Misteri Poligami

August 13, 2018

  

Siang itu aku bersama seorang teman dari Filipina, namanya Mendel Rivera, tengah ngopi di sebuah café di bagian barat Geneva, di Bel-Air Cite yang berbatasan dengan wilayah Perancis. Pembicaraan kami berdua terasa sangat akrab, menyenangkan dan menyasyikkan dengan topik yang beragam tanpa batas. Dari mulai pribadi hingga kedinasan, dari urusan politik sampai kebudayaan, dari keluarga sampai urusan umat manusia. Masya Allaah, kami dipertemukan seperti layaknya teman lama yang telah lama tidak jumpa sehingga masing-masing ingin berbagi dan bercerita apa saja.

 

Sesungguhnya kami tengah mengikuti acara ”City Tour” yang diadakan oleh Geneva Centre for Security Policy (GCSP) sebagai penyelenggara pelatihan “Leaderhsip in International Security Issues” dengan peserta 24 orang yang mewakili negara masing-masing. Pelatihan baru akan dimulai dua hari kemudian dan akan berlangsung selama 8 bulan. Namun karena hampir seluruh peserta telah datang, diadakanlah acara “city tour” ini untuk lebih memperkenalkan kota Geneva dan sekitarnya kepada seluruh peserta. Dalam mengikuti acara tersebut ternyata kami terlalu menikmat diri sendiri sehingga terjadilah sebuah “musibah”, yaitu kami berdua terpisah dari rombongan.

 

Beberapa tempat bersejarah baru saja kami kunjungi, diantaranya sebuah geraja tua eksotik yang masih berdiri megah dan artistik. Kami juga diperlihatkan patung Henry Dunant, bapak Palang Merah Dunia serta tempat-tempat bersejarah lain di sekitarnya. Terhadap semua itu, sebenarnya aku tidak lagi terkejut apalagi takjub. Aku bersama keluarga pernah tinggal di Eropa (Copenhagen) selama 4 tahun dan berkesempatan mengunjungi situs-situs bersejarah serupa sebelumnya. Harus diakui bahwa salah satu keunggulan orang Eropa adalah sangat menghormati tempat-tempat peninggalan sejarah bangsanya dengan merawat dan menjaganya sehingga dapat memahami asal-usul keluarga, kota, dan negaranya. Kalau tidak salah Bung Karno pernah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan mewasiatkan kita untuk jangan sampai melupakan sejarah (jas merah). Dan itu semua terbukti disini. Kesan ini aku ceritakan kepada Mendel, yang kebetulan belum pernah bertugas di negera Eropa.

 

Musibah yang terjadi akhirnya kami nikmati sendiri dengan kesepakatan bahwa rombongan tidak perlu dicari dan lebih baik mampir saja di café untuk merokok dan ngopi. Apalagi udara saat itu cukup dingin, sekitar 5 derajat Celcius, sehingga terbayangkan betapa nikmatnya itu bisa terjadi. Sungguh saya tidak menggerti, mungkin ini salah satu rahasia dari kehendakNya, bagian dari kekuasan Allaah Swt yang dapat memberikan kenikmatan apa saja kepada setiap hamba-Nya. Kenikmatan yang kali ini aku rasakan adalah kebersamaanku dengan Mendel. Kami seperti sudah mengerti dengan style dan karakter masing-masing, sehingga kadang tertawa terbahak-bahak bersama, kadang sangat serius membahas sesuatu seperti tidak ada habisnya.

 

Kami sama-sama memahami bahwa meskipun berbeda agama dan keyakinan, tapi itu tidak menjadi penghalangi kami untuk bertukar pikiran dan pengalaman, bahkan mengenai kebenaran. Di tengah-tengah obrolan, Mendel tiba-tiba bertanya,

“Ahmad, di Manila saya punya banyak teman Muslim dan saya cukup dekat dengan mereka serta memahami kehidupan mereka. Karena itu, saya ingin bertanya kepadamu, tapi maaf ya kalau tidak berkenan..,”

 

All right. Shouldn’t be a problem. What’s your question?” Aku balik bertanya dengan gaya seakan menantang. Dengan mimik yang agak serius, Mendel pun lalu merendahkan suaranya dan berkata, “Kamu punya isteri berapa?”

 

Bayangkan! pertanyaan tersebut tentu saja mengejutkanku, karena dilontarkan secara tiba-tiba dan di luar perkiraan. Lalu,

“Okay. Is that your question? What do you think?” Jawabku, justeru dengan mimik yang santai dan ekspresi yang tidak terlalu serius. Lalu aku pun melanjutkan,

“Saya pun punya pertanyaan juga, mengapa kamu menanyakan itu kepada saya?”

 

Ia pun tertawa, dan kami pun akhirnya tertawa bersama. Namun demikian, pertanyaan itu tidak kubiarkan begitu saja berlalu. Sebelum akhirnya beralih topik, kujelaskan bahwa pertanyaannya tidaklah mengejutkan karena sering kali diungkapkan juga oleh teman-teman lainnya saat mengetahui bahwa aku seorang Muslim. Aku tidak mengerti, mengapa kalau kita berbicara atau mendengar tentang Islam, secara spontan yang muncul di benak orang adalah gambaran mengenai seorang laki-laki yang beristri banyak. Aku mencoba mulai menjelaskan secara hati-hati dan perlahan.

 

Sebelum kulanjutkan lebih jauh, Mendel sudah berbicara lagi,

“Bukan begitu maksud saya, Brother. Saya sungguh tidak tahu jika Islam dipandang seperti itu. Saya tanyakan ini hanya berdasarkan fakta, bahwa teman-teman muslim saya hampir semuanya beristeri lebih dari situ. Saya sering berdiskusi dengan mereka, apakah sebenarnya mereka mampu menafkahi isteri sebanyak itu sementara, you know, salary kami di Manila kan sebenarnya pas-pasan. I don’t think they can afford it.”

 

“Ok, lalu?”Tanyaku tidak kalah cepat.

 

“Itulah..mereka menjawab bahwa yang mereka nikahi adalah wanita-wanita yang mampu, sudah mapan dan kaya. Padahal menurut saya, sebenarnya kan tugas laki-laki untuk menafkahi para isterinya?” Jawab Mendel dengan raut muka yang bingung.

 

Dengan berat hati tapi tanpa beban, akhirnya kujelaskan panjang lebar mengenai konsep poligami dalam Islam. Intinya adalah bahwa poligami dibenarkan, dibolehkan tetapi tidak diwajibkan. Anda boleh berpoligami, tetapi dengan syarat yang cukup berat, yaitu harus mampu bersikap adil kepada para isterinya dan menafkahi mereka. Yang unik adalah, bahwa bagi kebanyakan orang Indonesia, termasuk yang beragama Islam, poligami masih dianggap hal yang tabu sehingga cenderung melihat sinis perbuatan tersebut. Karenanya, poligami termasuk tidak banyak di Indonesia, dibandingkan dengan jumlah laki-laki muslimnya.

 

“Ya..ya.. itulah uniknya muslim di Indonesia.” Kata Mendel, seolah menyimpulkan penjelasanku.

 

Kami pun kemudian berbincang-bincang lagi kesana-kemari dengan topik yang silih berganti, sebelum akhirnya berpisah untuk kembali ke tempat kost masing-masing. Sudah cukup lama kami ngobrol sehingga diperkirakan rombongan pun sudah selesai dengan kegiatan “city tour” mereka untuk kembali berpencar pulang.

 

Hari kedua kegiatan pelatihan telah berakhir yang diisi dengan sesi mengenai Information and Technology (IT). Saat itu sekitar pukul 5 petang, dan aku sedang berjalan menuju halte Trem No 15 yang tidak jauih dari tempat pelatihan, yaitu Gedung GCSP. Dengan trem itulah aku akan kembali ke tempat kost ku di Caserne de Vernes. Tiba-tiba, seorang teman wanita dari Tanzania, Ms. Zuhara Mwera mengiringi langkahku dengan berjalan tepat di sampingku. Ia seolah ingin mengajakku ngobrol atau pun merasa memiliki teman pulang yang searah.

 

Memang demikian adanya, bahwa setelah acara “ice breaking” sehari sebelumnya, sangat terasa bahwa hubungan diantara kami para peserta menjadi semakin akrab satu sama lain. Ia pun kemudian menyapaku lebih dulu,

 

“Hai Ahmad, which direction are you going?, tanyanya. Lalu kutunjukkan arah dimana tempat kost ku berada, dan bahwa aku akan menaiki Trem No. 15. Rupanya ia pun menuju ke arah yang sama, sehingga kami pun menuju halte yang sama. Jaraknya saja yang berlainan, karena tempat kost ku lebih jauh sekitar dua kali perjalanan dari tempat kostnya.

 

“Ahmad, you are from Indonesia, aren’t you?” tanyanya lagi.

 

Lalu kujawab, “Yes, I am. Dou you know Indonesia, or are you already familiar with it? Jawabku dengan tegas dan mata berbinar-binar. Entah mengapa, aku memang selalu excited bila berhadapan dengan orang asing yang bertanya mengenai negaraku. Aku ingat betul Ms. Zuhara ini saat acara “ice breaking” diperkenalkan oleh teman lain dari Moldova, namanya Dumitru Molceanu. Dikatakan oleh Dumitru bahwa yang menarik dari kehidupan Zuhura adalah bahwa ia seorang Muslimah yang memiliki 14 orang saudara dan 3 orang ibu. Ketika mendengar penjelasan itu terasa suasana kelas, meskipun hampir semua tertawa, agak hambar dan getir, sementara bagiku tidak ada yang perlu dipersoalkan dan dipandang aneh. Zuhara tentu saja memiliki saudara cukup banyak karena ayahnya memiliki tiga isteri, alias berpoligami. Dan ketika saya belum sempat berpikir lebih jauh, Zuhara pun menjawab pertanyaan saya tadi,

 

Of course, I know, Ahmad. I understand that your country has a large number of Muslim population.”

 

“Not only large, it is the largest Muslim country in the world”. Cepat-cepat aku melakukan interupsi dengan berapi-api. Zuhara pun tersenyum mendengar penjelasan saya yang terlihat antusias. Lalu ia melanjutkan bertanya,

 

“Berapa banyak penduduk Islamnya di Indonesia?””,

“Ada sekitar 250 juta”, kataku dengan disertai penjelasan bahwa sekitar 87 persennya beragama Islam.

 

“What? 250 millions..?” Tanya Zuhara lagi dengan ekspresi mirip orang bingung bernuansa bengong. “That’s a lot…. Yes…. It is very big!” Lanjutnya.

 

Dalam hati aku merasa gemas melihat reaksinya, Rupanya Zuhara memang baru tahu bahwa penduduk Muslim Indonesia jumlahnya begitu banyak dan tidak ia bayangkan sebelumnya. Setelah aku sedikit berbasa-basi mengenai keragaman penduduk Indonesia dan bagaimana peran umat Islamnya, Zuhara pun kemudian mengajukan partanyaan yang membikin aku seperti tidak percaya. Pertanyaan yang dilontarkannya adalah,

 

“Ahmad, are you Suni or Shiah?”

Astagfirullaah! Subhanallaah.! Allaahu akbar..! Berulang-ulang aku ucapkan dalam hati kalimah itu. Betapa tidak, aku ibarat disambar petir rasanya. Bukankah pertanyaan serupa baru saja dilontarkan kemarin oleh Laylo, muslimah dari Tajikistan, di dalam kelas? Dan mengapa sekarang kok muncul lagi? Tetapi aku sadar, tidak boleh mengecewakan Zuhara, yang nampaknya memang tidak punya maksud apa-apa selain ingin bertanya saja. Aku pun lalu menjelaskan,

 

Look Zuhara, to tell you the truth, pertanyaanmu bagiku sebenarnya cukup mengejutkan. Kami orang Indonesia, begitu lanjutku, tidak terbiasa ditanya seperti itu karena biasanya, diantara kami, pertanyaannya hanya sebatas pada apakah saya seorng Muslim. Tidak perlu lagi lebih jauh menanyakan Muslim yang mana? Kami jarang sekali, bahkan bisa dikatakan tidak pernah dalam keseharian mempersoalkan masalah aliran secara terbuka. Kami semua merasa sama-sama Muslim dan membiarkan masalah aliran menjadi urusan pribadi masing-masing yang kami serahkan kepada Allah Swt untuk menilainya.”

 

Kulihat Zuhara tampak diam dan serius merenungkan penjelasanku. Lalu aku pun melanjutkan,

“Banyak orang mengatakan bahwa kami ini termasuk kelompok Suni. Tetapi, sejujurnya, aku pun tidak merasakan apa-apa dengan itu. Aku tidak pernah mempersoalkan kepada diri sendiri, apakah benar aku ini Suni, dan sejauh mana, sedalam apa ke-Suni-anku. Seolah-olah, andai benar aku ini orang Suni, itu hanya faktor kebetulan saja karena aku dilahirkan oleh dan tinggal bersama Muslim Suni. Apabila orang ramai masih mempersoalkan pertentangan antara Suni dan Shiah, sebagaimana yang bisa kita baca dalam buku-buku dan media massa, itu urusan mereka, dan kami, khususnya aku, tidak merasa terlibat di dalamnya. Ya…. Begitulah kurang lebihnya.”

 

Ketika kulihat Zuhara masih terdiam dan serius mendengarkan, aku pun melanjutkan, “Setahuku, kita umat Islam membawa amanah dari Allah untuk memakmurkan dunia ini, untuk menjadi “rahmatan lil’A’lamiin”. Kita wajib berbuat baik kepada sesama makhluk ciptaan-Nya, apapun agamanya. Dan, kita juga harus semaksimal mungkin menjalankan semua yang diperintahkan-Nya dan menjauhi yang dilarang-Nya. Dimanapun berada, bagiku sebagai seorang Muslim, kita tetap punya kewajiban untuk shalat lima waktu, untuk menyampaikan kebaikan, menjaga lisan dan perbuatan”

 

Ia seperti terhenyak mendengarkan lanjutan penjelasanku tersebut dan mengatakan sangat setuju dengan sikapku. Katanya, yang penting kita harus tetap menjaga akhlak kita dimana pun berada. Dan ketika mengatakan itu, terlihat wajahnya seperti memancarakan keteduhan dan kedamaian. Seolah ia seperti baru mendapatkan siraman air di tengah terik sengatan matahari. Aku pun lalu menjawab dengan singkat, “Inshaallaah..!”

 

Alhamdulillaah.! Allahuakbar.! Aku bersyukur, akhirnya bisa menjelaskan dan menjawab pertanyaan Zuhara dengan singkat dan cukup tuntas. Mudah-mudahan caraku menjelaskan diberkahi Allah Swt dan membawa kebaikan. Demikian harapanku. Dan kami pun sejenak sempat saling terdiam, sebelum akhirnya Zuhara membuka pembicaraan lagi,

 

“What about polygamy Ahmad, how many wives do you have?

 

Astagfirullaahal ‘adziiim.! Ini ada apa sesungguhnya? Mengapa pertanyaan seperti ini kok datang lagi? What’s so wrong with me? Karena pertanyaan serupa sudah pernah kuhadapi sebelumnya. Akhirnya aku pun menjelaskan kepadanya kurang lebih sama seperti yang kujelaskan kepada Mendel saat kami “kehilangan jejak” bersama beberapa hari sebelumnya. Terutama kutegaskan bahwa meskipun Islam membolehkan tetapi di masyarakat (Indonesia), poligami masih dianggap hal yang tabu. Ia pun sempat menanggapi bahwa di negaranya poligami merupakan hal yang lumrah, seperti yang terjadi dengan keluarganya. Lalu, katanya,

 

“Meskipun demikian, Ahmad, sebenarnya kami kaum wanita tidak setuju, tetapi tidak berdaya..!” Aku hanya tertawa getir menanggapinya. Dan tiba-tiba muncul ide, yang mudah-mudahan ini menjadi bagian dari dakwahku kepadanya. Lalu kukatakan,

 

“Well, Zuhara, actually that’s the point. Whether you like it or not, you agree or not..It doesn't really matter. Yang penting, antara lain, adalah, janganlah kita melihat sinis kepada mereka yang berpoligami, karena hal itu merupakan sesuatu yang tidak dilarang agama. Janganlah kita melihat orang yang berpoligami sebagai berbuat kesalahan, karena itu perbuatan yang halal. Dan.. jangan lupa, bila saya, bila saya... melihat poligami sebagai hal yang biasa saja, tidak bersikap sinis terhadap mereka dan membenarkan perbuatan mereka, bukan berarti saya punya niat ingin berpoligami..”

 

Zuhara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya berulang-ulang. Lalu, akhirnya aku menambahkan penjelasanku, yang setelah kurenung-renungkan, terasa agak berbangga dan menyombongkan diri,

 

”Saya sendiri punya isteri satu. Saya bersyukur (grateful) kepada Allah kami dikaruniai keluarga yang bahagia dengan dua anak yang mulai tumbuh dewasa. Hubungan saya dengan isteri alhamdulillah sangat baik, karena kami mencoba untuk selalu berpegang teguh pada agama dalam menjalani kehidupan bersama. Sebagai suami isteri, saya merasa, kami adalah pasangan yang serasi dan bahagia (happy great couple) …..”.

 

Begitu antara lain jawabanku terhadap pertanyaan Zuhara mengenai berapa isteri yang kumiliki. Jawabanku sebenarnya belum selesai dan masih ada kalimat-kalimat berikutnya yang cukup panjang. Tapi, tentu saja tidak berani kuceritakan disini, karena malu terhadap diri sendiri, sangat bernuansa takabur dan ria… naudzubullaah..! Tujuannya sekedar menepuk dada di hadapan orang asing.

 

Pembicaraan akhirnya terhenti karena trem tiba di stasiun Simon-Goulart, dimana Zuhara harus turun untuk melanjutkan perjalan berjalan kaki menuju tempat kostnya.

 

Oke Ahmad, thanks a lot. We’ll see you tomorrow, assalamu’alaykum..” katanya.

 

”Alaykumussalam warahmatullaah..” Jawabku sambil kemudian termenung takjub. Sungguh peristiwa ini terjadi dan tidak kumengerti. Selama dua hari berturut-turut di negeri orang, aku terlibat dengan pembicaraan yang sama, mengenai agama. Mudah-mudahan Allah Swt tetap memberikan kesadaran dan kekuatan iman kepadaku (dan keluargaku) untuk tetap bertahan di tengah ganasnya perubahan jaman. Wallahualam..

 

 

(Geneva, akhir November 2015)

 

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now