¨Kami masih butuh Tuhan, Pak..!"

August 14, 2018

 

Malam itu (25 Juli 2012) aku baru saja pulang dari melaksanakan shalat Taraweh (Qiyyamul Lail) di sebuah surau di Kampung Cemerlang, pinggiran kota Kuching, Sarawak. Sambil istirahat, seperti biasanya, aku melayari (browsing) internet untuk melihat-lihat perkembangan berita dan situasi “kampung global” melalui dunia maya. Tidak lupa, aku pun membuka Facebook-ku terlebih dahulu sekedar untuk berkomunikasi dengan teman-teman. Subhanallaah! Memang betul kata orang bahwa dunia kini memang terasa semakin mengecil dan tanpa jarak. Berkomunikasi dengan siapa pun, di belahan dunia manapun dan kapanpun bisa kita lakukan secara langsung (real time) tanpa terkendala waktu dan lokasi. Betapa sudah sepantasnya kita bersyukur.

 

Ketika kulihat di “notification”, ada beberapa komentar dari teman-teman terhadap profile picture-ku terakhir, yang menampakkan aku bersama isteri dan kedua anakku sedang berpose di depan Ebara Toritsu Hospital, Tokyo, pada tanggal 12 Januari 1999, atau tiga hari setelah kelahiran anak kedua kami, Hanif. Salah satu komentarnya berasal dari seorang ibu yang tinggal di Copenhagen, Denmark, bernama Sri Nanni. Ia mengomentari foto tersebut dengan kalimat yang penuh canda, terutama terhadap wajah dan penampilan kami yang terlihat masih muda (wajah 13 tahun lalu). Ibu ini termasuk salah satu WNI yang cukup akrab dengan kami sekeluarga saat masih sama-sama tinggal di Denmark. Kini dia masih disana, karena bersuamikan warga setempat, sementara kami sendiri sudah pindah tempat tugas, yaitu ke Singapura dan akhirnya kini di Kuching, Sarawak. 

 

Setelah kutanggapi komentarnya mengenai profile picture-ku tersebut, kami pun lalu sempat terlibat percakapan basa-basi sambil tak lupa menyertakan kalimat-kalimat canda sebagai bagian dari gaya khas kami selama ini. Pembicaraan terakhir ditutup dengan pertanyaanku mengenai situasi bulan puasa di Denmark, yang memang sangat khas karena di lingkungan budaya non-muslim yang tidak berpuasa.

 

“How is Copenhagen?" Kataku.

“Long hot sommer in Ramadahan Pak ,,bayangin baru buka jam 21.30....”, jawabnya. 

“Woow...sebentar ya..saya bayangin dulu.!!” kataku, yang kemudian kulanjutkan lagi dengan pertanyaan, “Subuhnya or imsak jam berapa?”

 

“Imsyak sekitar jam 3an subuh jam ½4 an untungnya awak ini uda sadar klw usia uda mau mendekati kepala 5 jadi kudu insyaf jadi walaupun panjang dan panas masih bisa puasa pak..ya kadang buka jam 19 habis uda nggak kuat..kan boleh ya pak.. step by step gitu loh..he..he...”, jawabnya, menjelaskan

 

Apa yang dikatakan si ibu tadi memang betul, setelah aku check di Islamic Finder, waktu Subuh di Copenhagen pukul 02.43 dan Magribnya 21.28, sedangkan waktu Isha pukul 23.35.  Bayangkan! Waktu tidur malam untuk istirahat secara efektif hanyalah sekitar 2 jam, sebelum bangun lagi untuk santap sahur dan shalat subuh. Lagi-lagi aku bersyukur tidak sempat mengalami musim panas panjang (long summer) seperti itu ketika kami tinggal di Copenhagen dulu. Selama empat tahun disana (2002-2006), kami selalu mengalami Ramadhan bertepatan dengan musim dingin (winter), yaitu bulan November dan Desember yang waktu siangnya pendek. Waktu subuhnya saat itu sekitar pukul 07.30 dan waktu maghrib sekitar pukul 16.15.   

 

Itulah bagian dari dinamika kehidupan yang dialami seorang muslim ketika tinggal di negara empat musim. Beberapa tantangan harus dihadapi dan dijalani untuk bisa tetap "survived" mempertahankan iman dan keyakinan, baik pada saat musim panas maupun musim dingin. Setiap hari tantangan selalu menanti, godaan pun menyertai karena sangat menonjolnya aspek duniawi disana-sini, di tengah masyarakat yang berbudaya non-Islami. Suasana yang bernuansa religi amat jarang dan hampir mustahil dijumpai kalau tidak kita cari sendiri.

 

Datangnya Ramadhan, tanpa kecuali, merupakan salah satu bentuk tantangan yang harus disikapi, apalagi bertepatan dengan musim panas sekarang ini (Juli 2012). Mengatasi rentang waktu antara subuh dan magrib yang begitu panjang, yaitu sekitar 19-20 Jam, beberapa warga ada yang kemudian berbuka setelah berpuasa 12 jam, tidak perlu sampai menunggu datangnya waktu magrib. Menurut mereka, ada fatwa atau qiyas ulama yang mengatakan bahwa waku puasa paling lama adalah 12 jam (wallahu’alam). Namun banyak juga yang tetap berbuka hingga saatnya Magrib tiba.

 

Sebaliknya, bila Ramadhan bertepatan dengan musim dingin, maka selisih antara waktu shalat Subuh dengan waktu magrib (berbuka) hanya sekitar 7-9 jam sehingga waktu puasanya relatif pendek. Tentu saja setiap muslim yang berpuasa tidak memiliki masalah untuk menjalaninya. Mereka berbuka sesuai dengan tibanya waktu magrib, dan tidak perlu memperpanjang menjadi 12 jam. Itu adalah “kemudahan yang diberikan Allah” kepada umat-Nya.

 

Musim panas biasanya merupakan musim “keriangan”, karena suasana kota begitu hidup dan dinamis. Jalanan akan selalu ramai penuh kendaraan lalu lalang dan manusia hilir mudik. Selepas jam kantor, sekitar pukul 17.00, biasanya matahari masih tinggi sehingga kebanyakan warga tetap berada di luar dengan acara masing-masing (outing), tidak segera pulang ke rumah. Sebaliknya, musim dingin seakan menjadi simbol “kemuraman”, menyebabkan suasana kota sepi dan kurang hidup. Orang lebih suka tinggal di rumah atau di dalam gedung dan enggan bepergian sehingga jalanan umumnya terasa lengang, terselimuti salju tebal. Sungguh merepotkan, tidak seperti yang saya bayangkan dari film-film layar lebar yang saya pernah tonton sebelumnya. Pemandangan orang-orang berjaket tebal, pakaian berlapis-lapis, menembus hujan lebat salju dengan pemandangan sekitar yang serba putih ternyata bukan hal yang selalu menyenangkan dan penuh dengan romantisme.

 

Kami sendiri mengalami empat kali Ramadhan yang kebetulan bertepatan di musim dingin dengan suhu rata-rata antara 5-9 derajat celsius. Tidak ada perubahan suasana yang dapat dirasakan. Dalam keseharian tetap tidak pernah terdengar suara adzan darimana pun untuk mengetahui tibanya waktu shalat atau berbuka, kecuali dari komputer di kamar kerja masing-masing. Sesuai program "waktu shalat" yang sudah di-setting, dari komputer akan terdengar lantunan suara adzan menandai saatnya berbuka.  Setelah itu, kami pun berbuka sekedarnya di kantor, lalu shalat magrib sebelum kemudian pulang ke rumah masing-masing sambil diselimuti hawa dingin dan salju tebal sepanjang perjalanan. Itu pun harus dilakukan dengan kehati-hatian, terutama bila salju sudah menebal dan padat menutupi jalan, maka kondisi jalanan menjadi ekstra licin dan membahayakan kendaraan. 

 

Sesampainya di rumah, dengan pemanas (heater) yang menyala di tiap kamar, tenggelam lah kami dengan suasana keluarga masing-masing. Tidak akan terdengar hiruk pikuk orang-orang di luar rumah yang sedang berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat tarawih. Tidak akan terdengar pula sayup-sayup lantunan para jamaah yang sedang tadarusan di masjid, seperti halnya yang biasa kita alami bila sedang di Tanah Air. Bila sudah demikian, kami pun lalu istirahat, melakukan tidur malam yang cukup panjang, karena pukul 07.00 pagi masih bisa santap sahur. Suasananya begitu monoton, menjenuhkan, tidak ada yang istimewa. Bagaimana mungkin kami bisa merindukan Ramadhan dan juga mengistimewakannya? Setiap tahun ia datang dan pergi begitu saja tanpa kesan.

 

"Bulan Ramadhan, yang kata orang penuh rahmat, magfirah dan pembebasan nampaknya tidak singgah di Copenhagen..", begitu pikirku saat itu. Karena tidak singgah, maka bisa jadi aku tak akan bisa merasakan kehadirannya? Padahal, aku selalu punya niat dan berusaha untuk jadi orang beriman, agar termasuk dalam golongan yang diseru Allah Swt. untuk berpuasa, meningkatkan ibadah dan memanfaatkan momentumnya untuk menjadi orang yang takwa. Ya Allah.. bisa gawat kalau begini.. Aku begitu gundah dan sangat mengharapkan pertolongan-Nya agar dapat tetap bertahan terhadap tantangan keadaan yang menurutku cukup berat untuk dihadapi.

 

Untuk melampiaskan kegundahan tersebut, aku ingat betul, kemudian aku bertanya kepada salah satu staf di kantor yang kuanggap "tahu agama". Ia bernama Pak Udin Komarudin dan sudah lebih dari 20 tahun bersama keluarga tinggal di Denmark. Kami pun terlibat percakapan yang cukup  panjang di kantor.

 

"Pa Udin, punten, kalau puasa teh disini memang seperti ini?", tanyaku.

 

"Maksud Pa Djatmiko, bagaimana?" jawabnya, ingin mendapatkan penjelasan lebih jauh.

 

"Iya Pa Udin, pan disini teh masjid jararauh, taraweh kagak ada, buka bersamanya sendiri-sendiri, terus kita-kita gak punya kegiatan apalah gitu.. yang bisa membikin suasana jadi "berbau" bulan puasa, seperti di Indonesia?", kataku lagi, menjelaskan.

 

Lalu Pak Udin dengan gayanya yang khas menuturkan bahwa memang tidak mudah mempertahankan iman di negeri orang, di sebuah negara maju yang tidak Islami. Kalau tidak waspada, lambat laun iman bisa terkikis bahkan hilang dan mati. Mengapa? Karena dalam keseharian kita menikmati dan merasakan kenyaman hidup duniawi. Di hampir semua aspek kehidupan kita rasakan adanya kepastian. Kita dimanjakan oleh suasana sehari-hari yang begitu tertib, lancar, disiplin dan serba teratur. Orang pun saling patuh dan menghargai satu sama lain. Semua itu, ditunjang pula oleh terpenuhinya semua kebutuhan pribadi dan falisitas publik yang memadai. Sekolah gratis, kesehatan gratis, sarana olah raga tersedia, transportasi murah, sehingga setiap individu tidak lagi terpikir untuk menabung. Untuk apa? Toh hari tua pun dijamin oleh negara, masa depan anak-anak pun dilindungi dan menjadi tanggung jawab negara.. Lalu Pak Udin pun menambahkan,

 

"Disini, Pa Djatmiko, yang penting asal kita mau bekerja dan jangan pilih-pilih, kita bisa hidup, untuk sebulan.. Apapun jenis pekerjaannya, penghasilannya sudah di-standard-kan, bisa untuk hidup sebulan", kata Pak Udin dengan berapi-api menjelaskan.

 

"Subhanallaah.. begitu ternyata ya Pak.." Kataku terkesan sambil mengangguk-anggukan kepala. Penuturan Pak Udin menjadi tambahan informasi dan pengalaman yang berharga bagiku yang baru beberapa bulan berada di Denmark. Meskipun begitu, aku masih penasaran, karena Pak Udin sebenarnya belum menjawab pertanyaanku, apakah setiap bulan Ramadhan tiba, tidak ada aktivitas apapun yang kita lakukan untuk menyambut dan mengisinya.

 

"Iya Pak Djatmiko, di negara maju seperti ini, terasa sekali tenaga kerja manusia begitu dihargai.. orang bisa terlena dan lupa diri. Sebab, ketika semua orang merasa hidupnya tercukupi, tidak penah kekurangan dalam keseharian.. akhirnya jadi keenakan. Terusnya... gak akan pernah terpikir bahwa ia perlu Tuhan. Mengapa? Dalam konsep orang sini Pak,Tuhan kan untuk menolong manusia, sementara mereka merasa tidak perlu lagi ditolong oleh siapapun, termasuk Tuhan..." Tambah Pak Udin, dengan mimik yang semakin serius.  

 

"Ya..ya..ya.. Masuk akal juga ya Pa Udin.. Secara logika tidak salah, menurut saya. Hidup mereka, setiap orang, sudah senang, sejehtera, bahagia sehingga.. tidak perlu lagi Tuhan.!!" Kataku seperti menyimpulkan.

 

"Iya pak.. begitu yang saya lihat dan amati.. Termasuk dalam hal ini, ya kalau bulan puasa tiba seperti sekarang ini.. Mereka tidak mengenalnya, karena itu menyangkut hal agamis, menyangkut urusannya orang-orang yang masih membutuhkan Tuhan, Pak.." balas Pak Udin singkat

 

Dengan mengikuti logika gaya "atheis" yang dikatakan Pak Udin, bahwa "Tuhan adalah untuk menolong manusia" aku pun menambahkan dan memperkuat penjelasannya,

 

"Hm... jadi berarti Tuhan jarang main atau nengokin ke sini, ya Pak Udin?" kataku penuh tanya

"Iya Pak, karena tidak dibutuhkan.." Kata Pak Udin sambil tersenyum.

 

"Kalau begitu, kasihan juga ya Pak Udin, saudara kita para WNI yang tinggal disini. ." Kataku berteka-teki

 

"Lho? Memang kenapa Pak Djatmiko?" Kini gantian Pak Udin yang nampak penasaran

 

"Coba Pak Udin bayangkan, disini setiap orang merasa sejahtera karena peran dan tanggung jawab negara terhadap warganya.. jadinya mereka tidak inget Tuhan..tidak butuh Tuhan kan Pak? Nah... kalau para WNI yang tinggal disini juga ikut-ikutan tidak butuh Tuhan, kan aneh Pak? Apakah diantara mereka tidak ada yang tergerak untuk menyambut dan mengisi bulan Ramadhan, seperti halnya ketika mereka masih berada di kampungnya masing-masing dulu? Kataku

 

"Maksud Pak Djatmiko?" Tanya Pak Udin.

 

"Kita banyak yang sudah terkena 'syndrom Eropa' Pak, ikut-ikutan kagak butuh Tuhan.. Padahal, sebetulnya hidupnya pun masih blangsak, masih sangat membutuhkan pertolongan-Nya..!!"

 

"Masya Allah! Pak Djatmiko bisa aja.. Tapi, betul juga tuh Pak..betul juga, memang begitu"

 

Pada akhir pembicaraan kami berdua menyepakati bahwa “kami masih membutuhkan Tuhan dan sampai kapan pun Insya Allah, tetap membutuhkan-Nya”. Untuk itu, perlu dicari cara berupa kegiatan yang bisa membangkitkan lagi semangat Ramadhan. Pak Udin sempat menegaskan lagi, bahwa, 

 

"Sebenernya sih Pak.. pinginnya saya dan keluarga juga.. ada lah kegiatan agama diantara sesama kita.. ya, supaya terasa kalau kita ini sedang di bulan puasa. Ini penting sekali Pak, terutama untuk anak-anak saya, yang lahir dan besar disini dan alhamdulillaah tetap Islam, supaya mereka lebih merasakan bagaimana nikmatnya ibadah puasa teh... Bukan sekedar tidak makan dan tidak minum di siang hari sajah.."

 

"Iya lah Pak, betul sekali itu…kenapa atuh gak diadakan aja, dari dulu?" Balasku 

 

"Ah, Pak Djatmiko.. Siapalah saya ini Pak?  Saya kan hanya staf yang melaksanakan perintah", Jelasnya sambil tersenyum getir.

 

"Jadi, selama Pak Udin disini, belum pernah ada Pak, misalnya Tarawih, atau buka bersama?" Kataku 

 

"Ada sih Pak, tapi itu seminggu sekali, mengundang masyarakat, setiap Jum'at sore.. Kita makan dan berbuka dulu, terus shalat magrib bersama, terus setelah itu… ya ada yang tarawih, ada yang ngobrol.. atau ada juga yang terus pulang. Jadi, lebih sebagai untuk silaturahmi aja, Pak". Kata Pak Udin..

 

Atas dasar penjelasan tersebut, aku punspontan mengajukan usulan kepada Pak Udin untuk bersama-sama memulai kegiatan tarawih di Kantor, setiap hari, dengan mengatakan, “Pak, gimana kalo kita adakan taraweh sendiri tiap malam disini (kantor) ?”

 

Namun sebelum pertanyaan itu kusampaikan, aku mencoba menerangkan dahulu alasannya. Kusampaikan antara lain, “Begini Pak Udin, saya teh pernah dengar dari salah satu Ustadz saya waktu kecil dulu.. katanya iman itu ibarat tanaman, yang harus selalu disiram. Kalau dibiarkan, lama tidak ada yang menyirami, ya..lama-lama akan layu dan bisa mati. Nah…setelah beberapa bulan saya disini, saya merasakan bahwa iman saya ini tidak ada yang menyirami, Pak. Bayangin! Masjid tidak ada, shalat jamaah tidak ada, adzan tidak pernah kedengaran, tausiyah juga tidak ada.. Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa yang harus menyirami iman saya ya bukan siapa-siapa... tapi diri saya sendiri.”

 

Pak Udin kulihat sangat kaget dengan penjelasan dan usulku. Di luar dugaanku, ia langsung menyatakan setuju dengan wajah yang antusias. Ia pun lalu menambahkan,

 

“Insya Allah..Insya Allah saya dankeluarga siap Pak.. Hanya saja, Pak Djatmiko, belum tentu ada orang yang mau datang bergabung dengan kita.. Karena mereka tahunya taraweh di KBRI itu ya seminggu sekali, setiap Jum’at malam..?” Pak Udin pun menyampaikan kemungkinan yang bisa terjadi.

 

“Maksud saya, taraweh ini sifatnya peribadi, bukan Kantor yang mengadakan. Jadi, mau ikutan silakan, tidak juga tidak apa-apa..Kita tidak maksa Pak, karena ini kan kebutuhan kita sendiri, Pak"

 

Ringkasnya, kami pun mulai melaksanakan shalat tarawih setiap malam yang dihadiri oleh 3 keluarga saja, yaitu keluargaku, keluarga pak Udin dan ditambah satu keluarga lagi, yaitu keluarga Pak Pipien yang tanpa diduga sangat antusias ikut bergabung tiap malam. Kami berangkat ke kantor sebelum Isha, dengan membawa makanan masing-masing seadanya. Kita pun lalu sempat ngobrol-ngobrol sebelum shalat Isha dan Taraweh dilaksanakan, sambil manikmati makanan ingan yang dibawa dari rumah. Saat shalat yang menjadi Imam adalah Pak Udin, yang memang bacaannya paling baik dan fasih.

 

Tapi, kami semua merasa senang menjalaninya, meskipun setiap malam harus kembali lagi ke kantor melintasi jalanan licin bersalju. Subhanallaah.. Ada perasaan istimewa yang susah kami katakan. Saat orang-orang terlelap memeluk kehangatan di rumah masing-masing, saat suasana kota yang dingin mencekam keengganan untuk pergi kemana pun, kami dengan gagah berani, tetap berangkat menunaikan shalat Taraweh..

 

Awalnya memang hanya kami tiga keluarga saja yang melaksanakannya setiap malam. Namun secara perlahan, berita pun lambat laun menyebar, mulailah berdatangan anggota masyarakat bergabung. Mereka tidak banyak, namun saling bergantian datang dengan penuh kekaguman karena tidak pernah terjadi sebelumnya, setiap malam ada taraweh bersama.

 

Kegiatan taraweh bareng di kantor ini terus rutin berlangsung di bulan Ramadhan tiap tahun selama empat tahun berturut-turut. Memasuki tahun kelima, aku tidak tahu lagi karena sudah dipindah-tugaskan ke Jakarta. Yang pasti kami menikmati sekali suasana kebersamaan saat itu, yang tidak sekedar bisa bertukar pikiran masalah keagamaan, tapi juga merasa seperti saudara sendiri, karena terjalinnya silaturahmi.  Semua itu dimungkinkan karena kami sepakat, “kami masih butuh Tuhan, meskipun di negeri orang”

 

---------------------------------------

Kuching (Sarawak),  27 Juli 2012

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now