Aku Seorang Muslim.!

August 13, 2018

Siang itu, Senin 12 Oktober 2015, aku berada di dalam kelas bersama 24 peserta lainnya yang mewakili negara masing-masing mendengarkan “Welcoming Speech” dari Dubes Christian Dussey, Direktur Geneva Centre for Security Policy (GCSP), di Geneva. Kami adalah para peserta training mengenai “Leadership in International Security Issues” yang diadakan oleh GCSP untuk selama 8 bulan. Hari itu adalah hari pertama dan juga merupakan sesi pertama dimulainya acara training. Untuk pertama kalinya Indonesia diundang pada training tersebut, sehingga aku pun cukup berbangga, meskipun terasa ada sedikit beban untuk bisa tampil sebaik mungkin.

 

Seperti biasa dalam sebuah rangkaian acara, hari pertama lebih banyak diisi dengan acara perkenalan dan ucapan selamat datang, baik dari lembaga penyelenggara maupun antar para peserta. Memang terasa nuansa multi bangsa disini, karena negara-negara peserta merupakan wakil dari lima benua. Dengan gaya khas masing-masing peserta, kami harus saling kenal dan menunjukkan sikap cooperative, friendly dan confident. Hal ini terutama terlihat pada acara “Ice Breaking” dimana peserta saling memperkenalkan patner di sampingnya masing-masing. Saat itu patner ku bernama Wim Pieters, dari Belgium. Topik perkenalan adalah, “What is the story of your name?” dan “What is an interesting story in your life?”

 

Temanku dari Belgia ini, Wim, agak menarik untuk kuperkenalkan. Dia katakan bahwa Wim adalah nama depan dan Pieters adalah nama keluarga. Namun yang menarik adalah bahwa kakeknya juga bernama Wim, yang memiliki kakek bernama Wim dan demikian seterusnya. Hal itu juga berlaku pada ayahnya yang bernama Jan, yang memiliki kakek bernama Jan yang kakeknya juga bernama Jan dan seterusnya. Ia memiliki latar belakang akademik Sejarah, dan sempat 10 tahun menjadi peneliti sebelum akhirnya bergabung dengan kementerian luar negeri Belgia. Saat menjadi peneliti, ia pernah melaksanakan kegiatan penelitian di Rusia, pada masa pemerintahan Presiden Gorbachev. Menurutnya sungguh kebetulan, bahwa ketia ia akhirnya bergabung dengan kemlu (Belgia), kemudian mendapatkan penugasan pertama di Rusia, sehingga seolah seperti pulang kampung. Hal itu lalu ku sampaikan ulang di depan kelas, dengan cara dan gaya ku sendiri, tentunya.

 

Setelah satu persatu diberi kesempatan untuk bercerita mengenai temannya masing-masing, tibalah pada giliran seorang teman dari Finlandia, namanya Mr. Juha Mustonen, yang mencoba memperkenalkan teman di sampingnya, seorang peserta wanita cantik, masih muda, dan menarik. Ia bernama Ms. Laylo Merali.

 

Dari penampilan fisiknya aku tadinya menduga ia berasal Amerika Latin atau Eropa Tengah. Dugaanku tidak benar, karena ternyata ia berasal dari Tajikistan. Juha kemudian menyampaikan bahwa namanya Laylo, yang kemungkinan adalah nama Islam yang berarti malam yang cerah dan berbintang dan sebagainya. Inilah yang menarik perhatianku, bahwa Tajikistan yang nota bene bekas wilayah Soviet, ternyata berpenduduk Muslim.

 

Terdorong oleh rasa penasaran karena ketidaktahuanku, kemudian menjelang kelas usai, kudekati Laylo dan bertanya kepadanya disertai permohonan maaf karena aku belum begitu mengenal negaranya. Orangnya ramah dan setiap bicara selalu disertai senyum manis tersungging di bibirnya. Ia menjelaskan bahwa Tajikistan berbatasan dengan Afganistan dan tentu saja banyak penduduk Muslimnya. Menurutnya, hampir 90 persen dari seluruh penduduk Tajikistan adalah muslim. Dengan penuh perhatian aku mendengarkan ia bercerita sekilas mengenai negaranya. Lalu, aku pun sampai pada pertanyaan,

 

“Maafkan, kalau aku bertanya mengenai ini, apakah Anda seorang Muslimah?” (Please forgive me to ask you this question. Are you a Muslim?)

 

Sebelum menjawab, ia sempat menyunggingkan senyum, lalu, “Alhamdulillaah, aku seorang Muslimah..” jawabnya.

Mendengar jawabannya, aku pun ikut mengucapkan “alhamdulillaah” dengan perlahan, sambil mengangguk-anggukkan kepala. Namun ternyata tidak hanya itu yang kemudian terjadi. Secara tiba-tiba raut mukanya berubah seperti merasa bersalah dan rendah diri, lalu ia melanjutkan,

 

“Tapi..... aku ini Shiah..” katanya terbata-bata, perlahan dan seakan diselimuti ketakutan. Secara spontan aku menjawab, “What’s wrong with being Shiah..?”, yang ternyata jawabanku itu sangat mengejutkan Laylo. Sebelum ia melanjutkan penjelasannya, aku segera mengatakan, “Kita ini sama-sama Muslim, tidak perlu saling berdebat untuk menyalahkan satu sama lain”. Lalu lanjut ku, “Kita serahkan pada Allah Swt, yang menilai..”

 

“Ya..anda benar, Achmad! Tapi tidak banyak orang yang berpikiran sepertimu. Dan aku berharap, semakin banyak orang yang sepertimu.” Katanya lirih. Lalu pembicaraan pun kami sudahi, dan saling menyapa sampai bertemu lagi besok.

 

Dalam perjalanan pulang ke tempat kost di Caserne, di dalam

Trem No.15, aku merenungkan pertemuan tadi. Ya, jawaban spontanku itu memang merupakan sikap dasarku selama ini. Bagiku, sudah tidak jamannya lagi untuk saling menghujat dan mengkritik satu sama lain, apalagi sesama Muslim. Aku bersyukur dapat mempertahankan sikap ini karena bila aku pun bersikap anti terhadap aliran lain, lalu bagaimana aku harus bersikap kepada teman-teman peserta lainnya yang bahkan agama mereka jelas berbeda? Tidak hanya berbeda, ada pula yang kemungkinan tidak beragama atau tidak perduli dengan agama. Apalagi dalam pergaulan internasional yang sarat dengan keragaman dan perbedaan satu sama lain.

 

Aku sempat juga mencoba menerjemahkan ekspresi Laylo tadi, yang seperti merasa rendah diri, pasrah dan tidak berdaya. Ya, mungkin saja ia tidak berdaya karena kebetulan dilahirkan di lingkungan keluarga Shiah yang ternyata terus menjadi seteru kaum Suni di seluruh belahan dunia. Di lain pihak, ku pun sempat bertanya-tanya sendiri karena memang selama ini aku hanya menganggap diriku seorang Muslim dan tidak pernah mempersoalkan aliran-aliran apapun. Selain itu, aku pun tidak tahu dan tidak pernah mempermasalahkan mengapa aku jadi orang Suni. Yang pasti, asal-usulku adalah lahir di Indonesia dari keluarga Muslim Indonesia.

 

Seorang peserta lain dari Uzbekistan bernama Rashid Gabdulhakov, ketika kusampaikan bahwa namanya bernuansa Islam, ia membenarkan. Nama orang Uzbekistan, katanya, memang mayoritas  bernuansa Islam, karena dulunya Islam pernah jaya disana. Tapi, katanya, itu sekedar nama yang tidak memberi makna tertentu. Lalu, ketika kutanyakan apakah ia seorang Muslim, dengan tegas dijawab bahwa ia bukan seorang Muslim, dan bahkan tidak mengenal agama. Subhanallaah..!!

 

(Geneva, Movember 2015)

Please reload

Our Recent Posts

August 16, 2018

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload

 

©2017 by Adjatmiko. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now