii turut mendoakan yg terbaik utk the late Bpk. Rahardjo..

 

Abah Fuad "Jangan sia-siakan kebersamaan dengan anak-anakmu saat masih kecil, atau sampai kapan pun saat masih memungkinkan"....mudah-2 an menjadi peringatan bagi yg masih punya anak-2 kecil...thaks Djat..! Gunakan waktumu selagi ada kesempatan.....!
lo.. djago banget tulis true story..! sangat menyentuh, kalbu....kumpulin & terbitkan Djat,sukses selalu..!

 

Anisah Aini sebuah keteladanan yang patut untuk direnungkan...setuju dengan Abah..kumpulkan tulisan tulisanmu Djat.. entar aku terbitkan..

 

Abah Fuad tumben setuju ,dg gw An...sekali-kali kompak ya..!

Manage

 

Anisah Aini dua kali juga boleh bah...

 

Achmad Djatmiko Alhamdulillah... hore.. gara-gara tulisan, dua seteru akhirnya bisa bersatu...hu..hu..hu.. Thanks dukungannya ya An.! Aku juga setuju sama Abah..

 

Shinta Handini tfs again ya pak... :)
saya sangat senang sekali membaca smua tulisan cerita kehidupan bapak...
benar sekali pak... bagi saya anak2 adalah segalanya...…

 

Aris Heru Utomo Pak Djat, tks sudah berbagi. Kebersamaan, sepertinya sebuah kata yang mudah diingat, namun seringakali sulit untuk dilaksanakan. Alasan klasiknya adalah sibuk dengan urusan pekerjaan.

Eniwei, tulisannya dikirimkan saja ke kompasiana.com agar dapat dibaca lebih banyak orang dan tentu saja menginspirasi orang lebih banyak lago.…See More

 

Ifa Hanifah Cerita-cerita Bapak Djatmiko selalu penuh hikmah dan bisa dijadikan iktibar bagi kita semua. Terima kasih Pak. Kapan nih pak ada waktu maen ke Bukit Batok?

 

Misjar Wilyanto Saya pernah mendengar cerita pengalaman ini langsung dari Pak Djat waktu di Singapura....
Luar biasa ternyata Pak Djat bisa menuliskannya dengan bagus dan mudah2an jadi inspirasi kita semua...amin 
TX. Boss saya jadi terinspirasi lagi...

 

NenekMamak Kiagos Mohamed Suatu pelajaran yang sangat berharga. Terimakasih atas sharingnya Pak Djat.

 

Soraya Al Yahya Bagus sekali ceritanya saya terharu membacanya. Secara tidak langsung cerita tersebut mengingatkan kita untuk selalu menjaga silaturahmi selagi kita bisa. Salam untuk M.Jeni ya Mas

 

Sahadatun Donatirin Soal kebersamaan dengan keluarga dan orang2 tercinta itu isu klasik......begitu penting namun teramat sering terabaikan...semoga kelak kita menjadi pemimpin-pemimpin yang punya tenggang rasa terhadap rekan2 kita yang membutuhkan waktu kebersamaan dengan orang2 yang mereka cintai...amiiinnn....

 

Mamik Roesdiatmo TERIMA KASIH,sebuah inspirasi ........sebuah kenangan....apasaja namanya,semoga semua pelaku didalamnya selalu dalam GENGGAMAN RAHMAT ILLAHI.amin.terima kasih............................

 

Hertati Latief N Saya baca tulisann anda, sangat menyentuh, ya....kata2 seandainya......... sering kita ucapkan.......bagus sekali sharingnya, akan sering saya baca.......

 

Sanituti Hariadi Mas Djat...saya sangat suka tulisan-tulisan Anda yang begitu runtut..Kali ini membawa orang untuk ngonceki diri...waktu berjalan dan tidak akan kembali, setiap saat perlu memonitor diri apa yg lebih apa yg kurang, bukan orang lain. Pengalaman Bung Raha…

 

Kushandajani Nurdianto Ternyata kita memiliki kenangan yang berharga dari orang2 terkasih.....sangat berharga....

 

Nessa Kartika Terima kasih 4 sharing, Pak, Semoga Amal ibadah beliau diterima Allah, Terima kasih jg telah mengingatkan saya.

 

Michiel van der Pol I can't not read but i support Nessa, Pinky and Mega, and stay positive to the fihgt on a better life. I know that we guilty are on a lot of things, but i will try ,with my limitation, to help.......greet michiel.

 

Purnomo Budi Harijanto Pak Djat...16 april 2011, sabtu malam kemarin terasa air muka sembab menahan tangis...melihat raut muka anak2 yang sedang tidur pulas...teringat betapa gembiranya anak pertama saya yang berumur 6 tahun bila " fighting " sama ayahnya....terimakasih sekali sharingnya Pak...salam untuk Ibu dan adik-adik...

 

Eva Sulaiman Pak Djatmiko,..trimakasih atas sharing tulisan yg sangat menyentuh ini.. Bung memang selalu memberikan inspirasi bagi sekelilingnya..saya bersyukur juga pernah dibimbing beliau. Surprise sekali, bisa kembali membuka 'file Bung' bersama Pak Djatmiko dan Bu Yeni...Salam hangat kami...

 

Donna Sebayang terimaksih sharingnya bapak ada makna tersirat yg begitu mengena (die) hati saya ,kalau ada tulisan yg lain boleh juga bpk tag hehehe saya senang membaca tulisan bpk

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now