Isteriku menolak "Rejeki"

August 15, 2018

 

Peristiwanya terjadi saat kami menunaikan ibadah haji pada bulan Januari 2006. Kami yang tergabung dalam rombongan haji KJRI Jeddah tengah berada di Madinah selama 2 hari, sebelum kemudian menuju Mekkah. Kebetulan penginapan kami sangat dekat dengan Masjid Nabawi, bahkan bisa dikatakan tepat di depannya, sehingga dekatnya jarak penginapan ke masjid tersebut kami manfaatkan untuk senantiasa menunaikan shalat berjamaah di Masjid Nabawi setiap datangnya shalat fardlu.

 

Setiap shalat, sering aku memiliki perasaan aneh, membayangkan bahwa Rasulullah Saw seakan sedang memperhatikanku dan juga para jamaah lainnya yang sedang ada disitu. Mungkin perasaan ini dipengaruhi suasana hati (mood) mengingat keberadaan makam Rasulullah saw. yang memang ada di Masjid.

 

Pada suatu kesempatan, sehabis menunaikan shalat Ashar, aku berbincang-bincang dengan isteriku mengenai hikmah keberadaan kami di masjid Nabawi. Tak henti-hentinya kami saling mengingatkan untuk tetap waspada dan agar senantiasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan Allah melalui mukjijat-Nya sehingga kami bisa sampai ke Tanah Suci (Lihat tulisan sebelumnya berjudul ”Biaya Misterius”).

 

Meskipun tempat/ruangan untuk tidur antara pria dan wanita berada terpisah, kami sengaja sering berdua pada waktu senggang untuk tetap menjaga kebersamaan hati dan iman selama ibadah haji. Biasanya, setiap kami tengah berdua, pembicaraan mengenai anak-anak yang kami tinggalkan di Indonesia (Magelang) bersama neneknya, selalu menjadi topik. Selebihnya kami manfaatkan untuk saling instrospeksi dan mengingatkan agar ibadah haji bisa dilaksanakan dengan lancar, rukun-rukunnya terpenuhi dan mabrur sesudahnya.

 

Pada setiap pertemuan sebelumnya, isteriku selalu antusias untuk bercerita lebih dahulu mengenai apa saja yang telah dialami, pengalaman-pengalaman spiritual yang dijalani ataupun hikmah yang didapat. Namun saat itu suasana kurasakan agak berbeda. Wajah isteriku seperti memendam sesuatu yang belum terungkapkan. Ia nampak bingung dan sedikit gelisah. Akhirnya, aku pun mendahului bercerita mengenai kejadian yang kualami selepas shalat dzuhur di Masjid. Bahwa dalam perjalanan kembali ke penginapan, masih di depan masjid, aku disapa oleh seorang jamaah yang pada akhirnya kurasakan agak misterius.

 

Saat itu, kudengar suara seseorang menyapaku dari arah belakang sambil seperti mengejarku sehingga akhirnya dapat berjalan sejajar beriringan denganku. “Assalamu'alaykum”, katanya.

 

“Alaykumussalam warohmatullaahi wabarokatuuh, Brother! How are you?” Jawabku sambil kemudian menoleh ke arahnya dan kami pun saling bersalaman. Sempat kulihat senyum tersungging dari mulutnya. Ia berperawakan hitam, kurus dan tinggi dengan pakaian gamis. Aku betul-betul ingat penampilannya karena terkesan oleh tubuhnya yang begitu tinggi, sehingga untuk memandang wajahnya aku harus menengadah ke atas. Tinggi badanku (166 Cm) mungkin hanya sebatas perut. Ya... sebatas perut! Aku baru merasa kaget saat semua itu telah terjadi, namun tidak merasakan keanehan apapun saat kami sedang berjalan bersama.

 

Sesaat kami saling terdiam sambil berjalan beriringan. Masih kurasakan betul bahwa ia ada disamping kiriku ketika akhirnya aku bermaksud membuka pembicaraan,”Where are you from, Brother?”, sapaku sambil menoleh kepadanya untuk lebih mengakrabkan diri, apalagi terhadap sesama saudara seiman. Tentu saja, aku menoleh sambil wajahku menengadah ke atas, karena kutahu tubuhnya sangat tinggi.

 

Namun.. pertanyaanku akhirnya tidak mendapat jawaban ketika kusadari bahwa ia sudah tidak berada di sampingku. Laki-laki yang tadi beriringan berjalan di sebelah kiriku, dalam sekejap sudah tidak nampak. Lalu, aku pun menoleh ke kanan, siapa tahu ia telah berlalu dengan mengambil arah yang berbeda. Namun tetap saja ia tidak kutemukan. Aku sempat merasa penasaran sehingga kuhentikan langkahku sejenak untuk mengamati sekeliling. Aku arahkan pendangan jauh ke belakang, jauh ke depan, ke samping bahkan mengamati setiap kerumunan yang tengah berjalan. Tetap saja ia tidak kunjung kujumpai.

 

Aku tidak merasakan ada sesuatu yang aneh saat itu. Yang kurasakan hanyalah penasaran bahwa ia bisa secepat itu “menghilang” dari sampingku tanpa sempat kuketahui. Sama sekali aku tidak punya pikiran yang aneh-aneh. Karenanya, aku pun menceritakan itu kepada isteriku seperti tanpa beban.

 

Lalu, aku menutup ceritaku dengan mengatakan kepada isteriku, “Tapi, yah.. sudahlah. Kita sedang berada di Tanah Suci.. semua hal.. apapun bisa terjadi.!”

 

Isteriku kulihat masih terdiam dengan pancara mata takjub, meskipun tidak bisa menyembunyikan raut kebingungan di wajahnya yang sudah ada sejak tadi. Aku pun melanjutkan, “Yang penting, mari kita jaga hati kita untuk tetap berpikiran positif terhadap apapun yang terjadi.. yang kita jumpai.. yang kita rasakan..”

 

Pembicaraan pun berlanjut ke hal-hal lain yang relevan, hingga akhirnya isteriku pun berkata, “Bunda mau cerita nih, Yah! Bunda bingung mengalami kejadian tadi siang saat shalat di Masjid..”

“Emangnya ada apa?”, tanyaku sambil tersenyum dalam hati. Sudah kuduga, isteriku pasti punya sesuatu yang menggelisahkan hatinya dan ingin ia sampaikan sejak tadi.

 

“Bunda bingung, apakah tindakan dan keputusanku tadi siang itu betul dan diridloi Allah?” Katanya.

“Keputusan yang mana? Tindakan seperti apa? Coba ceritakan.!” Kataku, mulai penasaran.

 

Lalu dengan perlahan isteriku pun mulai bercerita mengenai kejadian yang membikin gundah hatinya. Sehabis shalat dzuhur di Masjid, ia didatangi seseorang yang dari penampilannya seperti seorang TKW. Ia mendekati isteriku sambil terlebih dahulu meminta maaf, lalu berkata, “Maaf Bu, saya disuruh majikan saya untuk memberikan tas ini kepada Ibu.. Mohon Ibu berkenan menerimanya.!”

 

Isteriku bingung karena merasa belum kenal dan tidak mengerti maksudnya, lalu ia bertanya, “Lho, Mbak ini siapa.? Dan majikannya namanya siapa? Apa saya kenal? Lalu, apa isi tas ini?” Begitulah kurang lebih isteriku memberondong TKW tersebut dengan pertanyaan sambil melihat pada sebuah tas plastik berwarna merah ukuran sekitar 30x20 cm, yang lalu dijawab, “Maaf Ibu, oleh majikan saya, saya diminta untuk tidak memberitahukan kepada Ibu. Majikan saya hanya bilang sampaikan tas ini kepada Ibu… Tas ini berisi uang, Bu.!” Katanya.

 

Mendengar itu, isteriku terbelalak kaget dan bingung. Kebingungan pun semakin bertambah ketika ia buka tas plastik dimaksud yang ternyata..memang.. penuh berisi tumpukan uang kertas dalam mata uang Real. Bagaimana mungkin ia diberi sejumlah uang yang begitu banyak dari seseorang yang tidak ia kenal. Lalu isteriku pun kembali bertanya, “Mbak, maaf ya.. coba tanyakan ke majikannya, apa betul uang ini untuk saya?”

 

TKW tersebut ternyata tetap bersikukuh bahwa memang isteriku lah yang dimaksud. Lalu katanya, “Ibu.. saya mendapat amanah dari majikan saya, orangnya baik, dan percayalah saya tidak salah bahwa yang dimaksud memang Ibu.. Majikan saya yang menyuruh saya.”

 

Dalam situasi seperti itu, wajar bila isteriku bingung harus berbuat apa. Dengan tiba-tiba ada seseorang memberinya uang yang begitu banyak tanpa sebab. Anehnya, si pemberi tidak dikenal dan tidak bersedia diketahui identitasnya. Dalam kegundahan dan kebingungan seperti itu, isteriku harus memutuskan apakah pemberian itu akan diterima atau tidak. Ia ingat betul, bahwa ada teman yang duduk tepat disampingnya, kalau tidak salah ia adalah isteri Athan Manila, yang dimintai pendapat. Teman tersebut menyarankan tidak usah diterima saja daripada ragu-ragu namun tidak bisa menyebutkan alasan yang tepat.

 

“Nah.. dalam kebimbangan seperti itu, Bunda dengan mengucap bismillah akhirnya menolak untuk menerima pemberian itu, Yah..!” Jelas isteriku kepadaku, yang membuatku justeru semakin penasaran. Lalu kutanya, “Apa alasan Bunda akhirnya memutuskan menolak pemberian itu?”.

 

"Ya.. Bunda bilang.. Maaf ya Mbak, tolong sampaikan ke majikannya Mbak, saya terima kasih pemberiannya. Dan.. sampaikan juga ma'aaaf sekali, saya tidak bermaksud menolak rejeki, tapi.... mungkin akan lebih baik bila diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Jangan lupa ya mbak.. saya terma kasih dan betul-betuuuuul tidak bermaksud nolak rejeki.."

 

Lalu sambung isteriku, “Bunda merasa… hidup kita sementara ini kan bisa dibilang alhamdulillah cukup.. meskipun tidak bisa dibilang berlebih. Setidaknya, kalo untuk hidup sehari-hari kan kita tidak kekurangan. Terbukti Allah selalu menolong kita, memberi jalan keluar di setiap kesulitan yang kita hadapi.. Nah, kalo Bunda terima, Bunda takut kalo uang itu bukan membawa manfaat tetapi malah menimbulkan mudharat. Siapa sih orang yang tidak ingin punya banyak uang… tapi kalo uang itu datangnya tiba-tiba, dari sumber yang tidak diketahui, Bunda takut aja.. Pokoknya.. takut. Ayah kan selalu bilang, jangan pernah bermimpi, berandai-andai mendapatkan sesuatu tanpa usaha atau hasil jerih payah kita, kan? Selain itu,

Bunda juga berpikiran, mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan ..!”

 

Subhanallaah! Mendengar penuturan seperti itu, aku pun kemudian menarik nafas panjang sambil berpikir sejenak mengenai apa yang harus kukatakan, hingga akhirnya, “Alhamdulillah Nda, lagi.. Bunda mendapatkan pengalaman spiritual. Bismillah, tidak usah bingung dengan keputusan Bunda. Ayah setuju..!”

 

Mendengar itu, isteriku jadi bingung sementara aku pun masih mencari-cari jawaban yang tepat untuk menjelaskannya. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah akhirnya kudapatkan jawaban bagi isteriku bahwa, “Begini, Nda.. pemberian itu sebetulnya bisa Bunda terima atau tolak.. terserah Bunda! Yang penting dari keputusan Bunda adalah alasannya. Andaikan uang itu diterima.. misalnya…juga tidak masalah. Mungkin Allah sengaja memberi kita rizki.. apalagi di tempat suci seperti ini, di Masjid Nabawi.. Tapi, kita harus ingat, bahwa uang itu tidak boleh kita anggap sebagai uang kita. Di dalam uang itu pasti ada hak orang lain yang harus ditunaikan.. Kita tidak tahu, mungkin saja uang itu, jika kita terima, sebetulnya sekedar dititipkan untuk disampaikan kepada orang lain yang berhak menerimanya. Menurut Ayah, sebaiknya kita berpendapat demikian.. Tapi karena Bunda sudah menolak, ya sudah, jangan dipikirkan lagi. Insya Allah Bunda tidak bermaksud menolak rejeki.. tapi justeru sebaliknya, merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan ingin beramal dan menyalurkannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan.!”

 

Mendengar penjelasanku, isteriku nampak lega. Memang itulah yang diinginkannya, mendapatkan pembenaran dari apa yang telah dilakukan. Sementara bagiku, masya Allah.. aku sebenarnya terharu mengetahui sikap isteriku yang demikian. Apakah itu merupakan cobaan ataukah sekedar kejadian biasa, pasti ada hikmah yang bisa dipetik bagi yang mengalami.

 

Tanpa terasa, kemudian kurangkul isteriku dan kampi pun saling berangkulan seraya kupanjatkan rasa syukur ke hadirat-Nya. Sebagai suami, aku mendapatkan hikmah tersendiri dari kisah itu. Bagiku, itu cerminan bahwa isteriku ternyata bukan orang yang materialis.. Ia tidak tergoda dihadapkan pada pemberian uang cuma-cuma di depan mata.. Bayangkan! Kami mungkin bisa kaya sekembali dari ibadah haji, dengan setumpuk uang di tas yang jumlahnya tak terhingga, bila uangnya saat itu ia terima. Tapi, isteriku ternyata tidak ingin kaya… ia ternyata ingin hidup cukup saja..! Yang penting bisa terpenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Aku sempat menerawang pada perjalanan hidup kami selama ini, yang memang tidaklah tergolong keluarga yang berlebih. Pasang surut kehidupan selalu kami alami, namun di setiap persoalan yang datang dan harus kami hadapi, Allah selalu menolong dan memberi jalan keluar dari setiap permasalahan. Kami mencoba menikmatinya, menghadirkan perasaan nikmat dalam keterbatasan. Dan.. itu semua menumbuhkan kepercayaan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

 

Betapa aku menjadi suami yang sangat bahagia saat itu.. Aku sangat..sangat bersyukur karena di mataku, kudapati bahwa isteriku ternyata termasuk diantara kelompok hamba-Nya yang pandai bersyukur. Dan sejak itu pula lah, kami semakin mantap menapaki jalan hidup kami ke depan dengan tanpa ragu, penuh keyakinan bahwa “Allah selalu menambahkan nikmat-Nya kepada hamba-Nya yang pandai bersyukur”.

 

Tanpa terasa, pembicaraan itu ternyata menyita waktu cukup lama hingga suara Adzan maghrib pun akhirnya terdengar dari Masjid. Lalu kuajak isteriku bangkit, bersama-sama pergi menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Hati terasa lapang, tidak lagi merasa “kekurangan” sehingga peristiwa itu pun akan selalu tercatat di hati sebagai bagian dari sejarah perjalanan spiritual kami, dengan masjid Nabawi sebagai saksi. Wallahualam..

 

---------------------

 

Endang Titi Amrihati subhanalloh.. aq smpe merinding membaca pengalaman mas joko n mb yeni

 

Fitriani Pak boleh fitri copy paste untuk dishare ???mohon ijin nehhh????

 

Rosita Sihombing alhamdulillah y pak. Salam kenal utk istri bapak. smg, bapak danistri tetep jadi klg yg samara,amien

 

Azis Nurwahyudi Subhanallah....maha suci Allah. Semoga Pak Djat dan keluarga selalu dilimpahi berkah dan rahmad dari Allah. Amien

 

Simon Hutagaung djat this is a good story! You should also be a writer!

 

Lia Yaniarti Tfs pak Djatmiko...Kalo saya jadi Bu Yeni; saya kepingin kenalan dan ketemu dulu sama majikannya; dan punya banyak pertanyaan buat yang memberi...hihi... jadi berlagak kayak polisi aja ..salam buat Bu Yeni yg baik.

 

Mamik Roesdiatmo Trima kasih pak,membuat terkenang..kalau ring satu Madinah,tentunya TOYIBHA yang baru itu ya pak....mengesankan.

 

PacarKu BojoMu saya sangat kagum dgn pengalaman bpk ma ibu moga itu buat contoh generansi yg lebih muda,,,,seperti saya sdr,,,,?

 

Natalia Santi nice story... inspiratif jg... terima kasih Pak.

 

Maria Yabsley selalu ada pilihan dan keputusan yang sulit untuk diambil.... dan apa yang terlihat baik belum tentu baik nyatanya begitu juga sebaliknya..... satu pelajaran baru, saya dapat hari ini dari note bapak. semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga keluarga bapak

 

Elhadi St Mangkudun Subhanaullah, Maha Suci Allah.
Mudah2an itu jadi keikhlasan para istri muslim di Indonesia untuk pegangan hidup, dan kunci hidup buat yang memakan harta yang bukan haknya. Amin.

 

NenekMamak Kiagos Mohamed Dugaan yang datang bisa dari mana-mana dan dalam situasi mana sekalipun. Orang yang beriman dan kuat iman akan senantiasa memperlakukan dengan tenang dan betul. Syukur Alhamdullilah dalam cerita kehidupan kali ini.... ternyata Bpk & Ibu sudah melakukan yang sewajar dan terbaik. Amin

 

Lucky Lokononto Beritajatim bolehkan cerita yang bagus ini kami muat di beritajatim.com? suwun

 

Ipung Tokyo Subhanallah,....saya ikut senang membacanya,....semoga menjadikan pelajaran bagiku,...dan semoga rahmat serta barokah Allah SWT,...selalu berlimpah untuk bapak Ahmad Djatmiko sekeluarga,...amin,....

 

Achmad Djatmiko @berita jatim: silakan Mas

 

Achmad Djatmiko TERIMA KASIH ATAS TANGGAPAN DARI SAUDARA-2 KU SEMUA. aLHAMDULILLAH.. MUDAH2AN TULISAN INI MEMBAWA MANFAAT..AMIN..

 

Bang Amz Mza subhanalloh ( maha suci Alloh )

 

Kusmiyati Jensen Saya percaya sekali karena saya kenal betul ibu jatmiko

 

Abah Fuad djat aku percaya...dg apa yg diterima istrimu suatu cobaan, alhamdulillah beliau telah mengambik keputusan menurutku yg terbaik....., setelah mengenal secara dekat istrimu...aku yakin sekali...akan kemampuan beliau dalam memutuskan sesuatu maslah dg sangat bijak...Alhamdulillah elo udah dikarunia-i istri yg "sholehah"...

 

Kanaya Ponsel subhanallah...saya terharu membacanya

 

Sony Witjaksono mas adjat .... tulisan-tulisan-mu di fb memang banyak memberikan pencerahan dan manfa'at buat orang lain kalau bisa jangan hanya dimunculkan di fb, kalau bisa mas adjat kumpulken....terus tawarken ke penerbit ...insya'allah ada penerbit yg mau menerbitkan kumpulan tulisan mas adjat jadi buku........

 

Achmad Djatmiko @sony :trims

 

Agus Badrul Jamal Terima kasih Mas Djat, tulisannya sangat mencerahkan dan bermanfaat..

 

Irene Mulyana Terima kasih, pak Djatmiko

 

Mahmud Syaltout Sebuah pengalaman yang sangat menarik Pak...

 

Eko Saksono Subhanalloh, syukron katsiron, insya Allohu tanzah

 

Satya Dh Subhanalloh....semoga Allah memberikan rizkiNYA

 

Adi Prasusetyana Alhamdulillah....Djat,..Alloh SWT selalu memberikan yang terbaik buat umatnya,...Insyaalloh keputusan Istrimu adalah atas bimbingan-Nya.

 

Andi Dirgahayu Another good story .... terus nulis Djat. Betul kata Sony, kumpulan tulisan lo bisa dijadikan buku.

 

Taufiq Rodhy Mas Djatmiko, terima kasih atas telah berbagi pengalaman spirituil yang bermanfaat dan menjadi cermin bagi hidup dan kehidupan. salam

 

Natalia Soeharso Mas Djat, percayalah sing Kuoso ora sare, lan rejeki kapanpun akan tiba dengan restuNya.

 

Dina Nurdini Tulisan pengalamannya indah sekali pak Djatmiko, waktu itu saya termasuk rombongan haji januari 2006 dg Ibu Yeni. Memang kita mendapatkan pengalaman spiritual yang indah selama menunaikan ibadah haji

 

Annie Yunus Subhanallah....

 

Witri Dewi Alhamdulillah, terima kasih untuk selalu berbagi ceritanya Pak. Salam untuk Ibu.

 

Bambang Eko Saya selalu terkesan dgn tulisan2 Pak Djatmiko, karena ada "sesuatu" yg bisa diambil sebagai hikmahnya,-

 

Iskandar Tarigan Nice sharing Brow, it's so inspiring.....

 

Rose Hashim Me too terkesan like pak Bambang & inspiring like pak Is....salam buat ibu yang cantik!.

 

Hari Setyobudi Subhanallah ............ benar2 menarik untuk disyukurin, nuhun, slam hormat untuk Ibu Yang Slalu berkecukupan.

 

Noer Aida Chamin Pengalaman tsb adalah salah satu hikmah ibadah hajji yg bisa membawa Bpk & Ibu menuju kesadaran universal, dalam mengambil keputusan yg pas dan aman. Alhamdulillah

 

Agnes Biantoro Bu Yeni memang istri yg sholeha ... selalu tampil ayu dengan kelembutan tutur katanya .... SubhanaALLAH .... bu Yeni penuh dng kesederhanaan yg bersahaja ... sangat pantas untuk di jadikan panutan ....

 

Hari Budiman Subhanallah... Sebuah pengalaman spiritual yg sangat indah, saya pun tdk heran dgn cerita "aneh2" di tanah suci. Karena banyak jemaah haji Indonesia mengalaminya.

 

Achmad Djatmiko Salam bu Tavi Yastuti, terima kasih apresiasinya.. Insya Allah sedang saya pikirkan. Memang salah satu motivasi saya yang utama adalah untuk berbagi hikmah .. tapi, di luar dugaan, banyak memberi saran demikian, agar dibukukan, spy jangkauannya lebih luas lagi.. Masya Allah.. Mudha-mudahan bisa, dengan pertolongan Allah. Salam yo untuk Mas Amir.. long time no see. Setiap saya ke Semarang, pasti gak bisa ketemu..

 

Haryo Hutomo wadduuuh...,, saya merasa berdosa nih mas,,, saya dan isteri serta mas djatmiko dan isteri waktu di nabawi,kan satu kamar,, gak kedengeran apa-apa,, soalnya kita lagi mbicarakan teman kita yang kehilangan kalung emas yg baru dibeli,, hanya mungkin dikarenakan tidak memberi sedekah sama pengemis di depan nabawi,, maaf ya mas

 

Much Risun subhaanalloh,Allohu Akbar.....

 

 

------------------------

Achmad Djatmiko

------------------------

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now