Biaya Misterius

August 15, 2018

 

Kejadiannya pada akhir bulan September tahun 2005, menjelang Ramadhan, saat kami sekeluarga masih tinggal di Denmark. 

Isteriku baru saja pulang dari Indonesia, mengantar kepindahan sekolah anak-anak kami, Ifa (11) dan Hanif (6), ke Indonesia (Magelang) bersama neneknya. Tiga bulan ia disana mengurus kepindahan sambil mempersiapkan segala sesuatunya agar anak-anak bisa tenang dan tetap bahagia selama berpisah sementara dengan orang tua.

 

Perpisahan ini terpaksa kami putuskan mengingat masa tugas saya di KBRI Copenhagen akan berakhir pada Februari 2006. Bila anak-anak harus menunggu hingga akhir tugas bersama orang tuanya, sudah pasti mereka akan mengalami banyak ketertinggalan pelajaran sekolah di Indonesia. Bila itu terjadi, tahun ajaran baru akan telah lewat dan tahun ajaran berikutnya sudah menjelang. Selain itu, juga ada pertimbangan finansial, yaitu terus melonjaknya tingkat kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk mahalnya biaya sekolah anak-anak di Denmark (dan Eropa pada umumnya) saat itu.

 

Melonjaknya secara dramatis nilai mata uang Euro terhadap dollar AS terus berlanjut seakan tak terbendung saat itu, yang kemudian mempengaruhi mata uang setempat (Kroner). Empat tahun sebelumnya ketika kami baru tiba (2002), nilai tukar 1US $ ≍ 8,4 Kroner, namun saat kami menjelang pulang, nilai tukar 1 US$ ≍ 5,4 Kroner. Bisa dibayangkan bahwa “take home pay” yang kami terima telah menyusut sekitar 40%. Karenanya, pada bulan-bulan terakhir menjelang pulang tersebut, kami harus merencanakan dan mempertimbangkan aspek finansial ini agar tetap survived menapaki kehidupan selanjutnya.

 

Kami berdua (dengan isteri) tengah berada di dapur, berbincang-bincang sambil melepas kerinduan. Rumah terasa begitu sepi saat itu tanpa kehadiran anak-anak, buah hati kami, di rumah. Tak terasa sudah empat bulan saya tidak bersama mereka sehingga menjalani kesepian di rumah sendiri. Kami pun berkontemplasi, introspeksi dan meneguhkan hati untuk benar-benar meyakini bahwa keputusan yang kami tempuh memang tepat dan merupakan hal terbaik yang harus dilaksanakan. “Kasihan juga anak-anak ya, Nda (saya biasa memanggil isteri dengan sebutan “bunda”), harus kita pulangkan lebih dulu. Tapi yakinlah, bismillah, semua ini juga demi kebaikan mereka kelak. Daripada tetap disini sampai akhir tugas, bisa berantakan semua.” Demikian kataku menghibur diri.

 

Perbincangan kami santai tapi penuh dengan keseriusan saat itu. Di sebuah rumah yg cukup luas, yang tadinya ramai penuh suara canda dan tawa bahkan teriakan, kini hanya dihuni dua orang, aku dan isteriku. Ia sekali-sekali berlinang airmata, karena teringat anak-anak yang baru saja ia tinggalkan di Indonesia. Dalam keadaan begini, saya pun ikut sedih dan merasa bersalah, meskipun dengan sekuat tenaga tidak saya perlihatkan. Suasana cukup mengharukan, hanya kami berdua yang tahu dan merasakan, bagaimana kami harus saling dukung menenangkan perasaan dan memantapkan tekad dan langkah.

 

Pada akhirnya, saya sadari bahwa dalam suasana begini saya harus tampil sebagai pemimpin yang berkwajiban menenangkan. “Yah... sudahlah Nda, semua sudah kita putuskan dan laksanakan. Kita pasrahkan kepada Allah Swt, karena Dia lah yang telah mengatur segalanya. Yang penting keputusan yang kita ambil bukan untuk kemaksiatan, tapi untuk kemaslahatan rumah tangga kita ke depan. Tentunya, tak lupa, kita teruuuus bersyukur.. dan.. bersyukur. Insya Allah, rejeki pasti ada saja dari Allah kelak, entah darimana asalnya..” Begitu antara lain pembukaan tausiyah saya untuk isteri tercinta.

 

Kemudian, lanjut saya, “Yang penting, anak-anak kini telah mapan di tempat yang aman, bersama neneknya. Semua kebutuhan sehari-hari ke depan sudah kita persiapkan, dan mudah-mudahan berkah dan membawa manfaat. Adapun bagi kita selanjutnya, yang paling penting adalah nantinya kita pulang dengan membawa keselamatan dan iman... Yang penting lagi, ketika kita meninggalkan negara ini kembali ke Indonesia, Insya Allah, mudah-mudahan kita tidak punya musuh.. tidak punya hutang, baik uang maupun janji, dengan membawa bekal pengalaman berharga karena telah memiliki banyak saudara selama empat tahun disini”.

 

“Lagi-lagi terbukti, Nda, bahwa Manusia boleh merencanakan, berharap, tapi akhirnya Allah lah yang menentukan. Begitu banyak rencana dan harapan yg ingin kita raih sebelum berangkat ke Denmark ini, 3,5 tahun silam, tapi akhirnya belum dijinkan oleh Allah.” Isteriku kelihatan menarik nafas panjang dan penuh keseriusan mendengarkan. Memang kenyataan yang didapatkan sungguh di luar dugaan, di luar perhitungan. Bagi orang-orang yang tidak mengetahui, mungkin tidak akan bisa memahami keadaan kami saat itu. Kehidupan diplomat di luar negeri, dalam bayangan orang kebanyakan adalah kehidupan yang serba berkecukupan.

 

“Antara lain, kita telah berniat untuk bisa menunaikan ibadah haji saat penempatan disini, tapi nampaknya belum bisa terlaksana, karena kondisi belum memungkinkan. Bagaimana kita bisa pergi haji, sementara untuk kehidupan sehari-hari saja serba pas-pasan. Memang ironis ya Nda, (sambil kugeleng-gelengkan kepalaku sendiri), hidup di luar negeri, di negara maju, tapi serba keterbatasan lah yang kita alami dan dapati”. Kemudian lanjutku, “Tapi, Nda, tetap saja kita tidak boleh kecewa dan putus asa, ya. Mungkin Allah belum mengijinkan, dan waktunya belum tepat. Karenanya, niat pergi haji jangan sampai hilang dan terkubur.. Niat itu harus terus dan tetap kita tancapkan sebagai prioritas utama kita”.

 

Lalu isteriku pun menimpali, “ Iya lah, Yah (singkatan untuk “Ayah”), kita harus tetap sabar dan tawakal, jangan putus asa. Bunda juga ikhlas kok, yang penting kita tetap jalani hidup kita di jalan yang benar. Semua ini pasti banyak hikmahnya, Insya Allah.. Ayah juga tidak boleh menyerah, tetap tegar menjalaninya agar kita tetap selamat dan membawa berkah dan kebaikan bagi anak-anak. Mudah-mudahan anak-anak kita menjadi anak yang shalehah dan saleh, seperti kita cita-citakan. Amin.” Aku tercenung mendengar penuturannya. Ia selalu begitu, tak pernah menuntut, tapi lebih banyak menghiburku, suaminya, dalam setiap persoalan. Gundah dan gelisah tidak pernah ia tampakkan kepada suaminya, meskipun dilanda badai yang kencang dan membahayakan.

 

“Kita memang tidak membawa tabungan untuk pulang, tapi semua itu kan bukan karena kesalahan atau keteledoran, melainkan karena keadaan. Kita jalani aja, Yah.. ! Yang penting, itu tadi, anak-anak udah kita selamatkan, biaya-biaya untuk keperluan mereka ke depan udah Bunda siapkan disana, juga alhamduillah Bunda waktu di Indonesia sempat beli Kijang bekas lho, pake uang tabungan sehingga pas kita nanti pulang setidaknya tidak terlalu repot, sudah ada untuk transportasi sehari-hari di Bekasi (rumah kami).” Begitu kata isteriku, menambahkan.

 

“Lho, Bunda kok bisa-bisanya punya tabungan?” kataku heran

Sambil tersenyum, isteriku menjawab, “Ada aja...! yang penting itu uang halal, sumbernya dari ayah, sengaja Bunda sisihkan selama ini, sedikit demi sedikit, eh... tahunya bisa beli Kijang. Bunda nekad aja Yah.. tidak bagus-bagus amat sih, tapi Insya Allah kondisinya masih baik.”

 

“Alhamdulillah.. Bunda emang jago “ngentit”, ya!” Kataku sambil geleng-geleng kepala dengan nada terkejut dan takjub. Subhanallaah, ya Allah... isteriku diam-diam punya “simpanan” darurat.

 

“Tapi, Yah, sekarang Bunda udah nggak punya pegangan lagi lho. Itu satu-satunya tabungan yg selama ini berhasil dikumpulin” Kata isteriku menegaskan

 

“Ya udah, nggak apa-apa. Yang penting kan kita alhamdulillah sehat, anak-anak sehat, pulang Insya Allah dengan keadaan selamat.” Kataku.

 

“Amin... Amin, ya robbal ‘alamin...ya Allah..”Nada isteriku mantap.

 

Pembicaraan di dapur akhirnya menjadi kebiasaan kami berdua, terutama saat malam tiba. Sehabis makan malam, kami ngobrol berdua hingga larut untuk menepis kesepian dan semakin membangkitkan optimisme masa depan. Hingga satu malam, isteriku pamit lebih dulu untuk tidur karena merasa ngantuk tak tertahankan. Tinggallah saya sendirian, dan tiba-tiba teringat bahwa ijin tinggal kami (stay permit) harus diperbaharui. Saya pun mencari paspor, khususnya milik isteriku yang belum tahu dimana keberadaannya. Kalo pasporku sendiri sudah ditemukan, karena selalu tersimpan di dalam tas kerja.

 

Dalam upaya pencarian sang paspor, semua tempat sudah dijelajahi. Kubuka semua lemari yang ada, kujelajahi semua kamar, kubongkar seluruh laci dan tas bahkan dapur pun tidak lepas dari sasaran tempat pencarian, namun si paspor tak juga kunjung ditemukan. Akhirnya.. saya pun menemukan sebuah tumpukan kertas di bawah lemari baju isteriku. Harapan pun muncul, untuk dapat menemukan paspor yang saya cari ada disitu. Setelah saya lihat satu persatu, tumpukan itu hanyalah terdiri dari berbagai amplop berisi kertas-kertas (file) dokumen, tagihan listrik, air, kuitansi pembayaran sekolah, bensin, kontrak rumah, dsb..dsb. Saya tidak putus asa, terus saya lihat satu persatu semua amplop yang ada, dengan penuh harapan. Tetap saja, paspor yang saya cari tidak didapatkan, namun... justeru saya temukan sebuah amplop kumal yang isinya cukup tebal, namun di luarnya berisi catatan macam-macam, tulisan tangan isteriku.

 

Dengan penasaran, saya buka isinya sehingga membuat saya terkejut. Betapa tidak. Di dalamnya berisi sejumlah uang kertas pecahan (US Dolar) dalam jumlah yang cukup banyak. “Wow... alhamdulillah... Ternyata isteriku memang ‘ahli’ dalam menyelamatkan harta suami” Begitu pikir saya saat itu. Amplop saya kembalikan ke tempat semula, lalu saya pun pergi ke peraduan menyusul isteri, dengan penuh kegembiraan. Sempat saya pandangi lekat-lekat wajah isteriku yang sudah terlelap tidur, “Ya Allah.... “, Hanya itu yang bisa saya ucapkan, sambil senyum sendiri menahan geli bercampur haru.

 

Keesokan malamnya, saat kami berbincang kembali di dapur, saya katakan, “Alhamdulillah Nda, kita semakin mantap untuk pulang. Meskipun tidak membawa apa-apa, setidaknya adalah sedikit tabungan, kan?”

 

Isteriku menjawab “Tabungan? Tabungan yang mana, Yah? Ayah masih ada tabungan?”

Dalam hati saya geli, melihat isteri seakan berpura-pura tidak menyadari. Lalu saya sambung lagi, “Ada.. masih ada tabungan. Tenang aja! Sebenarnya, punya orang lain sih... (maksudku, nyindir dia).”

 

“Lho? Punya orang lain bagaimana? Berarti bukan tabungan Ayah? Katanya

“Bukan.. emang bukan punya Ayah.. Tapi punya Bunda.. hehhe” Kataku mulai bercanda.

“Punya Bunda? Punya Bunda bagaimana? Kan Bunda udah bilang, tidak punya tabungan lagi, semuanya sudah dialokasikan pada saat Bunda nganter anak-anak ke Magelang. Jangan bikin bingung, ah?” Isteriku semakin bingung, nampaknya. Atau pura-pura bingung?

 

Saya pun masuk kamar untuk ngambil amplop yang kemarin malam kutemukan, lalu saya tunjukkan kepadanya. Di luar dugaan, isteriku masih tetap juga seperti orang bingung.

“Ini uang siapa?” Katanya.

“Uangnya Bunda lah, emang uangnya siapa lagi? Nggak apa-apa Nda, Ayah maklum kalo Bunda sebetulnya masih punya simpanan. Maafin lho, Ayah tidak bermaksud apa-apa, sekedar bercanda aja. Dengan begini kan Ayah juga ikut senang. Bunda nyimpan uang sendiri juga bukan buat siapa-siapa kan? Buat kepentingan kita juga, sekeluarga..” Jawabku.

 

“Enggak..enggak.. Ini bukan uang Bunda!” Tegasnya sambil melihat isi amplop

“Lho, bukan uang Bunda gimana? Itu amplopnya amplop siapa? Amplop milik Bunda, kan?” Aku sempat agak meninggi, karena mengira isteriku tidak ingin simpanannya ditekahui karena mungkin punya rencana lain. Saya pun melanjutkan, “Nggak apa-apa Nda, bener enggak apa-apa kalo Bunda memang masih punya sedikit simpanan sendiri. Ayah bisa ngerti.. ayah maklum dan bisa memahami..”

 

Tetapi di luar dugaan, isteriku justeru seperti tersinggung, lalu “Ya.. Allah, Ayah! Bunda udah bilang, tidak punya lagi simpanan. Demi Allah, Yah.! Demi Allah!”

 

Aku jadi kaget, bingung, dan tidak percaya mendengar ucapan isteriku. Kali ini tidak main-main. Nada isteriku adalah nada serius, bahkan sangat serius. Apalagi ia pertegas dengan ucapan “Demi Allah”. Tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak mempercayainya.

 

“Terus, itu uang siapa?” Tanyaku dengan nada mulai merendah.

“Bunda nggak tahu. Kalo amplopnya memang amplop milik Bunda.. dan amplop inilah satu-satunya yang Bunda bawa ke Indonesia saat ngantar anak-anak, karena memang hanya itulah simpanan yang kita miliki. Isinya udah Bunda tukar ke Rupiah semua dan sudah dibelanjakan, dan selebihnya Bunda titipkan ke Eyang untuk keperluan anak-anak sehari-hari dan untuk bayar sekolah tiap bulan.”

 

Aku terdiam. Isteriku pun terdiam. Kami berdua terdiam, sambil masing-masing mereka-reka berbagai kemungkinan yang menyebabkan hal itu bisa terjadi.. Mengapa.? mengapa.? Sebuah amplop yg sudah kosong, bisa kembali terisi. Sejurus kemudian, kami berdua masih terdiam dengan fikiran masing-masing. Ya... Allah, apakah ini cobaan? Apakah ini ... apakah ini.. saya tidak tahu, betul-betul tidak tahu jawabannya saat itu. Meskipun demikian, saya tetap harus berfikiran jernih dan tidak berprasangka terhadap hal-hal yang di luar nalar. Keadaan yang paling masuk akal adalah, uang itu memang uang isteriku, tetapi oleh Allah sengaja “disimpan” sehingga pemiliknya merasa lupa sama sekali. Bila itu yang terjadi, Allah pasti punya tujuan agar dapat dimanfaatkan di jalan-Nya, yaitu jalan yang diridloi. Akhirnya, saya pun berkata:

 

“Nda, betul ini bukan uang Bunda?” tanyaku

“Betul, Yah..! Kata isteriku dengan suara merendah tetap menahan kebingungan.

“Oke Nda, kalo memang ini bukan uang Bunda, dan secara nalar juga tidak mungkin ada orang memasukkannya ke dalam amplop ini, yang tersimpan dibawah baju, di lemari, mungkin..mungkin ini pemberian Allah untuk kita, Nda. Kalo memang demikian, ya.. bismillah.. dengan seijin Allah, uang ini kita manfaatkan untuk pergi haji saja. Tentunya perlu kita tambahin sedikit agar bisa cukup. Siapa tahu.. beginilah cara Allah memberikan ijin kita pergi ke Tanah Suci.” Kataku dengan suara bergetar.

 

Kulihat isteriku hanya mengangguk perlahan, tidak sepatah kata pun terucap karena masih dlanda ketidakmengertian.

 

“Bismillah.. Ya Allah.. Kalo memang Engkau ijinkan, uang ini akan kami gunakan untuk pergi haji. Beri kami petunjuk Ya ..Allah” Kataku pelan menahan keharuan. Kulihat isteriku tidak sanggup lagi menahan haru, dipeluknya tubuhku sambil terisak-isak. Kami pun akhirnya menangis berdua di dapur sebuah rumah di Taasinge Gade, Copenhagen. Ya.. Allah..

 

“Mari kita mempersiapkan diri, Nda. Hati kita, fikiran kita, perbuatan kita. Kita tunggu dulu beberapa hari sampai hati kita betul-betul yakin dengan keputusan kita”. Kataku, yang disambut dengan, lagi-lagi, anggukan isteriku yang kehabisan kata-kata.

 

Kemudian selama tiga malam berturut turut, setiap malam kami lihat uang di dalam amplop tersebut untuk memastikan bahwa memang yang kami lihat adalah uang sungguhan. Setiap malam pula, kami dapati uangnya masih tetap di situ, tidak berubah. Saya jadi seperti melakonkan seorang tokoh komedi, karena segera setelah melihat amplop, saya bilang kepada isteri, “Betul Nda, ternyata uang betulan.. Masya Allah.. Nda”.

 

Hari keempat kami mantap memutuskan untuk memanfaatkan uang tersebut untuk berhaji. Musim haji masih 3 bulan lagi, saat itu, sehingga tidak terlalu lama menunggu tapi juga tidak terlalu tergesa-gesa. Yang lebih takjub lagi adalah, seakan semuanya sudah diatur bahwa segera setelah selesai menunaikan ibadah haji, bulan berikutnya kami pun pulang ke Indonesia, meninggalkan Denmark, negeri Duyung dan tanah kelahiran HC. Andersen yang penuh kenangan. Masim haji bertepatan dengan bulan Januari 2006, dan kami pulang ke Indonesia akhir Februari 2006. Layaknya sebuah cerita, semua kisah dan cerita yang terjadi selama 4 tahun kami di Denmark, diakhiri dengan “happy ending”, naik haji ke Tanah Suci, yang telah menjadi cita-cita dan prioritas kami selama ini.

 

Akhirnya, ketika musim haji tiba, kami pun berangkat ke tanah Suci. Alhamdulillah semua berjalan lancar, penuh hidmat dan kesan, memperteguh keimanan. Wallahualam

 

 

Achmad Djatmiko

Singapore, 8 Mei 2009

 

====================================================================

38 Comments :

 

Abah Fuad waaaah kisah yg misterius tp...."happy ending"....selamat telah mensyukuri n menikmati kauniaNya....! hanya orang-2 yg betul-2 telah terpanggil dg jalan yg berbeda untuk menunaikan ibadah Haji....!

 

Anisah Aini aku datang memenuhi panggilannnya mu ya Allah....setiap orang "dipanggilNya" dengan cara yang indah...aku jadi rindu..pengin kembali naik haji.

 

Ratna Suminar Priatna mb yen...aku jd ngebayangin situasi rmh itu...ya aku agak ingat dikit2lah...hiks2 terharu jg.. wow.....subhanallah luaar biaassa.....aku yakin itu betul2 pemberian n ridhoNYa....amieen....sepnya Allah akan memberikan rezeki kepada hambanya yg betul2 membutuhkan....dan digunakan dijln yg halal.....aku percaya itu...salam itu mb iffa n mas haniff..udh gak mo dipanggl dik hanif khan..

 

Woro Yuwono aku percaya bgt mas, itu anugrah Allah SWT, hanya untuk umat2Nya yg sll pandai bersyukur..

 

Rokeri Kan Manusia Wuuuuiiiiih Huebattt Yach, Kira2 Bisa nular Nggak yah itu Bapak Boss......???? Ajaiiibbbbbb,,,,

 

Hanung Nugraha subhanallah.....jika engkau taat maka Allah akan memberikan rejeki dari arah yang tidak engkau sangka...

 

Arief Ansostique Wah Bunda Yeni n Pak Dhe Djat, alhamdulillah untuk semuanya. Terima kasih. Wassalaam.

 

Aik Retno Utari Ternyata kalau niat kuat dan tulus, Allah SWT akan memberi jalan ya... thanks ya Djat, salam buat mbak Yeni n anaks.

 

Rahardjo Nsr Boss, kisahmu koq nrenyuhake banget to? aku moco karo mbrebes mili campur aduk ....tak dongake diparingi luwih ing samubarang.....

 

NenekMamak Kiagos Mohamed Subahanallah...telah di takdirkan bpk & ibu menjadi tamu Allah...gimana sekalipun cara....akan tetap menjadi tamunya...Amin

 

Wieda Soedjono Rupanya mas Djatmiko ada bakat terpendam, tulisannya bagus mas, kaya baca cerpen.

 

Elwin Hamzah Subhanallah, kalau hidup ini ikhlas, isya Allah apa yg menjadi niat suci akan didengar dan dakabulkanNya, rezeki, jodoh dan maut itu semua rahasia Allah.
Semoga Jatmiko dan keluarga selalu dilindungi Allah SWT, Amiin ya robbal'alamin

 

Fitriani Subhanallah pak,fitri jd pengen nangis bacanya...Cerita bpk jd pecutan buat mencharge diriku. Allah maha segalanya... Semoga bpk dan keluarga tambah sukses dan diberkahi Allah swt. Amin.

 

Agus Badrul Jamal Maturnuwun Mas Jat. Subhanallah Mas Jat, hanya orang yang ikhlas dan punya niat kuat dan bersih yang bisa seperti itu... Semoga Gusti Allah selalu menjaga kita semua, amin..

 

Adek Triana mas djat when there is a will there is a way, selalu ada jalan kalo ada kemauan...mas jadi rajin nulis nich kalo dikirim ke majalah lumayan loh buat tambahan beli kerupuk...he...he..he

 

Devi Purwanti ajatttt .... it's very inspiring! danke, nuhun, merci, thanks, makasih .....!

 

Syarifuddin Hadi Alhamdulillah, seorang ANDREA HIRATA dari dimensi keimanan telah lahir.. kali ini dari kalangan diplomat. Mudah2an Koh Ah Djat dan Cik Yenni senantiasa berada dalam naungan Barokah Allah. Amin.

 

Shinta Handini subhanallah... membaca cerita bapak, saya gak bisa ngomong apa2 selain menyebut asma-Nya... :)
trima kasih saya sudah diperkenankan utk membaca ceritanya... trima kasih pula sudah meng-add saya.. :)
saya mendapatkan link-nya dari mas Hadi... makasih juga buat mas Hadi... :)

 

Syamsul Alam Mas Jatmiko, ceritanya benar2 mengharukan...make us always be optimistic...biarpun mantab (makan tabungan) yg penting ikhlas...hehehe..

 

Diah Sri Rahayu Subhanallah... terima kasih Pak Achmad Djatmiko atas ceritanya yang mengingatkan saya untuk selalu ikhlas dan bersyukur atas semua rencanaNya..

 

Ifa Hanifah Subhanallah walhamdulillah walaillahaillallah wallahuakbar. Saya sangat terharu dengan cerita Pak Djatmiko. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk berbuat sesuatu kepada hambanya yang tulus dan ikhlas dalam beramal.

 

Rudolf Gahinsah Berbahagialah dan terpujilah...mereka yg dicerahkan perjalanannya.

 

Suharto Edi wonderful story, selamat mas djatmiko et keluarga udah memenuhi rukun yg ke-5

 

Andi Dirgahayu Djat, alus pisan euy caritana .... Mudah2an Djatmiko dan keluarga senantiasa dilindungi oleh Allah SWT. 
Salam keluarga.-

 

Titis Adhiningtyas Subhanallah....cerita mas Djatmiko membuat saya lebih mantap....terima kasih....

 

Ahmad Dahlan itu namanya rejeki min haisu la yahtasib bagi orang yg bertakwa........semoga barokah.....

 

Heru H Subolo mas, teringat cerita ini ketika mas Jat di oslo dulu.. barokah..barokah..

 

Rina Soemarno Subhanallah..berbahagialah karena disayang Allah swt

 

Dwikanti Nurulingtresna Subhanallah..,semoga menjadi haji mabrur...Amiin

 

Haryo Pangarso subhanalloh..tidak bisa comment ..pelajaran kehidupan yg dalam ..

 

Sinta Gemilang Pak Djat...merinding aku bacanya,,Subhanallah

 

Adi Dewanto luar biasa pak Djatmiko, sampai mrinding saya....subhanallah...so inspiring!

 

UL-hasril Emil Subhannallah kuasa Allah ya pak...

 

Sudjana A Hendra Alhamdulillah.Ya Allah... saya bersyukur dipertemukan di tanah suci dg Pa Djatmiko dan Bu Yeni yang sangat baik...... Sampai sekarang pun kami selalu mengingatnya..hanya beliau berdua yang pernah bertemu setelah itu..dan masih berkenan komunikasi dg saya. Semoga semua amal kebaikannya dilipatgandakan pahalanya. Amiin YRA.

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now